Entah berapa lama Aku tertidur di mobil ini. Yang pasti Aku dibangunkan begitu mobil sampai di area kampus Ciawi Bogor.
“Sena, bangun yuk. Kita sudah sampai nih,” ajaknya saat sudah parkir.
Tangan Mas Adri memegang pundakku dan menggoyangkannya pelan untuk membangunkanku. Mataku langsung membola menyadari keadaan sekitar.
“Maaf Mas, ketiduran. Lama ya tadi,” ujarku mulai membuka mata.
“Ah tidak masalah, pasti kamu kelelahan ya setelah perjalanan jauh hari ini, maklum lah,” jawabnya enteng.
Kami berjalan beriringan, Mas Adri membantuku untuk check in di penginapan yang disediakan oleh pihak kampus Ciawi tempat training kami selama 2 minggu ke depan. Kebetulan sekali kamar kami berdua bersisian di mana kamarku yang paling ujung. Mas Adri sudah check in dari kemaren. Beliau membantu membawakan koperku lagi dan mengantarku sampai depan pintu kamar penginapanku.
“Terimakasih Mas atas bantuannya, Aku masuk dulu ya, lanjutin yang tadi belum sepenuhnya kelar, hihihi,” candaku sambil berpamitan pada Beliau.
“Dasar kamu Sen, tukang tidur. Ups! Okey, kalau ada apa-apa atau butuh bantuan jangan sungkan. Kamarku sebelahan,” sungutnya.
“Njih Mas, siap laksanakan,” ujarku kemudian menutup pintu kamar.
Bogor terkenal dengan kota hujan jadi walaupun beberapa kota masih mengalami kemarau yang panjang, tidak dengan kota ini. Baru 1 malam 1 hari Aku menginap di kamar ini dan hujan deras sudah mengguyur kota ini. Suasana yang sudah dingin menjadi semakin dingin. Aku sudah memakai sweater agar tubuhku lebih hangat. Malam kedua ini aku sendirian di kamar penginapan ini, biasanya aku berdua dengan Mbak Anis. Mbak Anis pulang ke rumah lagi malam ini karena anaknya yang ditinggal di Jakarta sakit demam sejak dia tinggalkan untuk tugas training ini. Akhirnya dia terpaksa pulang dulu ke rumah.
Mataku berusaha terpejam dari tadi tapi tetep tidak bisa tidur. Malam belum begitu larut, Aku melihat jam di pergelangan tanganku masih menunjukkan pukul 21.15. Aku keluar dari kamar, mengunci pintu. Tak sengaja kulihat Mas Adri juga baru beberapa langkah meninggalkan kamarnya. Menyadari keberadaanku di belakang.
“Hai Sen. Tumben keluar?” sapanya sambil menengok ke belakang.
“Iya Mas, tidak tahu ini. Aku tidak bisa tidur. Malam ini berasa dingin banget dan saya sendirian. Mbak Anis pulang ke rumah, anaknya lagi sakit.”
“Mau kutemani.”
“Ehh ....”
“Maksudku mau jalan-jalan, Aku temani gitu?”
“Oh, boleh Mas,kalau tidak keberatan.”
Kami berjalan sambil mengobrol. Belum pernah mengobrol dengan Beliau lama, biasanya ketemu cuma di kantor dan urusan pekerjaan. Setelah menemukan tempat untuk duduk, kami sepakat duduk di ruang santai seperti gazebo yang disediakan kampus Ciawi dan duduk bersebelahan. Hujan masih mengguyur deras. Kilatan petir menyambar-nyambar. Sebenarnya Aku merasa takut, tapi kusembunyikan karena malu.
Malam semakin beranjak, Aku mulai menguap, tanda mengantuk. Setelah perbincangan yang cukup seru, akhirnya kami putuskan untuk kembali ke kamar masing-masing.
Saat aku membuka pintu kamarku tiba-tiba petir menyambar sangat dahsyat hingga menimbulkan seperti bunyi ledakan. Duorr, entah apa itu dan seketika lampu padam. Aku ketakutan dan tanpa sadar Aku menarik lengan Mas Adri dan otomatis Beliau masuk ke kamarku. Padahal niat Mas Adri hanya mengantarkanku sampai depan pintu saja.
Aku memeluk dirinya erat. Aku merasa ketakutan. Bagaimana tidak, petir sahut-sahutan dan lampu mati, gelap sekali. Udara juga dingin sekali. Beliau membalas pelukanku dan mengelus-elus punggungku.
“Maaf Mas, Aku takut. Jangan pergi dulu ya sebelum lampu menyala.”
“I-iya.”
Suaranya terdengar gugup, tidak biasanya beliau seperti ini, mungkin karena lampu padam dan keadaan sekitar gelap sekali.
“Kenapa lampunya tidak menyala-nyala ya Sen, apa tidak ada genset?”
Pertanyaan Mas Adri hanya mengudara karena tidak kutanggapi sama sekali, tapi kupikir hal itu juga benar adanya. Masa area kampus pelatihan sekaligus penginapan sebesar ini tidak ada antisipasi genset. Aku hanya diam saja.
Beliau menyalakan ponsel miliknya untuk bantuan penerangan. Dengan cahaya remang-remang Aku meraba-raba sekitar. Aku berusaha mencari tempat untuk bisa kami duduki. Kami duduk di kasurku, bersebelahan. Aku tidak mau melepas tangan bosku itu, kantukku semakin datang dan tidak bisa kucegah lagi. Tanpa kusadari Aku tertidur di pelukan bosku.
Lampu masih mati dan tidak ada tanda-tanda kapan menyalanya. Nyala lampu ponsel milik Mas Adri mulai meredup karena lowbate. Mas Adri mengira-ngira kalau aku pasti sudah terlelap lalu mencoba membaringkanku di kasur. Dalam nyala lampu ponsel yang samar-samar, Beliau memandangku, Entah apa yang ada di pikirannya. Beliau mengusap wajahku lembut lalu tangannya beralih ke bibirku.
“Kamu cantik sekali Sen,” bisiknya dengan suara serak kepadaku tapi aku tak mendengar karena aku sudah terlelap jauh ke alam mimpi.
Dia mencoba memegang wajahku, menoel-noel pipiku untuk memastikan aku benar-benar sudah terlelap apa belum. Sepertinya Hasrat Mas Adri muncul secara otomatis, Beliau mulai menggerayangi tubuhku. Menggigit telingaku, menjilat-jilat leherku. Kancing sweaterku dia buka perlahan dan kaos yang kupakai dia singkap ke atas. Dalam kegelapan samar-samar terlihat gunung kembarku masih tertutup bra. Dia mulai menelisik kedua tangannya untuk masuk ke dalam bra itu. Mencoba membuka kait bra yang ternyata kaitnya berada di depan. Pas sekali. Dia tambah tergoda. Tangannya berhasil meremas kedua gundukan itu. Memilin dan lidahnya mulai mencecap bagian itu. Mencium dan menghisap pu****gku. Aku menggeliat merasakan sensasi aneh, tapi aku tidak membuka mataku. Sepertinya aku bermimpi.
Dia mulai menciumiku, lidahnya menerobos masuk ke mulutku. Menggigit bibir atas bawahku, melilit dan mencecap lidahku. Tanpa sadar Aku mendesah dan Beliau tambah semangat menggerayangiku. Tangannya terus menari-nari di tubuhku. Tanpa sadar Aku menggelinjang indah.
Entah sudah berapa lama beliau melakukan itu sampai pada akhirnya lampu menyala dan Aku membuka mataku. Beliau kaget sekali.
Aku belum begitu menyadari, Aku masih mengumpulkan nyawa dan mengingat-ingat apa yang sebelumnya terjadi. Begitu Aku sadar ada yang salah, Aku segera duduk dan langsung menyilangkan kedua tanganku di dadaku. Menutupi dua gundukanku yang terpampang nyata. Bajuku acak-acakan. Oh tidaak ....
“Apa yang Mas Adri lakukan. Dasar baji***an, breng**k, sialan!” Aku berteriak mencoba untuk memukulnya saat Beliau mendekatiku dan menutup mulutku dengan telapak tangannya.
“Maaf Sen, jangan keras-keras. sabar-sabar ya. Nanti didengar orang. Maafkan Aku,” mohonnya penuh sesal dan menyatukan kedua telapak tangannya.
Aku langsung menampar wajahnya. Aku geregetan dan Aku sangat marah. Berani-beraninya dia melecehkanku. Aku segera memasang bra ku lagi, merapikan kaosku dan memakai sweaterku kembali.
Aku mengacak dan meremas rambutku penuh frustrasi. Aku menangis. Aku menjaga jarakku agar lebih jauh darinya. Beliau langsung mendekatiku lagi dan memelukku erat. Aku berusaha melepaskannya tapi tidak bisa, tenagaku tidak terlalu kuat dibandingkan dirinya. Dia semakin mengeratkan pelukannya kepadaku.
“Maafkan Aku. Janji, Aku takkan mengulanginya. Percayalah. Maaf Aku khilaf,” mohonnya lagi kepadaku terus dan berulang-ulang, kali ini dia berlutut di depanku.
“Keluar, kubilang keluar dari kamarku sekarang, aku ingin sendiri, b******k!” pekikku penuh emosi.
“Sen, maafkan aku. Ok, ok, baik Aku keluar ya. Tapi Aku mohon maafkan Aku.” Mas Adri mulai beranjak menjauh dari sisiku dan keluar dari kamarku. Langsung kututup dan kukunci pintuku. Aku berbalik dan merosotkan badanku sambil bersandar di pintu, penuh frustrasi. Menangis sendiri.
Mas Adri juga belum beranjak dari depan kamarku. Pandangannya kosong. Berdiri dan kemudian membelakangi pintu. Bersandar di pintuku.
“Oh Tuhan, apa yang sudah Aku lakukan. Maafkan Aku, Sen. Aku tidak bermaksud seperti itu,” sesalnya atas apa yang sudah terjadi.
Setelah kejadian itu Aku dan Beliau tidak bertegur sapa lagi. Setiap hari ada chat permintaan maaf dan telepon dari Beliau yang tidak pernah Aku gubris. Aku mencoba menghindarinya walaupun kami satu ruangan pelatihan dan kamar kami bersebelahan. Beberapa kali Beliau menghampiriku tapi Aku selalu berhasil menghindarinya.
Usahanya begitu keras untuk mendapatkan maaf dariku dan akhirnya lambat laun Aku memaafkannya dan berusaha keras melupakan kejadian itu. Kejadian itu memang bukan murni 100% kesalahannya tapi juga Aku yang salah. Tidak akan ada niat kalau tidak ada kesempatan. Aku yang terlalu bodoh.
Hari ke 5 di Ciawi.
Jumat merupakan hari training terakhir di minggu pertama karena Sabtu dan Minggu adalah hari libur, jadi peserta training diberikan waktu libur, terserah mau dipakai untuk apa misal jalan-jalan atau berwisata ke puncak maupun lokasi lain.
“Sena, jangan lupa nanti malam kita diundang ke farewell party nya Dona. Kita berangkat bareng ya,” ajak beliau mensejajarkan kaki untuk menuju ke kamar kami masing-masing.
Malas rasanya, sebenarnya kalau boleh, lebih baik aku tidak datang. Benci rasanya saat harus datang ke acara farewell party seperti itu, apalagi yang diadakan di sebuah club eksklusif, pastinya akan banyak asap rokok yang sering membuatku sesak nafas! Belum lagi dengan lampu yang berputar-putar dan suara musik yang begitu bising membuatku langsung stres meski baru beberapa detik menjejakkan kaki di tempat seperti itu! Walaupun aku belum pernah ke tempat seperti itu tetapi aku tahu dari teman-teman Solo yang pernah ke tempat seperti itu.
“Um bagaimana ya Mas, tapi aku tidak membawa baju sama sekali untuk ke acara seperti itu. Lagian dari awal sebelum berangkat juga tidak ada pembicaraan atau undangan ini. Aku gak ikut saja ya,” tolakku sambil menggelengkan kepala.
“Untuk urusan baju mah gampang, nanti sebelum sampai tujuan, kita mampir ke toko atau butik dulu gimana? Tenang, sebagai wujud permintaan maafku nanti Aku bayarin deh. Penting Kamu datang ya. Gak enak udah diundang. Lagian peserta training terjauh kan cuma kita, lainnya rumahnya deket-deket, cuma Jakarta, Bandung sama Bogor saja,” bujuknya lagi.
“Um, gimana ya Mas. Aku gak biasa di acara-acara begituan. Ntar Mas Adri malu lagi ngajak Aku. Aku udik tahu,” elakku.
“Ah kau ini mana kelihatan kalau belum pernah ke sana. Tenang, kan ada Aku. Ntar ngekorin Aku saja ya. Penting datang,” imbuhnya.
“Ya udah deh, iya in,” jawabku pasrah.
Mas Adri langsung tersenyum manis dan masuk duluan ke kamarnya. Setelah itu Aku baru masuk ke kamarku yang sebelahan sama Beliau.
19.15.
Akhirnya kami berangkat ke acara itu. Sebelum sampai lokasi, seperti kesepakatan sebelumnya kami mampir dulu di toko langganan Mas Adri. Beliau asli Jakarta makanya familiar dengan semua yang ada di Jakarta. Aku bingung memilih dan harus pakai baju seperti apa. Tanpa diduga si Denok salah satu temen training kami ternyata di toko yang sama dan juga lagi mencari baju buat party ini. Kebetulan sekali pikirku. Akhirnya kami berbincang sebentar sambil memilih baju-bajunya. Entah ini kebetulan atau keberuntungan atau kesialan buatku. Yang pasti aku ada teman untuk berbagi pendapat, urusan lain bodoh amatlah.