Baju Kurang Bahan

1014 Words
“Jreng jreng jreng!! Lo harus pake dress ini! Cantik banget dressnya,” tunjuk Denok dengan menjembreng sebuah dress. Aku terbelalak melihat dress yang ada di depan mataku. Berwarna hitam dengan model Sabrina yang pasti akan menampilkan leher dan juga tulang selangkaku secara cuma-cuma! Belum lagi panjangnya yang hanya sebatas paha! Ya Tuhan! Itu baju kurang bahan amat ya. “Enggak-enggak, yang bener saja aku harus pakai baju ginian. Gila...Yang ada aku jadi santapan mata-mata buas di sana, Nok. Elo saja kali yang pakai ini, setidaknya elo sudah terbiasa memakai baju model ginian!” Aku mengabaikannya dengan mencari baju-baju model lain lagi, berharap ada yang lebih bagus dan sopan. Setelah berulang kali tetep tidak ada baju seperti yang kuinginkan. Semua baju yang dijual di sini kurang bahan semua. Huft. “Ah elo gak asyik. Gue mah milihin yang pas buat elo. Liat deh yang lain malah lebih parah. Gak cocok buat lo. Jangan terlalu banyak mikir. Udah ambil saja, aku ambil yang ini. Lebih menggoda dan menantang kan? Awas saja, jangan sampai malu-malu in divisi kita, secara ini party kan emang yang datang dari perusahaan kita semua Sena. Tunjukin kecantikan dan kesexian kita. Kapan lagi ada party ginian,” cibirnya sambil monyong-monyong gak jelas. Denok lebih memilih mini dress tali spaghetti yang panjangnya juga sebatas paha. Lebih sexi dan panas. Dia memilih warna yang sama yaitu warna hitam, biar kembaran sama aku katanya. Sesuai dengan karakter Denok yang cantik, berani, sexi dan selalu percaya diri. Denok ini selama training di Ciawi Bogor langsung akrab denganku. Denok adalah staff customer service di cabang Tanah Abang Jakarta. Masa kerjanya di perusahaan ini hampir sama denganku yaitu 2 tahun lebih. Pembawaannya yang ceplas-ceplos dan cantik memudahkan dia membaur ke semua orang, termasuk aku. Walaupun dia dari cabang Jakarta, dia sering bolak-balik rumah walaupun dari pihak kampus juga sudah menyediakan penginapan untuknya maupun teman lain walau rumah mereka juga dekat. Tetapi tetap diperbolehkan untuk laju. “Enggak deh. Aku Malu sekali, jika harus memakai baju ini, secara aku berangkat bareng Pak bos. Iiiih mau dikemanakan mukaku ini nanti! Mana baju ini, beliau ntar yang bayarin. Tambah gak tahu malu saja aku pikir! Ntar bosku pikir aku gadis penggoda,” elakku terus, berharap Denok menyerah dalam membujukku. “Ya udah deh,serah. Gue bilang ya, elo kalau pakai gini bakalan tambah cantik banget. Suerrr. Tidak kelihatan kalau berasal dari mana itu, oh ya Solo yang terkenal orang-orangnya kalem kayak putri keraton. Yang ada bos elo itu klepek-klepek dan gak bakal ninggalin elo sedetik pun mulai sekarang. Dengan senang hati malah dia bayarin ini baju. Yuk, buruan. keburu telat. Bentar lagi acaranya dimulai. Yakin!! Gak usah kebanyakan mikir. Pokoknya sip banget kalau elo yang pakai. Titik gak pakai koma apalagi tanda pentung atau itu apa tanda petik walik, hahahaha,” bujuknya terus-menerus sambil mencoba baju yang dipilihnya. Denok malah tertawa kenceng bikin aku senewen dan malu. Ih sebel. Ternyata Denok pantang menyerah dalam membujukku. “Sepertinya bosmu itu naksir elo deh Sen, firasatku mengatakan setelah ini kalian bakal jadian. Pepet terus dong Sen. Bos tampan begitu jangan dianggurin, takutnya diambil orang lain. Baru deh elo tahu rasa.” “Nok, kok ngomongnya malah ngelantur gini. Naksir aku dari mana? Enggak mungkin. Aku gak mungkin masuk kriteria seleranya.” “Ih, dibilangin juga gak percaya. Gue perhatiin saat dia natap elo itu beda. Yakin. Udah deh pokoknya ambil ini baju ya. Kembaran warna sama aku. Biar kita jadi sorotan. Jadi pusat perhatian gitu deh. Siapa tahu cepet naik pangkat.” “Gila lo Nok. Ya udah deh, Iya in,” balasku, menyerah kalah debat. Setelah perdebatan yang lumayan mbulet panjang kayak rel kereta api, mau gak mau aku memilih baju ini. Pelayan toko sudah menunggu dari tadi. Tidak enak juga kalau tidak jadi diambil, apalagi dari tadi cuma aku dan Denok yang heboh sendiri. Daripada sebentar lagi ditegur mending aku mengalah. Aku langsung memakai baju kurang bahan ini, begitupun dengan Denok. Aku berganti baju di ruang ganti toko sekalian mengoleskan make up tipis-tipis, agar terlihat natural tetapi tetep cantik dan segar. Jadilah aku seperti sekarang ini. Baju yang sebelumnya kupakai aku taruh di paperbag. “Nih, Bos Adri, Sena kelihatan beda banget kan ya. Suerr bikin pangling, cantik banget kan. Awas saja pulang dari party ini si bos ntar nempel terus kayak perangko. Jangan ditinggal ya. Titip temanku yang cantik satu ini,” tunjuk Denok sambil kedip-kedip kayak habis kelilipan. Mas Adri melihatku tanpa berkedip dan tersenyum. Entah apa yang dipikirkannya. Ah, Sebenernya aku malu. Gak pernah pake baju seperti ini. Sambil berdehem beliau menganggukkan kepala tanda setuju. Setelah itu beliau menuju kasir dan membayar baju yang langsung tak pakai ini. Denok membawa mobil sendiri. Aku dan Pak Adri menuju ke parkiran dan segera masuk ke mobil. Suasana jadi terasa lebih canggung, aku memilih untuk diam. Kulihat Mas Adri tidak terlalu fokus menyetir, sempet melirik curi-curi pandang dan berdehem saja. Aku melihat jalanan di samping kiri, menikmati pemandangan sepanjang jalan yang kami lewati untuk menghindari kecanggungan ini. Musik mulai dinyalakan membuat suasana lebih nyaman dan tidak terlalu canggung seperti sebelumnya. Rasanya pingin menghilang saja, seandainya ada pintu Doraemon atau ada yang sejenisnya aku mau. Iiiiiiiih nyebelin banget. “Sena, gak usah malu. Malam ini kamu cantik banget. Makasih ya, udah mau datang ke pestanya Dona bareng aku,” bujuknya. “Ah, Mas Adri bisa saja. Malu aku Mas, secara baru pertama kali pake baju kurang bahan gini,” jawabku melihat ke arah lain, tidak berani melihat ke arahnya. Malu. “Namanya juga party di club, ntar ya tamu-tamunya gak jauh beda bajunya. Masa harus pakai gamis dan kebaya. Kan gak lucu juga Sen. Udah santai saja, gak usah malu. Okey,” jelasnya kemudian. “Iya Mas. Terimakasih ya,” ujarku. “Seperti yang dibilang Denok tadi. Kamu cantik. Harus percaya diri ya.” Kami kembali terdiam lama. Mobil terus melaju dan untungnya tidak ada kemacetan yang berarti. 15 menit kemudian akhirnya kami sampai di lokasi, mencari lokasi parkir yang sepertinya sudah lumayan penuh. Setelah muter-muter sejenak, akhirnya dapat parkir juga, Mas Adri dan aku segera keluar dari mobil dan menuju ke club.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD