“Diandra, cukup!” Mas Adri berusaha melepaskan diri dari tarikan tangan Diandra. “Kak Adri, kamu tega ya.” Pekik Diandra memukul-mukul d**a bidang Mas Adri. “Di, apa maksudmu? Jangan ngaco kamu!” rutuk Mas Adri. “Kak, apa sih yang kurang dari aku. Aku harus bersabar seperti apalagi?” Diandra menangis tersedu. “Di, cukup Di. Menyerahlah, Aku tak bisa Di. Aku hanya menganggapmu seperti adikku. Sama seperti Elsie dan Alice. Tidak lebih.” Elak Mas Adri tegas. “Aku tidak mau Kak, Aku mencintaimu. Aku ingin Kakak memperlakukan Aku seperti seorang wanita dewasa. Aku ingin menjadi pasanganmu Kak. Tidakkah cukup aku berubah selama ini. Aku sudah cantik Kak, tidak seperti dulu.” “Sadarlah, Di. Aku tidak bisa. Aku mencintai Sena dan Aku akan menikahinya.” “Tidak Kak, Aku tidak akan membiarkanm

