Part. 10

1371 Words
Author POV Sung Yong menggendarai mobil Audi-nya dengan santai di jalan padat akan penduduk kota Jakarta. Ya, Sung Yong lebih memilih untuk mengendarai mobil Audi miliknya daripada mobil sport keluar terbarunya yang dia yakini tidak akan muat untuk mereka berempat. Yeol dan Jean berceloteh sepanjang jalan, membuat Sung Yong tersenyum, sedangkan Sarah terus saja terkekeh geli. Sung Yong membukaan pintu untuk Sarah dan juga kedua malaikatnya saat mereka sudah sampai di salah satu restoran keluarga milik sahabatnya. Sung berjalan sambil mengandeng tangan Sarah erat, sedang satu tangannya lagi digunakan untuk mengendong putra keduanya, Jean. Sarah berjalan masuk sambil menunduk kepadanya malu. “Angkat kepalamu. Tunjukkan pada semua perempuan di sini bahwa kau adalah calon istri dari Kim Sung Yong,” bisik Sung Yong. Sarah hanya menganggukkan kepalanya dan menggangkat tinggi-tinggi dagunya angkuh, membuat Sung Yong tersenyum kecil dan menatap tajam pada kumpulan wanita yang berani menatap wanitanya jijik. Sung Yong menggeser kursi untuk Sarah, membuat mata semua wanita yang berada di sana menatap iri pada Sarah, sedang Sarah sendiri menundukkan kepalanya malu, menyembunyikan rona merah di kedua pipi chubby-nya. Sung Yong hanya tersenyum kecil membalas ucapan terima kasih dari Sarah. Sarah duduk dengan canggung saat pantatnya sudah menyentuh kursi mewah beraksen keemasan yang diyakini Sarah sangat mahal hanya untuk satu buah kursi saja. Sarah memandang langit-langit kamarnya sambil tersenyum sendiri mengigat perlakuan manis Sung Yong padanya. Sedang Sung Yong hanya tersenyum kecil mengingat wajah dan senyum manis Sarah, membuat dirinya b*******h dan begitu menginginkan tubuh Sarah berada di ranjangnya, di bawah tubuhnya sambil mendesah nikmat. “s**t!” umpat Sung Yong keras. Bagaimana bisa dia memikirkan gadis gendut yang sama sekali bukan tipenya. Tapi tubuh Sarah benar-benar sudah membuat gila dan sesak di bagian selangkangannya, karena adik kecilnya yang selalu terbangun saat dia memikirkan Sarah. Sung Yong menoleh ke belakang dan melihat kedua putranya yang tertidur dengan nyenyak tanpa merasa terganggu oleh umpatan kasar serta pikiran kotor yang sekarang bersarang di kepalanya. Sung Yong berusaha menghilangkan pikiran kotornya tentang tubuh Sarah dan fokus pada jalan raya kota Jakarta yang masih padat oleh para pengendara walaupun sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dia menggendarai mobilnya dengan kecepatan sedang ke arah kompleks perumahannya. Suara dentuman musik keras terdengar sangat memekik telinga siapa saja yang mendengarnya, tapi tidak dengan mereka, orang-orang yang ada di dalamnya. Bau aroma s*x dan asap rokok memenuhi setiap sudut ruang club malam yang terkenal di ibu kota Jakarta. Begitu pula dengan seorang pria berkebangsaan Korea yang sedang duduk santai di meja bartender sambil meminum minuman alkoholnya. Sung Yong meminum Vodka-nya dengan santai, sambil menikmati satu batang rokok. Pukulan cukup keras membuatnya menoleh pada sang pelaku. Sung Yong mendesah kesal melihat wajah tak berdosa dari ketiga sahabatnya. Dia meminum Vodka-nya lagi tanpa mempedulikan ketiga sahabatnya itu yang sudah mencibir kesal ke arahnya. “Kok lu tumben ke sini?” tanya Lee Gi Wook, sahabat Kim Sung Yong sekaligus pria berkebangsaan Korea. “Tumben kau suruh kita ke sini,” ucap Taiki, sahabat Kim Sung Yong sekaligus pria berkebangsaan Jepang. “Gua mau nikah,” ucap Sung Yong tiba-tiba, membuat Rio, sahabatnya yang berasal dari Indonesia tersedak Vodka yang baru saja masuk ke dalam tenggorokannya. Taiki menepuk punggung Rio berkali-kali saat sahabatnya itu terbatuk-batuk tersedak minuman. “Lu becanda, ya? Lu aja ga bisa hilangin bayang-bayang mantan pacar lu, Jesi,” kata Lee Gi Wook datar. Sung Yong menatap tajam sambil mengepal erat kedua tangannya yang berada di atas meja. Sung mengalihkan pandangannya dari sahabatnya dan memesan salah satu p*****r tercantik di sana. Sung Yong menyeret primadona bernama Clara itu ke lantai atas, yang tidak lain adalah kamar hotel yang disediakan oleh pihak club malam. Sung Yong melumat kasar bibir ranum Clara, yang sudah dipoles pewarna merah sehingga membuat wanita itu terlihat sangat seksi. Sung Melepaskan pakaian dengan cepat dan begitu juga dengan Clara. Clara memandang tubuh Sung Yong kagum dengan otot-otot perut dan juga tangannya yang terlihat sangat kekar dan besar, membuat para wanita berebut untuk menyentuhnya. Sung Yong memasukkan penisnya ke dalam vagina Clara yang belum siap sama sekali hingga membuat wanita cantik itu menjerit sakit. Sung Yong tidak peduli dan terus saja menghunjamkan penisnya dengan kasar dan cepat hingga membuat Clara kewalahan. Sung Yong bermain begitu kasar tanpa pemanasan terlebih dahulu, membuat kejantanannya sedikit merasa keset dan nyeri, tapi seakan-akan tidak peduli dia terus saja menghujani penisnya dalam-dalam hingga menyentuh dinding rahim Clara. Sung Yong menggeram keras dan mengeluarkan penisnya dari v****a Clara dan mengeluarkan semua spermanya di atas perut Clara. Sung Yong turun dari ranjang dan memakai kembali pakaiannya dengan cepat. “Kau akan langsung pergi?” tanya Clara manja. “Hmm,” jawab Sung Yong yang hanya berupa deheman. “Ambil itu untukmu,” ucap Sung Yong dingin sambil melemparkan uang seratus ribuan sebanyak 30 lembar. Clara mengambil dengan senang hati, membuat Sung Yong mengendus jijik melihatnya. Sung Yong berjalan ke arah pintu keluar. Bukannya berjalan menuju ke sahabatnya, dia malah berjalan ke arah parkiran club. Sung Yong mengendarai mobilnya dengan gusar. Bagaimana bisa dia mendapatkan klimaks saat membayangkan tubuh montok Sarah yang berada di bawahnya. “s**t! Aku benar-benar bisa gila,” kata Sung Yong frustasi. Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela rumah kontrakan kecil, membuat wanita berbadan montok itu menggeliat pelan. Sarah membuka matanya dengan terpaksa saat sinar matahari pagi menganggu tidurnya, membuat wanita berbadan berisi itu melenguh kesal. Ia turun dari ranjang dengan tidak ikhlas dan berjalan ke arah kamar mandi, menuntuskan kewajiban paginya. Sung Yong mengendarai mobil Audi-nya ke rumah kontrakan Sarah. Rencana mereka hari ini akan pergi ke kampung halaman Sarah di Bandung. Yeol dan Jean berteriak senang saat Sung Yong memberi pada mereka akan pergi menemui kakek dan nenek dari mommy-nya. Sepanjang jalan Yeol dan Jean tidak ada henti-hentinya berceloteh ringan tentang seperti apa kampung halaman dan jaga nenek-kakek mereka nanti. Sung Yong memarkirkan mobilnya di lapangan dekat rumah kontrakan Sarah. Sedang kedua putranya itu sudah berteriak senang sambil berlari masuk ke dalam rumah kontrakan Sarah. Sung Yong hanya menggelengkan kepala melihat betapa antusiasnya kedua putranya. “MOMMY!” teriak Yeol dan Jean senang. “Daddy, Mommy mana?” tanya Jean bingung, pada Sung Yong yang baru masuk ke dalam rumah kontrakan Sarah. “Ga tahu. Daddy cari Mommy dulu, kalian tunggu aja di sini sebentar, ya, Boy,” ucap Sung Yong sambil mengelus lembut rambut hitam kedua putranya. Sung Yong terpaku di depan pintu kamar Sarah, saat melihat Sarah yang baru keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit tubuh montoknya, membuat Sung Yong menggeram kuat. Sarah mengerakkan tubuhnya tanpa sabar bahwa kedua mata tajam Sung Yong menatapnya lapar. Sarah membalikkan badannya saat merasa tatapan tajam di balik punggung lebarnya. “KYYAA!” teriak Sarah kaget saat melihat Sung Yong berdiri di depan pintu kamarnya. Sung Yong mendekap mulut Sarah agar teriakan Sarah tidak terdengar oleh kedua anaknya, Sung Yong berbisik dengan serak di telinga Sarah membuat bulu kuduk Sarah berdiri. “Kau ingin mengodaku, Sayang?” bisik tanya Sung Yong serak sambil memeluk erat pinggang lebar sarah. Sarah mengelengkan kepada cepat membuat Sung Yong terkekeh geli. Sung Yong melepaskan pelukannya dan melumat lembut bibir Sarah, membuat mata Sarah terbelalak lebar. Sung Yong melepaskan lumatan bibirnya dan mengelus lembut bibir bawah Sarah. “Ini sangat manis,” kata Sung Yong serak, terdengar sangat seksi di telinga Sarah. “Cepat pakai bajumu dan kita akan pergi ke rumah orangtuamu. Ayahku akan melamarmu untukku,” kata Sung Sambil berjalan ke arah pintu kamar. “Tunggu. Aku tidak bisa menikah denganmu,” kata Sarah tiba-tiba membuat Sung Yong berhenti dan membalikkan badannya dengan wajahnya yang sudah memerah marah. “APA?! Kenapa tidak?” tanya Sung dingin. Dadanya sudah naik-turun menahan gejolak emosi. “Karena kamu tidak mencintaiku,” kata Sarah pelan menahan laju air matanya. Sung Yong menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan emosi agar tidak menyakiti Sarah. Sung Yong berjalan mendekati Sarah dan menggenggam tangan Sarah. “Bagaimana kalau aku bilang aku mencintaimu, apa kau akan percaya?” kata Sung Yong lembut sambil mengecup jari-jari tangan Sarah mesra. Kedua mata Sarah terbelalak mendengar pengakuan Sung Yong, ‘Tidak ... Tidak mungkin dia mencintaiku. Kami bahkan baru saja bertemu, bagaimana bisa dia jatuh cinta padaku?’ pikir Sarah. Sarah mengelengkan kepada berkali-kali, membuat Sung Yong mengerutkan keningnya bingung. ............. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD