Part. 8

655 Words
Author POV Sarah duduk dengan gugup di depan kedua sahabatnya, Inna dan bebi. “Kamu ngapain nyuruh kita ke sini, Sar?” tanya Merlin. “Aku mau kasih tahu kalian sesuatu,” kata Sarah pelan. Anni dan Marlin saling bertukar pandang satu sama lainnya dan setelah itu memandang bingung Sarah. “Gua mau nikah,” kata Sarah tiba-tiba, membuat Bebi yang sedang meminum air langsung menyembur keluar dari dalam mulutnya. APA?!” teriak Marlin dan Anni bersama membuat Sarah meringis kecil sambil menutup kedua kupingnya. “Mak Jang, mau kawin sama siapa kau?” tanya Marlin heboh dan tidak lupa logat Batak-nya. “Hei, Batak, biasa aja mane teh,” kata Anni kesal dengan logat Sunda-nya. “Sok, cerita mane teh sama aing,” lanjut Anni serius pada Sarah. Sarah menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk bicara pada kedua sahabatnya itu. “Aku mau nikah sama pria bernama Kim Sung Yong, ayah dari Yeol dan Jean,” kata Sarah membuat kedua mata sahabatnya melebar sempurna. “Kim Sung Yong, OMG gila ... Gila, lu mau nikah sama The Most Wanted Billionaire di kalangan pengusaha!” kata Anni heboh, sedangkan Marlin masih membuka mulutnya lebar-lebar saking kagetnya. The Most Wanted Billionaire?” tanya Sarah Bingung. “Iya, Kim Sung Yong itu pengusaha muda yang termasuk ke dalam jejeran orang-orang billionaire di kalangan pembisnis dunia,” jawab Marlin santai, membuat lidah Sarah kelu terdiam, tidak dapat mengeluarkan suaranya. Sarah terdiam sambil memilin jari-jari tangannya gugup. Bagaimana bisa gadis kampung seperti dirinya menikah dengan pria hebat dan terkenal seperti ayahnya Yeol dan Jean. Sarah menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyadari ketidakpantasannya bersanding seorang Kim Sung Yong. Sung Yong memimpin rapat dengan datar dan tegas, membuat para karyawan wanita di perusahaan menatap kagum padanya. “Baiklah, saya rasa rapat ini akan saya tutup. Terima kasih atas kerja samanya,” ucap Sung Yong dingin dan datar, sambil berdiri dari kursi kebesarannya dan merapikan jasnya yang sedikit berantakan saat dia duduk tadi. Sung Yong melangkah keluar dari dalam ruang rapat dan sesekali berdehem pelan, membalas sapaan para karyawannya. Sedangkan Hary, sekretaris pribadinya itu, masih dengan setianya mengikuti langkah kakinya yang mengarah ke arah ruang kerjanya. Sarah, Yeol, dan Jean pulang dengan lelah dan langsung merebahkan diri di atas kamar usang miliknya. Sarah memandang langit-langit kamarnya sambil memikirkan kata-kata yang tepat untuk bicara pada ibu dan ayahnya nanti. Suara HP jadul miliknya membuyarkan lamunannya. Sarah mengangkat sambungan telepon di HP itu dengan malas tanpa melihat nama si penelepon terlebih dahulu. “Kita akan pergi ke kampungmu hari Selasa depan,” kata Sung Yong tiba-tiba di seberang sana tanpa sapaan terlebih dahulu. “Ha?” balas Sarah kaget. Sung Yong memutar matanya malas, bagaimana bisa dia akan menikah dengan wanita yang otaknya hanya seujung kuku. Aku bilang bahwa kita akan ke kampungmu hari Selasa depan, Sarah,” kata Sung berusaha untuk sabar. Sarah menganggukkan kepalanya walaupun dia yakin bahwa Sung Yong tidak dapat melihat anggukan kepalanya. “Iya, baiklah,” balas Sarah. “Bagus kalau kau mengerti,” balas Sung Yong datar dan langsung mengakhiri sambungan teleponnya. “Benar-benar tidak sopan,” kata Sarah kesal. Sarah bangun dari ranjang kecilnya dan berjalan ke arah kamar mandi sambil menggerutu kesal dan mengutuk Sung Yong dengan amat kejam. Sedangkan Yeol dan Jean hanya memandang bingung ke Sarah, setelah itu menggangkat bahunya acuh. Sung Yong tersenyum kecil membayangkan wajah kesal Sarah yang menurutnya sangat menggemaskan itu. Hary menatap bingung pada Sung Yong yang tersenyum sendiri benar-benar membuat Hary bergerik ngeri melihat tingkah aneh Sung Yong. “Kosongkan jadwalku hari Selasa depan,” kata Sung Yong datar dan hanya dibalas anggukan kepala kaku oleh Hary. Sung Yong berjalan ke arah pintu keluar dan masuk ke dalam lift ke arah basmen. Sung Yong mengendarai mobil sport-nya ke arah rumah Sarah sambil tersenyum lebar. Entah kenapa hatinya senang hanya memikirkan tentang Sarah. Jantungnya berdengung kencang, membuatnya sedikit merasa nyeri, tapi bukan nyeri sakit melainkan nyeri bahagia dan gugup. .......... TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD