Chap. 5 - Decision

960 Words
Kembali ke saat ini... *** Hari ini Amy libur. Amy ingin sendirian saja. Pagi hari Amy bangun dan menyiapkan sarapan. Ketukan di pintu membuat Amy agak terkejut...harusnya tidak ada yang mengganggunya. Pintu terbuka dan... "Hai sweetheart...!" Seorang lelaki menyapa Amy. "Daren! Sahut Amy agak kaget. "Ada apa? Tanya Amy agak culas. Amy tidak pernah membawa masuk siapapun ke kosnya. "Aku ingin sarapan bersamamu. Ayolahh..." kata Daren. Daren menarik tangan Amy. Mereka turun dan pergi ke tempat makan yang dekat dengan tempat kos Amy. Sangat banyak tempat makan di daerah itu. Amy tidak banyak berbicara saat mereka menikmati sarapan. Amy hanya tidak menduga Daren akan datang begitu saja tanpa memberitahunya lebih dulu. Amy selalu menyediakan waktu untuk dirinya sendiri. Pekerjaan Amy tidak hanya satu. Tiga kali dalam seminggu Amy akan bekerja di restoran. Dan tiga hari lainnya Amy akan kerja freelance. Entah kerja jaga konter buku ataupun kerja lainnya. Dan ada satu hari dimana Amy hanya akan bermalas - malasan di kosnya. Daren menatap Amy, di ulurkan tangannya dan membelai pipi Amy lembut. Ada rasa sayang, rasa butuh akan Amy. Amy tidak bergeming walau di perlakukan seperti itu. Amy agak menolak untuk memikirkan perasaannya sendiri. Amy tidak ingin merasa membutuhkan orang lain. Yang Amy inginkan hanya hidup dan menjalaninya saja. Se simple itu. Selesai sarapan Daren mengajaknya jalan - jalan menyusuri pantai, sambil memegang erat tangan Amy. Amy membiarkan tangannya di pegang Daren. Tanpa di sadari Amy, jantungnya berdegup kencang. Menikmati pagi hari di tepi pantai. Tidak sedikit orang - orang berdatangan, ada yang sedang jogging, ataupun ada yang hanya duduk di tepi pantai melihat keindahan ciptaan yang Maha Kuasa. Akhirnya mereka duduk di tepi pantai, tidak sekalipun Daren melepaskan tangan Amy dari genggamannya. Pasir di tepi pantai itu halus dan putih. Amy mengorek - ngorek pasir dengan tangan satunya. Ada jeda panjang yang terjadi saat itu. Kedua insan menatap lautan di depan tanpa bersuara. Saat matahari mulai terik, Amy berdiri di ikuti Daren. Mereka berjalan sampai kosannya Amy. Daren agak tidak ingin berpisah dengan Amy secepat itu. Di depan tempat kos Amy, Daren hanya dapat melepaskan genggaman tangannya. Daren mengecup kening Amy sejenak dan tersenyum lembut. Lalu Daren beranjak pergi tapi Amy menahan lengan Daren. Daren terkesiap dengan tingkah laku Amy. Tidak biasanya. "Kau mau masuk? Uh.. maksudku. Kita dapat berbicara di dalam. Hari ini aku libur dan tidak ada rencana apapun. Daren ternganga mendengar kata - kata Amy barusan..bahkan mulutnya masih terbuka lebar agak lama. "Itupun kalau kau mau." Timpal Amy malu - malu. "Hmmm aku.. ehh oke. Baiklah. Aku juga uhh.. tidak ada rencana lain." Jawab Daren gugup. Kosan Amy begitu rapi walaupun kecil dan bersih. Amy selalu rajin untuk membersihkan dan merapikan. Ruangan itu hanya muat 1 buah kasur, meja makan kecil, kursi makan dan sofa dekat jendela. Kamar mandi di samping kiri. Ada dapur seadanya dekat meja makan. Daren menatap sekeliling agak bingung. Bagaimana makhluk jelita ini dapat bertahan hidup di tempat kecil begini. Daren heran. "Aku suka kamar ini. Walaupun kecil tapi aku betah tinggal di sini." Jawaban Amy seperti menjawab pertanyaan dalam hati Daren. "Duduklah." Kata Amy "Baiklah." Daren berjalan ke sofa dekat jendela. Amy memasang kipas angin dan Daren tersenyum saat mendengar suara kipas tersebut. Dalam hati Daren berbicara. "Anak orang kaya lalu hidup seperti ini..sulit di percaya. Di atas meja makan masih ada sisa sarapan Amy tadi pagi, secepat mungkin Amy langsung membereskan. Takut semut barangkali. Amy ikut duduk di sofa. Dan mereka berbincang - bincang. Kadang Amy tertawa, kadang keduanya sama - sama tertawa. Ada perasaan hangat dalam hati Amy saat ini. Namun Amy menyembunyikan perasaannya. Mereka larut dengan obrolan mereka sampai siang. Tiba - tiba perut Daren berbunyi, dan Amy tertawa saat mendengar suara perut itu. Canda tawa mulai menghiasai kamar Amy. Dulunya sepi dan hening, namun saat ini seperti ada penghuni di dalam. Para penghuni di kos - kosan itu juga agak kaget saat mendengar gelak tawa Amy di kamarnya. Mereka turut senang mendengarnya. Amy membuat makan siang spesial untuk Daren. Mereka berdua makan dengan lahap. Selesai makan, Daren membantu mencuci piring dan Amy mengeringkan piring tersebut. Mereka kembali duduk di sofa. Saling menatap. Lalu Daren meraih Amy ke pelukannya. Tidak tunggu sejam mereka berdua tertidur pulas di sofa saling berpelukan. Terasa tentram dan damai hati Amy. Bolehkah perasaan ini muncul? Amy bertanya dalam hatinya sendiri. Daren bangun saat matahari sudah turun, kaget karena ada seseorang di pelukannya. Di angkatnya tubuh Amy dan di baringkan di kasur. Perlahan mata Amy terbuka. Dan sebelum Daren melepaskan tubuh Amy seutuhnya, Amy melingkarkan tangannya di leher Daren dan di kecupnya sekilas bibir Daren. Dalam hitungan menit Daren dan Amy sudah polos di tempat tidur. Daren menindih tubuh Amy dan Amy menerima Daren seutuhnya. Tanpa paksaan ataupun permintaan. Amy memberikan tubuhnya. Bahkan hatinya. Tapi Amy seakan tidak mau tahu dengan hatinya itu. Di pikiran Amy, mungkin saja Daren memang ingin tidur dengannya. Dan Amy mengambil inisiatif duluan. Di tatapnya mata Amy lekat - lekat. Daren ingin melihat raut wajah Amy saat penyatuan tubuh mereka, namun Daren tidak dapat mengetahui apakah Amy menyukainya, ataukah memang hanya ingin tidur dengannya. Bagaimana tidak, banyak wanita yang rela melakukan apapun untuk Daren. Banyak yang antri untuk dapat bercinta dengannya. Daren bukan laki - laki polos dan lugu, ia pun memiliki sisi gelapnya. Dan kehidupan ranjangnya selalu panas. Namun untuk seorang Amy, Daren merasa sesuatu yang lain. Melindungi dan menjaga. Itu yang saat ini ada dalam hati Daren. Ia ingin melindungi gadis ini, yang saat ini sedang merintih di bawahnya, menikmati permainan Daren. Kedua orang ini amat sangat menikmati percintaan ini. Kemudian keduanya terdiam menikmati klimaks yang ada. Amy memegang erat kain seprainya, merasakan gelombang kenikmatan tiada tara. Sedangkan Daren menatap mesra Amy. Percintaan mereka begitu indah. *** To be continue.... Thanks sudah di baca... ☺☺☺
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD