Jesty bersendekap di samping ranjang Elwin. Rasa iba dan bersalah menghampiri dirinya. Jika di lihat dari sudut pandang Elwin, pria itu pasti sial bertemu dengannya. Luka di dahi belum sembuh, sekarang di tambah kondisi tubuh sedang dalam kondisi tidak baik. "Mungkin ini pertanda, pertemuan kita bukanlah hal yang baik, Mas Elwin." Jesty menarik nafas kemudian menghelanya kasar. "Tidak seharusnya kita bertemu." Jesty mengambil selimut, ia menyelimuti tubuh Elwin. "Cepat sembuh, Mas Elwin," ujarnya lalu pergi. Ia meninggalkan kamar Elwin tanpa menutup pintu. Takutnya Elwin butuh apa-apa, ia jadi bisa lihat dari ruang keluarga depan kamar Elwin. Mengambil sebuah buku dari rak kecil di samping televisi, Jesty duduk di sofa tunggal, fokus dengan bacaannya. Tadi ia di bantu satpam depan mem

