Elwin membuka mata, senyumnya mengembang begitu melihat sosok yang meringkuk ke arahnya tengah memeluk dirinya. Ternyata ia bangun lebih dulu di banding Jesty. Syukurlah, Jesty tidak akan marah padanya karena tidur berdua di sofa ini. "Jesty." Elwin memegang dadanya tepat di bagian jantung. Debaran yang sama, yang cukup menyenangkan. "Mas senang dengan rasa yang mas rasakan ini, Jesty." Menggunakan kesempatan selagi Jesty masih tidur, Elwin mengarahkan tangannya menelusuri setiap lekuk wajah Jesty. "Jesty cantik." Tak ingin berlebihan, Elwin segera bangkit. Ia melihat jam dinding, sudah pukul 4 sore. Entah berapa lama, ia tertidur. Yang pasti, ia merasa kondisi kini tengah baik-baik saja. Tidak lagi demam atau pusing mendera dirinya. "Pelukan Jesty, ampuh sekali," gumamnya disertai taw

