Hampir tiga Minggu Jesty tinggal di rumah Elwin. Luka di dahi pria itu pun sudah sembuh. Hanya saja, ia terikat janjinya sendiri. Ia pikir, Elwin akan lupa tentang janjinya mengenai tinggal di sini walau pun luka di dahi pria itu sembuh. Ternyata tidak, ingatan Elwin sangatlah tajam. Jesty membuka pintu kamar Elwin, berniat mengajak Elwin sarapan bersama. Jesty melihat, Elwin berdiri di depan cermin. Tampan dan berwibawa dengan kemeja yang pria itu gunakan. Jesty menelisik penampilan Elwin, dari cermin ia bisa melihat sosok Elwin meski Elwin sendiri membelakanginya. "Aku merasa ada yang kurang?" tanya Jesty dengan bergumam. "Ah iya, dahinya!" Bukan dahi Elwin yang kurang ya. Jangan salah paham. menakutkan kalau dahi Elwin yang hilang, yang lihat pasti berlari ketakutan. Dimohon untuk ti

