Sampai di kafe, Jesty memilih duduk di luar. Ia menunggu temannya itu, ogah kalau mau masuk duluan. Tempat bernama kafe ini, tidak pernah ia kunjungi sama sekali. Hanya supermarket, warung pinggir jalan dan kemarin restoran itu pun pertama kali di ajak oleh Mas Elwin. Tidak lupa juga pantai, tempat yang sudah lama tidak kunjungi, akhirnya ia kunjungi lagi. Jalan raya di depannya cukup padat, ia sempat berada di tengah kemacetan bersama orang-orang itu. Panas, debu beterbangan ke mana-mana. Pasti tidak bagus untuk pernafasan. “Lama kali, kebiasaan,” keluh Jesty, sudah hampir dua puluh menit ia menunggu sambil bermain ponsel, tapi yang di tunggu tak kunjung tiba. “Dari dulu selalu begini dan dari dulu juga kenapa aku tidak sadar-sadar? Harusnya sadar dong. Jadi tidak perlu buru-buru ke si

