"Bagaimana tadi Jesty pergi?" tanya Elwin langsung pada intinya. Ia dan Jesty kini menuju arah pulang. Ke mana? ke rumahnya tentu saja. "Ah, teman Mas Elwin minta aku diem-diem masuk ke dalam mobil," jujur Jesty. Bohong pun percuma, ia 'kan tidak pandai berbohong. "Aku perginya waktu temen Mas Elwin itu, ngobrol sama satpam. Udah, gitu." "Pintar juga ya." "Siapa? temen Mas Elwin?" "Tidak. Dia bodoh. Jesty yang pintar." Bibir Jesty mencebik. "Dusta sekali mulut, anda." "Kok anda. Mas Elwin, Jesty," protes Elwin, tidak suka jika tidak di panggil Mas Elwin oleh Jesty seperti biasa. Jesty menghadap jendela mobil kemudian memutar bola matanya. Dalam hati berkata, Banyak maunya nih orang. "Iya-Iya,Mas Elwin," kata Jesty agak sedikit judes. "Mas Elwin si tukang bohong," lanjutnya. "Mas

