Empat Puluh Lima

1233 Words

Malamnya, Elwin berkunjung ke kamar Jesty. Ia berniat mengatakan pada Jesty semua tentang dirinya. Mengetuk pintu, Elwin menunggu Jesty keluar. Tidak lama, batang hidung Jesty terlihat. Jesty mengerutkan dahinya melihat Elwin ada di depannya. "Ada apa, Mas Elwin?" "Boleh, Mas masuk?" "Untuk apa?" "Mas tidak akan macam-macam. Ada yang ingin Mas cerita kan." Sudah saatnya kah? "Masuk, Mas. Pintunya enggak usah dikunci. Takut nanti ada setannya." Elwin mengusap pelan wajahnya. Jesty sedang menyindirnya, sengaja memang. Dirinya harus banyak bersabar, bukankah sampai kapan pun wanita akan selalu mengungkit kesalahan laki-laki? Membiarkan pintu terbuka, Elwin melangkah mendekati sebuah meja di samping lemari besar. Merogoh saku, Elwin membuka loker di bawah meja tersebut dan mengambi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD