City College of San Fransisco

1169 Words
2 hari berturut-turut hanya dihabiskan di dalam kamar apartement, membuat Garry jenggah dan ingin keluar mencari udara segar. Namun dirinya tidak tahu akan kemana, karena Guntur dan Roman seperti sudsh melupakan rencana untuk megeksplor tempat-tempat ikonik di sini. Karena ada hal dan essay yang harus dibuat oleh mereka juga, yang mungkin membuatnya lupa. Tok tok tok' Ketukan pinti pertama dalam dua hari, membut Garry langsumg memakai baju dan melihat ke luar. "Mau bareng ke kampus gak? Essay lu gimana?" Pertanyaan itu tidak langsung dijawab oleh Garry, melainkan menyilahkam Guntur untuk masuk ke apartementnya, hingga Guntur kebingungan. "Napa lu?!" Seru Guntur, yang sudah menjatuhkan b****g ke beanbag di depan tv. "Roman mana? Tumben gak satu paket sama lu." Tanya Garru dari kamar, karena sedang merapihkan lembaran essay yang telah ia bawa dari Jakarta. "Paling udah di bawah, sambil goda-godain cewek." Balas Guntur, sekenanya. Membuat Garry terkikih, karena rupanya sifat temannya yang sangat mudah diterka. "Ayo dah! Tas lu mana? Apa nanti ke tempat lu dulu?" Garry menghujani pertanyaan pada Guntur, yang dengan cepat dijawab dengan perbuatannya. "Nitip!" Pekuk Guntur, dengan melemparkam saru buah map plastik, yang sudah terisi lembaran-lembaran, serta berkas-berkas untuk diserahkan ke kampus nanti. Dengan cepat, tangannya reflek menangkan map tersebut, "Kebiasaan lu anjir! Apa susahnya gak bawa tas." "Kalo bisa nitip, kenapa harus bawa tas? Gak efektif." Jawab Guntur, dan langsung mengekori Garry yang sedang membuka pintu. Setelah mereka verdua sampai di lobby bawah, mereka berdua langsung menelfon Roman untuk langsung menuju halte bus yang tidak jauh dari apartement, dengan alasan jika Garry tidak mau membuang waktu untuk menunggu Roman. Setelah mendapat balasan dari Roman, mereka berdua langsung berjalan ke halte bus Visitacion Valley, yang berjarak 2 menit dengan berjalan kaki. Hanta bermodal google maps, Garry memimpin perjalanan, karena Guntur yang buta membaca maps, membuat bebannya berlipat ganda. "Nasip mahasiswa negara kita begini kali yaa, gak boleh naik motor, yang padahal deket jarak kampusnya." Guntur mengeluh dengan berbagai peraturan negara maju, yang baru ia rasakan sendiri. Yang membuat mereka mau tidak mau dan suka tidak suka, harus membiasakan diri berjalan kaki dan memakai transportasi umum, untuk berpergian. Padahal memakai kendaraan mobil masih diperbolehkan secara intens, namun semua itu tidak berlaku untuk para mahasiswa seperti Garry dan Guntur, karena untul berhemat biaya pengeluaram mereka. "Oi!" Roman berteriak, hingga membuat Garry langsung terbangun dari duduknya. Ia langsung berdiri di pintu bus yanb sudah lama berhenti di pemberhentian halte tesebut. Dan syukurlah, kedatangan Roman yang sangat tepat, hingga mereka tidak perlu menunggu kedatangan bus selanjutnya. "Sorry, Mr. Selamat bertugas." Kalimat itu diucapkan bergantian oleh mereka bertiga, setelah menempelkam kartu transportasi umum, di dekat supir tersebut. Kondisi bus yang kosong, membuat mereka semua kebagian jatah kursi, agar bisa beristirahat setelah berjalan kaki yang cukup menguras tenaga. Dan perjalanan kali ini cukuo jauh, yang mengharuskan untuk melewati 9 pemberhentian atau halte, untuk sampai ke halte yang bernama 3rd & Paul Ave. Namun semua perjalanan itu belum selesai, karena Garry dan kawan-kawan harus berjalan kaki selama 1 menit, untuk sampai ke stasiun bawah tanah yang bernama Gilman Ave & 3rd St. Yang memakan waktu selama 18 menit, dan melewati 27 titik pemberhentian, untuk sampai ke Ocean Ave & Le St. Dan mereka harus berjalan kaki kembali 1 menit, sampai akhirnya sampai ke gedung Student Center, City College of San Fransisco. Salah satu universitas terbaik di California, yang mendapatkan rangkin 17 universitas terbaik di seluruh dunia. Sangat menakjubkan bukan? Oleh karena itulah semua perjalanan melelahkan Garry, Guntur, dan Ran seakan terbayar saat melihat gedung berdesain mondern, yang berdiri kokoh di depan mereka. ** Meninggalkan perjuangan Garry dengan transportasi umumnya, kali ini ada seorang gadis yang dengan sangat nyaman menyetir mobil sedan, untuk menuju ke gedung Student Center, City College of San Fransisco. "Sumpah ya, Dy. Gua gak akan ngasih izin buat li bawa mobil lagi!" Pekim Ivanna, dengan tangan yang berpegang erat di seat belt. Merasa dirinya terancam dengan cara menyetir Ody, yang seperti gangster sedanh melakuka balap liar. KLEK' Ivanna membuka pintu mobil, bergegas ke tempat sampah yang tidak jauh dari pandangannya, "UERKKK, UWRRKKK!" Ia memuntahkan semua sereal sarapannya tadi, akibat rasa mual yang tidak kuada dibendugnya lagi. Setelah selesai, ia kembali menghampiri Ody, yang entah sedang meperhatikan apa, hingga membuat bola matanya terus mengarah ke kanan. "Weh! Liat apaan dah?" Tanya Ivanna, membuat Ody terkejut, dan langsung mengalihkan pandangannya. "Enggaa, kenapa emang?" Elak Ody, yang langsung memberikan kunci mobil, pada pemilik yang sebenarnya. "Gua ke dalem dulu ya, lu mau nunggu dimana?" Tanya Ody pada Ivanna, yang karena dirinya tidak perlu menyerahkan essay untuk penilaian administrasi. "Taman aja lah, Bye, Dy!" Jelas Ivanna, yang langsung melambaikam tangan dan berjalan ke arah berlawanan dengan arah yang diambil oleh Ody. Setelah mereka berpisah, Ody langsung bergegas melewati beberapa anak tangga agar ia sampai ke lobby utama gedumh administrasi. BRUAKKKK' Lembaran essay yang semalaman ia buat erbang ke atas, karena ada anak kecil yang tiba-tiba menabrak dirinya. "Damn it!" Pekik Ody, yang langsung dihadiagi tangisan dari anak kecil tersebut. Dan semua itu sukses membuat Ody menjadi pusat perhatian, dari beberapa pasang mata. Sebelum akhirnya, ada tubuh jangkung yang berdiri tepat di depannya. * * * "Stop-stop!" Pekik Ody, dengan pukulan-pukulan kecil pada lengan kekar Garry. "Kenapa si kamu tu?" Tanya Garry, dengan suara yang bernada menggoda Ody, yang sedang tersipu malu. "Kalo aku fikir lagi, saat itu kaya drama-drama kacangan lho, Garr. Tiba-tiba kamu berdiri di depan, biar orang-orang gak ngeliatin aku. YANG padahal pas itu kita belum kenal. OMG!" Suara cempreng Ody, membuat Garry mendekap daun telinganya, mencegah gendang telinganya terusak akan suara tersebut. Membiarkan Ody yang bahagia dengan kenangan masa lalunya, hingga membuat kakinya menginjak bumi dengan sembarang. "Tapi, kau ss---" "Stop it!" Ody menyambar perkataan yang belum diselesaikan oleh Garry, membuatnya memuncingkam mata, bertujuan mengintimidasi Ody. "Kau tahu kah aku mau bilang apa?" Garry kembali menggoda Ody, yang wajahnya kini mulai berubah bersemu. "Aku gak tau tuh. Gak mau tau juga! HAHAHAHH" Gelak tawa yang sangat dipaksakan semakin membuat Garry mengodanya kembali. "Ssstt-sssttt..." Garry mencolek pipi Ody, karena sang empu sedang memejamkam matanya. "Yaudah aku langsung aja deh," Ia sengaja menggantungkam ucapannya kembali, untuk melihat respom dari Ody, sebelum akhirnya, "Tapi kamu senang kan pas itu?" BRUAGHHH' Garry terhempas ke lantai, setelah dorongan cukup keras dari Ody, dengan wajah berwarna semu pinknya tersebut. Namum anehnya, tidak sakit sama sekali. Dan malam tergantikan dengan gelak tawa luar biasa karenaelihat wajah Ody sekarang. Bagaimana rupa gadis itu yang selalu akan ia rindukan, membuat tawa Garry kali ini tercampur dengan haru. "HEH! NGAPAIN LU PADA?! MASIH SIANG UDAH PUKUL-PUKULAN! MALEM AJA BIAR ENAK, HIYAAA!" Seketika ada Roman yang masuk, dan Garry yang tidak mau kalah dengannts, langsumg membalas, "TEORI TEORI. ENAK DOANG LO! TAPI PRAKTEK NIHIL! MASA 2 TAON DI SINI MASIH JOMBLO, HIYAAA." Dengan perasaan sangat puas membuat hati Roman seakan tertombak tepat di hatinya, dan langsung membalas dengan lembaran bantal leher yang ada di dekatnya. Sementar Ody hanya bisa terbahak-bahak, dan terus mengingat jelas moment-moment seperti ini, yang nantinya pasti akan sangat ia rindukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD