"The Fog City"

1141 Words
Garry membuka maps di ponsel pintarnya, untuk mengecek jarak dari apartement ke kampus yang sudah tidak sabar untuk ia kunjungi. "40 menit doang, kalo naik bus. Kalo jalan kak---" "Gosah ngaco dah lu! Yakali jalan kaki, lu pikir kita sanggup." Sambar Roman, dengan tangan entengnya menepak pala Garry. Membuat sang empu menyudahi kegiatan, untuk membalas perlakuan Roman. "Berantem mulu kek anjing." Cibir Guntur, sambil mengulum stik lolinya. "Yaudah, jadinya gimana nih? Mau ke kampus dulu apa langsung ke golden gate?" Tanya Garry dengan mendaratkan b****g ke kursi seven eleven, yang ada di dalam apartementnya. Ternyata laki-laki bisa merasakan dilema yang sangat luar biasa ya, sungguh hal luar biasa yang bisa kita dapat dari mereka bertiga. Yang biasanya kita tahu, hanya para gadis yang dilema untuk menentukan keputusan apa yang mereka pilih, dengan semua sebab akibat yang akan mereka rasakan. Dan ternyata, semua itu berlaku juga pada laki-laki, saat ingin menentukan destinasi apa yang akan mereka pilih. Dengan sebab akibat juga tentunya. Contoh kasusnya seperti masalah Garry, Roman, dan Guntur. Yang pusing menentukan antara kepentingan melihat kampus terlebih dulu, atau melihat salah satu tempat yang paling ikonik di kota San Fransisco. Yaitu, Jembatan Golden Gate, yang membuat para turis lokal atau mancanegara takjub akan semua yang mereka lihat. Karena semua aspek dalam sejarah jembatan Golden Gate yang sangat menakjubkan. Mulai dari nama Golden Gate, yang padahal warna jembatannya merah dan bukan emas. Ternyata semua itu ada alasannya dan sejarahnya, yuk kita bahas sedikit. Karena jembatan ini berdiri di atas Selat Golden Gate. Pada 1 Juli 1846, John C. Fremont menamakan Selat Golden Gate yang terinspirasi dari Selat Golden Horn (Selat Bosporus) di Byzantium atau saat ini dikenal dengan Istanbul. Kedua selat ini memiliki persamaan sebagai “gerbang” penting jalur masuknya kapal-kapal dagang dari Asia. Golden Gate Bridge kemudian dibangun sekitar satu abad setelah pemberian nama selat tersebut. Nah begitulah sejarah daru nama jembatan Golden Gate, yang padahal tidak bewarna emas. Oke, balik lagi ke masalah Garry yang masih terus berkonsultasi, bersama Roman dan Guntur. Sesungguhnya Garry menginginkan untuk ke kampus terlebih dulu, dan menyelesaikan semua berkas-berkas mereka, agar saat mengeksplor tempat ikonik, dirinya tidak akan terganggu dengan fikiran semua berkas-berkas yang seharusnya telah selesai. Namun Roman, mempunyai keputusannya sendiri untuk berkunjung terlebih dulu ke tempat ikonik, Jembatan Golden Gate ini. Karena ada alasan yang mendukung di balik keputusannya ini. Membawa sebutan untuk kota San Fransisco yaitu, "The Fog City". Yang artinya kota berkabut. Dan Roman mencegah untuk semua kabut itu lebih dulu muncul sebelum mereka sampai ke Jembatan Golden Gate. Agar dirinya bisa mengabadikan moment sempurna menggunakan kamera ponselnya. "Alasan utama lu tuh cuman buat pamer, Man. Gak seru." Cibir Garry, yang sudah khatam dengan rencana apa yang ada di otak temannya sekarang. Membuat Roman langsung terkikih geli, "Itu namanya menjaga keastetikan feeds IG, Garr. Susah emang, kalo ngomong sama orang yang jarang buka IG." Romam membela harga dirinya. Namun membuat Garry semakin berdecih di depannya, "Astetak, astetik. GUMOH!" Sementara Guntur yang biasanya bawel, dan terus menanggapi, kali ini ia malah diam seribu bahasa. Membuat Garry maupun Roman keheranan. "Lu kena jetlag ya?" Tanya Garry, mengguncang pelan tubuh Guntur. "Apa itu jetlag, cih. Gua lagi nikmatin es grim US nih, lu pada gak capek apa ngoceh." Pekik Guntur, memasukkan kembali es loli kedalam mulu. "YUAS YUES. LU NGOMONG ES KRIM AJA MASIH PAKE G." Sambar Garry, yang langsung membuat Roman terbahak-bahak. "Anak Bekasinya ketauan banget ya, Garr." Ungkap Romam, dengan gelak tawa yang masih ada. Membuat Guntur ikut terbahak, karena tidak sadar sudah membawa bahasa planet lain ke San Fransisco. ** Nggrrrkkkk ngrkkk ngrkkkk' Dengkuran mereka seolah bersaut-sautan, setelah kegiatan debat tanpa ujung yang mereka lewati kemarin. Jika kalian bertanya apa keputusan yang diambil, maka jawabannya adalah. Mereka memutuskan untuk pergi ke unit apartement Garry, melihat sebentar pemandangan lantai 17. Dan tentu saja, Roman tetap pada pendiriannya untuk mempertahankan keastetikan feeds instagramnya, sebelum masuk ke unit Garry, karena udara yang semakin dingin. Maka terbengkalailah semua rencana, yang menjadi wacana. Karena mereka semua saat ini baru merasakan jetlag hingga membuat jam tidur berantakan. Drrrttt drttt drtttt' Getaran dari ponsel siapakah itu, membuat Garry sangat terganggu, hingga menendang tubuh Guntur di sampingnya. "Angkat kalo punya lu! Ganggu banget." Sayup-sayup terdengar suara di telinga Guntur, namun dirinya lebih memilih tidak membuka matanya sama sekali. Hingga akhirnya harus Garry yang menyelesaikan itu semua. "ANGKAT ANJIR! ITU HAPE SIAPA SIH?!" Suara keras Garry membuat Guntur dan Roman, bangun dengan perasaan yang sangat kaget. Membuat mereka semua mengecek ponsel masing-masing, yang terletak tidak jauh dari tubuh masing-masing. "Hape lu ya anjir! Hape gua mati!" Pekik Roman, dengan emosi meledak-ledak, hingga membuat Guntur menutup telinganya. "Hape lu ya?!" Tegas Garry pada Guntur. Dan langsung diangkatnya benda pipih bewarna hitam, dengan logo apel tergigit. "Mati..." "Hape lu, nyet!" Kali ini gantian Guntur yang menunjukkan taringnya, dan kembali dengan posisi tidur, untuk menyusul Roman, yang sudah lebih dulu jatuh ke alam mimpi. Mendengar semua ocehan dari kedua temannya, membuat Garry malu sendiri, karena ternyata ponsel nya lah yang menganggu dirinya sendiri, dan diri sendirinyalah yang menganggu orang lain. Ia terkikih sebentar sebelum mengambil ponsel yang berada di dekat kakinya. 'Bunda telfon?' bukannya malam di sana.' batin Garry menerka-nerka, sebelum akhirnya ia keluar apartement, untuk menelfol ibunya kembali. "Kenapa, bund? Tadi mas tidur, ini baru bangun. Hoam." Kata Garry,seraya mengulet di depan pintu luar. Membuat sepasang mata dari gadis, yang melewatinya kebingungan. ["Mas jetlag yaa, tidur lagi gih mas. Tapi pasang alarm jam 8pagi, biar ngebenerin jadwal tidurmu lagi."] Perintah Loren, dengan suara yang terdengar lesu oleh Garry. Wajar saja, jika suara Loren terdengar sangat lesu. Karena perbedaan waktu 15 jam lebih cepat dari Indonesia, yang seharusnya sekarang adalah jam istirahat untuk Loren. Namun dirinya lebih memilih untuk menanyakan kabar Garry, serta mengingatkan dirinya untuk memasang alarm. Yang padahal semua itu bisa dilkukan oleh Garry sendiri. Semua itu membuat hati Garry terenyuh, kembali merasa rindu dengan keadaan ruman yang baru ia tinggalkam 3 hari. ["Kamu sehat-sehat ya, Mas."] Seketika cairan bening memenuhi pupil Garry, "Bunda juga sehat-sehat disana ya. Jangan mikirin mas disini. Mas baik-baik aja, jangan mikirin adik juga, ayah juga. Everything its ok, bund." Ujar Garry, seraya mendengakkan kepalanya, mencegah air mata terjun dengan bebas pada pipinya. ["Iya, Mas. Kalau begitu, bunda tutup dulu ya."] "Iya, Bund. Sleep tight ya, Bund." Balas Garry, seraya mematikan sambungan telfon dengan Loren. Setelah semua itu, Garry tidak langsung masuk ke apartement nya kembali. Dan malah bersandar di beranda depan, seraya menikmati dinginnya udara San Fransisco, pada pagi hari. Udara sejuk yang katanya selalu terasa sepanjang tahun di kota ini, akibat keberadaan San Fransisco yang terletak di semenanjung tempat bertemunya udara dingin dari Samudera Pasifik dan hawa panas dari lembah California. Yang diumpamakan juga oleh penulis terkenal sebagai, "The coldest winter I ever spent was a summer in San Francisco."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD