Perpisahan

1096 Words
Secarik kertas terus ia genggam di depan rumah berlantai dua yang mendominasi cat bewarna putih, "Nona Oddeth kenapa?" Tanya Mr One, yang merupakan supir pribadi ayah Ody. "Mataku perih, ada debu masuk." Balas Ody yang langsung memalingkan wajahnya, namun semua itu percuma untuk seorang pria baruh baya yang sudah mengenal Ody sejak bayi. "Nona Oddeth, kau masih mau berbohong dengan saya?" Tanya Mr. One, menepuk pelan bahu Ody. "Aku kelilipan, Mr. One. Oiya, kau adalah orang yang pertama aku beri kabar," Ody mendekatkan mulut pada telinga pria paruh baya yang sedang berdiri di depan mobil sedan milik ayahnya. "Aku dapat program pertukaran pelajar ke California." Sambung Ody, dengan tersenyum paksa di depan Mr. One, yang mengetahui hati Ody sebenarnya. Ia langsung berjalan menjauhi Mr One, yang masih setiap menatap bahu dari gadis itu, dengan hati sangat gusar. Karena dirinya mengetahui betul, sebentar lagi akan kembali perang dingin antara anak dan ayah, akibat kabar yang harusnya dibanggakan. Sementara di benua lain, kedua orang tua Garry sedang mendengarkan semua penjelasan anaknya, dengan penuh rasa bangga. "Menurut mamah gimana?" Mata Garry menatap wanita yang masih mengenakam celemek dengan sutil pada tangan kanannya. "Bunda bangga denganmu, Mas. Tapi kenapa kau tidak bilang, jika mendaftar program seperti itu?" Tanya Loren, ibu dari Garry. "Berkas-berkasmu bagaimana? Sudah lengkap semua?" Suara dari pria yang bernama Thomas masih mengenakan seragam dinas, membuat Loren berdecih. "Mamah berdecih sama papah?" Thomas kembali mendominasi percakapan, membuat Garry tersisih. "Mas...." Keduanya kompak memanggil Garry yang berubah posisi. "Aku mau menyiapkan berkas-berkas, sebelum ayah berbicara lebih jauh, dan aku harus merapihkan semua pakaian sebelum bunda yang rapihkan. Okeee, bye. Saya tinggal yaaa." Ujar Garry membalikkan tubuhnya kembali, meninggalkan kedua orang tuanya yang masih saling menatap. "Mas Garr, besok kita belanja pakaian hangat untuk di sana yaa.... " Loren berteriak pada anaknya yang sedang menaiki tangga menuju kamar. "Belanja mulu." Cibir Thomas, diikuti dengan kikihan, yang membuat Loren langsung menghadiahi kecupan mesra dari sutil pada seragam suaminya. "Bundaaa, besok ayah flight pagi lho. Dan seragam ini akan dipakai." Jelas Thomas. Membuat Loren kebingungan, dan langsung menyuruh suaminya melepas seragam agar langsung ia cuci. Dan berkat kejahilannya tadi, Loren terpaksa menunda untuk menonton sinetron kesayangannya yang sedang booming. Tidak ketinggalan juga keluhan yang ia hujani pada suaminya kini, membuat Garry terkikih geli melihat tingkah kedua orang tuanya, yang masih saja mesrra walau usia renta. Ralat, belum terlalu renta. Namun penggalan kata tersebut yang menurut Garry bagus, jadi terima sajalah yaaa. Balik lagi pada Ody, yang masih harus menunggu kabar dari kedua orang tuanya. Drrrttt drttt drrttt, ia langsung mengambil ponsel dari saku celannya, untuk memeriksa. ["Udah belum, Dy? Kita haru ke imigrasi, dan kembali ke kampus lagi."] Satu buah pesan yang dikirimkam oleh Ivanna membuat degup jantungnya semakin cepat. Ody mengigit ujung kuku, kedua lutut saling beradu. Kini, rasa gelisah semakin menyelimuti dirinya. "Ody....." Ia langsung menoleh saat mendengar suara baritone yang sangat ia kenali. "Papah, syukurlah kau datang lebih cepat." Balas Ody, dengan senyum tipis, yang seakan dipaksa. "Tolong tanda tangani ini cepat, kita bahas nanti. Aku harus menyerahkan ini, dan pergi ke imigrasi. Banyak yang harus aku lakukan, jadi tolong kita kerja sama ya, Pah." Ody langsung menghampiri Yohannes, yang baru keluar dari ruang kerjanya. Kalian tahu degup jantung saat berlari? sangat cepat, dan terdengat jelas bukan? Seperti itulah jantung Ody saat ini, karena harus kembali bertemu dengan sang ayah yang sedah beberapa bulan menghindar, atas kesalahpahaman. "Ody kau ikut program it---" Sekilas ia membaca jika putrinya mendapatkan program pertukaran ke California. Bukanya bangga atas pencapaian sang putri, hatinya memilih gusar memikirkan semua hal yang belum terjadi pada anak semata wayangnya tersebut. Sementara yang dikhawatirkan malah memasang senyum merekah sempurna, seolah mendapatkan undian. Setelah selesai dengan semua berkas, Yohannes menahan pergerakan putrinya, yang sudah siap melarikan diri. "Kau yakin? Kau bisa, boo?" Pertanyaan itu membuat mata Ody menatap lekat sang ayah dengan kebingungan. Suara yang ia rindukan akhirnya terdengar kembali, entah berapa ratus purnama keinginan itu hany menjadi tujuan yang mengantung di atas kepalanya. Namun kini, "Odetth..." Suara lembut itu kembali menghiasi indera pendengaran Ody, hingga membuat cairan bening tertahan di pelupuk mata. "Aku sanggup, Pah. Aku bisa melakukan dan menyelesaikan ini semua, oleh sebeb it---" Ucapannya mengantung akibat isakkan yang tak mampu ia tahan. "Baik, papah menarik kembali semua ucapan yang membuatmu tersakiti. Maafkan papah jika saat itu menahanmu untuk tetap di sini, Ody." Yohannes langsung membawa tubuh mungil putrinya ke dalam dekapan hangatnya, dan membiarkan Ody membasahi pakaiannya dengan air mata. Ting ting ting' Dering ponsel tersebut menganggu moment langka antara ayah dan anak, membuat Yohannes berdecih pelan untuk menggoda putrinya. "Teman aku, Pah. Si Ivanna, dia takut kalo papah ngelarang aku." Jelas Ody, seraya menghapus semua bekas air mata. ["Oke, on the way. Kau tunggu di depan ya."] Setelah membalas chat dari Ivanna, Ody langsung tersenyum kembali pada Yohannes, "Aku urus surat ke imigrasi dulu ya, Pah. Byeee!" Lambaian tangan itu terasa sangat ringan, tanpa beban yang sedari awal dibawa oleh Ody. Mungkin semua telah usai, saat sang papah memberikan izin dengan ikhlas pada sang anak, dengan membiarkan dirinya melihat wajah dunia dari kesempatan yang ia dapat. Walaupun hati Yohannes sendiri, masih merasakan kekhawatiran yang cukup besar, untuk membiarkan putri semata wayangnya memulai kehidupan baru di negara orang sana. Maklum orang tua, yang selalu akan menatap anaknya sebagai anak kecil terus, walaupun kenyataannya sudah dewasa. ** Hari keberangkatan Garry akbhirnya tiba, membuat dirinya merasa bersalah dan meninggalkan ibunya sendirian. Bagaimanapun juga, hanya Garry lah satu-satunya teman, setelah adiknya memutuskam untuk bersekolah di asrama pilihannya. "Bunda, liburan tahun besok ke sana, yaa. Nanti mas bayarin penginapan." Ujar Garry dengan smirk di depan gate keberangkatan. "Bunda gak boleh tinggal di apartemenmu memang?" Tanya Loren, sedikit memincingkan mata. Garry menatap langit-langit, seolah berfikir, "Boleh, jika kau ingin bertemu sekaliam dengan calon menantu." Goda Garry, yang langsung dihadiahi cubitan di perutnya. "Dasarrr!" Kini suara Loren sudah bergetar, merasakan rasa sedih yang menjalar ke sekujur tubuhnya. Perasaan seoranh ibu tidaj bisa dibohongi, karena mereka pasti akam sangat khawatir melepas buah hati mereka, dan apalagi perjalanan yanh akan ditempuh Garry memakan waktu puluhan jam. "Bundaaaa......." Garry mendekap tubuh sang ibu, seraya mengelus sayang punggung belakangnya. "Baik-baik di sana ya, Mas. Jangan macam-macam, ingat tuhanmu, fikirkam sebelum kau melakukannya, " Wejangan demi wejangan diberikam Loren, dengan suara yang begitu lirih, hingga airmata jatuh dengan sangat anggun. "Sudah sana pergi, tidak enak dengan kedua temanmu yang sudah menunggu." Sambung Loren, seraya melepas dekapan Garry. Untuk terakhir kalinya, Garry tersenyum sebelum lambaian tangan erangkat ke atas, "Bye, Bund." Pekik Garry, pada Loren yang ia ketahui sedang menutup mulut, agar tidak menangis kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD