Arrived in San Fransisco, California

1372 Words
Guntur menoleh pada Roman, mencoba membuka kedua matanya dengan bantuan jari-jari, "Man." Hanya keputusasaan yang didapatkam oleh Guntur, karena Roman mengacuhkan dirinya. "Garr, laper." Kini gantian Garry yang sedang membaca buku diganggu oleh Guntur, dengan kepala yang sudah berada di dekatnya. Membuat mata Roman terbelakak, "Akhirnya nih anak bangun." Cibir Guntur. Dan langsung dihadiahi tepakan pada kepalanya. "Gimana gak mau bangun! Sikutlu nancep di badan gua astaga!" Pekik Garry dengan susah payah, akibat posisi yang menyusahkan dirinya. Duduk di kursi tengah pesawat membuat Roman serba salah, terlebih lagi dengan Guntur di sampingnya, yang terus mengoceh apapun masalahnya. Mulai dari menirukan gaya pramugari, cerita komik, hingga informasi cantik bali yang ia ketemui saat check ini. Membuat kepala Roman pusing 7 tujuh keliling, dan merasa iri dengan posisi Garry yang berada di pinggi. Jauh dari anak kucrut ini. "Garr, laper." Guntur kembali merengek layaknya anak 5 tahun, meminta belas kasih dari sang ibu, agar memberikannya asupan lebih. NITTTT' Hanya tangan Garry yang terangkat untuk memanggil seoranh pramugari, tanpa wajah yang menoleh pada Guntur. "Makasih sayang...." Guntur membuat suara seakan suara manja seorang wanita, hingga membuat Garru dan Roman menoleh serentak. "EDAN!" Kekompakan mereka berdua dihadiahi kembali, oleh beberapa pasang mata penumpang lain di dekat mereka. ** Tidak lama kemudian, seorang pramugari dengan seragam bewarna biru mendekati kursi Garry, "Cantik." Gumam Roman, yang salah fokus ke wajah pramugari tersebut. Membuat Garry memincingkan mata ke arahnya, "Maaf ya, Miss. Omongan teman saya memang tidak sopan." Ujar Garru, dengan kikuk dan menahan emosinya. Lain dengan Roman, yang malah asyik terus menatao sang pramugari saat sedang menjelaska beberapa menu yang tersedia. Karena ini merupakan long flight, jadi pihak maskapai memberikan jatah untuk 2 kali makan, dan 1 kali untuk snack. Agar memberikan kesan nyaman pada semua penumpang, jika ada yang lupa membawa makanan kecil, atau lupa mengisi perut sebelum perjalanan. "Miss," Guntur menyela penjelasan sang pramugari, "Ada apa, Mr?" Pramugari itu mengalihkan pandangannya dari buku menu kepada Guntur. "Tidak apa." Sambung Guntur, dengan senyum menyeringgai, yang mungkin bisa membuat tidak nyaman pramugari tersebut. Melihat itu semua, Garry tidak bisa tinggal diam dan langsung berkata pada pramugaru tersebut, jika mereka bertiga akan memanggilnya kembali, setelah memilih menu. "Baik kalau begitu." Ucap pramugari tersebut, dan langsunh kembali ke posisinya. "Malu-maluin aja si lo pada, kaya gak pernah liat pramugari aja." Cibir Garry, dengan tatapan sisinya. Membuat Roman dan Guntur langsung terkikih geli, karena semua itu adalah penghibur mereka yang habis diputuskan kekasih masing-masing. Tentunya dengan alasan yang sangat remeh, padahal belum sempat melakukan bersama. ** Siang berganti senja, senja berganti malam. Namun mereka bertiga belum sampai ke tujuan, membuat Garry yang selama ini diam menjadi gusar. Bukan karena apa, melainkan dirinya bosan yang sedari tadi hanya bisa menonton film di layar monitor. "Man, lu ngoceh apaan kek!" Kata Garry, membuat Roman menatapnya dengan heran. "Au ah gelap, dari tadi gua cerita masalah cewek gua lu gak nanggepin. Sekarang gua diem mau tidur, lu nyuruh gua ngoceh." Cibir Roman, sambil memasukan chips yang tadi ia pesan. "Yaudah bangunin Guntur dah, biar tuh orang ngoceh." Pinta Garry, yang langsung diindahkan oleh Roman. Pakpakpak, ia menampar pelan pipi Guntur yang sedari tadi tidur tanpa dosa.. DUGDUHGDUDHUDH' Bertepatan bangunnya Guntur, peswat sedang mengalami turbulensi, yang mungkin menyenggol sebuah awan mendung di depan sana. Membuat Guntur bangun dengan rasa terkejut, dan langsung mengucapkan kata-kata terakhirnya, dan bukan doa yang pertama kali terucap. Membuat Roman langsung mendekap mulutnya, untuk mencegah semua perkataan yang dianggap sebagai kutukan pesawat. Namun Guntur tetaplah Guntur, yang malah menimbulkam kegaduhan dengan kursi depan, akibat kakinya selalu menendangnya. Membuat kaki jenjang Garry berusaha menghentikan Guntur, namun semua itu sia-sia. Ditambah lagi, saat ada salah satu penumpang yang berbicara sembarangan mengenai kehidupan. Membuat Garry dan Roman beradu tatap, seolah bertelepati semuanya akan baik-baik saja. Berharap pada ayah Garry, yang sedang menjadi kapten pesawat bisa menyelesaikan masalah di depan sana. Dan tentu saja berdoa pada sang maha kuasa, agar diberikan keselamatan hingga tujuan, karena hanya itulah satu-satunya cara, yang bisa membantu seluruh penumpang saat ini. Berselang 1 jam, kondisi pesawat saat ini bisa dibilanh kembali mulus tanpa adanya getaran-getaran yang membuat mereka semua panik. Banyak dari mereka yang langsung mengucap syukur pada yang maha kuasa. Dari mulai berbahasa arab, hingga menyanyi bait demi bait pujian mereka lontarkan. Seolah membuat keadaan pesawat kalu ini damai dengan semua perbedaan. Tidak ada persaingan antara minoritas dan mayoritas, tidak ada yang saling menjatuhkan untuk menyakinkan kepercayaan mereka. Kata-kata indah kembali terbersit dalam hati Garry, yang kala itu merasakan tidak ada perbedaan jelas daru mereka semua. "Meskipun cara kita melangitkan doa berbeda, tujuan akhirnya pun sama untuk sang pencipta" Mereka semua seolah hidup berdampingan dengan damai, selaras dengan perbedaan yang berada dalam satu jalur kehidupan. "Alhamdulillah..." Garry menghembuskan nafas dengan sangat lega, yang langsung diikuti oleh Roman mengatupkam kedua tangannya. Berbeda dengan Guntur yang masing dikeliling dengan rasa takut akan bayang-bayang kematian, yang padahal dirinya belum berada dalam titik itu. Membuat Garry terkikih geli, "Santai, Tur. Lu bukan orang baik, tuhan gak mau ngambil lu..." Membuat Roman langsung tersentak, dan mendukung semua ucapan Garyy, yang langsung disampaikan pada Guntur, agar terdengar lebih jelas. "Ngadi-ngadi lu ya, temen lagi takut bukan ditenangin, malah diledekin." Balas Guntur, dengan ocehan yang membuat Garry dan Roman, langsung memasang headphonenya kembali. ** Akhirnya, Garry, Roman, dan Guntur bisa mengulet dengan sempurna dan sangat puas. Meregangkan semua otot mereka, setelah 21 jam hanya duduk diam tanpa bisa apa-apa. "BODONG ETA BODONG!" Roman langsung melafalkan bahasa sunda yang selalu ia banggakan, saat bajunya terangkat nauh ke atas. "HUAAAA..." "Anjir bau banget. Lu sebelum turun gak sikat gigi yaaa, gilaaaaa." Wajah Garry yang tepat berada di depan mulut Guntur, langsung menjauh seketika. Membuat Roman terbahak puas melihat Garry, yang akhirnya merasakan di posisinya tadi. Yang mengharuskan mencium aroma semerbak bunga bangkai dari dekat, akibat Guntur yang tidak mandi sebelum terbang. Dan ditambah lagi selama perjalanan, dirinya sama sekali tidak ke kamar kecil, yang membuat penampilannya sekarang, tidak bisa dideskripsikan oleh kata-kata. "Garry..." Suara baritone itu membuat Garry langsung menoleh, "Iya, kenapa Yah?" Ia langsung mencium tangan Thomas, yang sengaja menemui anaknya sesudah landing. Guntur langsung menaikam kembali maskernya untuk mencegah hal seperti tadi, sementara Roman langsung menjabat uluran tangan Thomas. "Baik-baik di sini yaaa, kalo bisa kalian satu unit apartement aja sama Garry, kan enak ramai." Ujar Thomas, sedikit bercanda dengan kedua teman Garry, yang sudah lama tidak bertemu. "Kita bertiga beda lantai doang kok, Yah. Tadinya malah mau nyatu, tapi kalo Garry bawa cewek kam gak enak, Yah." Roman menggoda Garry. "Bisa aja kamu, Man" Thomas menepuk pelan bahu Roman, diikuti kikihan. Setelah semua basa basi itu, Garry langsung berpamitan pada sang ayah, untuk mengambil kopornya. Karena jadwal penerbangan Thomas yang begitu padat, membuat dirinya tidak bisa mengantar putra sulungnya ke apartement, yang membuat penyesalan tertingginya kala itu. Namun seorang Garry, dengan mudah menerima semua itu. Dan lagipula dirinya sudah dianggap dewasa, dan bisa melakukan semuanya sendiri. Garru adalah tipikal seorang anak yang jarang merengek, jika mengetahui ada urusan yang lebih penting dari dirinya. "Baik-baik ya nak... Selamat explore San Fransisco..." Thomas memeluk Garry, seraya menahan air mata pada pupilnya, karena tanpa sadar, ia telah membesarkan seorang anak yang sangat membanggakan seperti Garry saat ini. "Baik, Yah. Ayah juga semangat dan hati-hati dalam penerbangan selanjutnya." Balas Garry, dan langsung melepas dekapan dengan Thomas. Membuat Guntur yang langsung mempunyai kesempatan mendekati Thomas, "Yah, titip salam sama pramugari yang pakai motif pita di harnetnya." Ucapan itu membuat Thomas menggelengkan kepala sambil terkikih geli, "Ada-ada aja si Guntur yaa." Balas Thomas menatap bergantian Garry dan Roman. Thomas langsung berpamitan pada mereka, untuk beristirahat di hotel yamg sudah disediakan pihak airliness, karena sore ini akan melakukan penerbangan kembali. Membuat mereka bertiga melambaikan tangan, dan ada saja celetukan yang dibuat oleh Guntur, untuk merusak moment tersebut. "Abis lulus dari kampus, gua mau jadi pilot aja lah. Trs kerjaya di maskapai internasional. Biar bisa ketemu sama cewek-cewek asing, lumayan untuk memperbaiki keturunan." Garry maupun Roman langsung meninggalkan Guntur, membiarkan dirinya dengan angan-angan layaknya siswa sekolah dasar, yang masih belum mengetahui kerasnya kehidupan. "Jalan lo sini, jangan mimpi mulu!" Teriak Garry, untuk membuyarkan semua angan-angan tersebut, dan selalu ada Roman yang langsung menambahkan celetukan semena-menanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD