Gedung A jurusan sastra Indonesia kebali dihebohkan oleh berita yang terpampang di mading, “Panggil Guntur!” Ujar gadis yang selalu mencepol rambut, dan mengenakan kemeja flannel. Yang akrab diapanggil Hexa.
Gadis itu langsung berlari menjauhi mading, entah mau kemana. Yang jelas perlakuan itu membuat gadis berkacamata bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.
“Ketua himpunan mau ngapain? Trus kenapa emang kalo Guntur berangkat ke California? Ada masalah apaansi? Heboh banget tu orang.” Ia menyerocos tanpa jeda, membuat gadis berambut lurus jenggah dengan semua ocehannya.
“Lu mukanya doang polos, tapi mulutnya lemes.” Cibir gadis yang akrab disapa Vani. Membuat gadis berkacamata yang karab dipanggil Rima, tidak terima dengan ocehannya, langsung menginjak kaki Vani.
“AW! Apasi, astaga!” Pekik Vani, dan langsung dihadiahi kembali dengan ocehan Rima, yang mengulang pertanyaannya tadi.
“Lo salah fokus! Si Hexa tuh manggil Guntur buat nanyain Garry, bukan masalah Gunturnya yang beraangkat ke sono apa engga. Emang lo gak tau cerita yang lagi berkembang pesat nih?” Ujar Vani, seraya menyandarkan diri pada tembok sebelah mading.
Sebagai gadis yang sangat menyukai kabar burung, atau ghibah. Rima langsung mendekatkan diri pada Vanni, untuk mendengar lebih jauh cerita yang belum ia ketahui.
“Garry!” seketika Rima memanggil Garry yang sedang memasak earphonenya pada telinganya, “Diem anjir!” Pekik Vani, menatap Rima dengan tatapa tajam.
“Cielah,”
“Gosah dengerin nih anak, Garr. lanjut aja lanjooottt!” Vani mendekap muut lemes Rima, yang sudah ia prediksi akan berbicara sesukanya atas cerita yang baru saja ia jelaskan.
“appansi, hih!” Rima melepas tangan Vani, “Maksut gue, selamat. Yaiy, California. Gils!” Sambung Rima, dengan suara yang sangat kikuk, akibat Garry menatapnya dengan mata sinisnya.
“Wasting time bgt si lo pada.” Jelas Garry, seraya melanjutka kembali langkahnya yang sempat terjeda, akibat perbuatan kkedua gadis tidak penting tadi.
Melihat balasan Garry yang begitu acuh, membuat mereka berdua kembali mengetahui alasan dibalik status jomblo yang semakin melekat pada sosok Garry.
Namun dengan status apapun yang sandang Garry, membuatnya tidak masalah. Malahan dirinya sangat bersyukur, karena tidak perlu repot-repot untuk memikirkan dan menerka semua permintaan para gadis yang seolah menuntut para laki-laki untuk mengetahui isinya.
Hanya memikirkannnya saja, membuat Garry bergidik ngeri. Karena dirinya selama ini sudah mengetahui bagaimana kehidupan berpacan dari Roman dan Guntur, yang menjadi soosk b***k cinta saat bersama dengan kekasihnya.
Semua itu tidak akan dilakukan oleh Garry, bahkan jika menemukan gadis secantik Pevita Pearce pun, jika sifatnya layaknya anak bayi berumur 3 tahu, yang sangat merepotkan, Garry akan menolaknya mentah-mentah.
Drrttt-drrrtt-drrrtt'
Garry mengambil ponselnya dari saku belakang, ‘ada apa lagi si’ batinnya mengeluh saat mendapatkan nomor telefon yang tidak bernama, namun ia tahu nomor siapakah itu.
**
Tap tap tap, terdengar suara sneaker dengan penuh kegusaran yang melanda sang empu, “Lo kenapa gak angkat telfon calon pacar?”
Mendengar pertanyaan tidak masuk akal itu, membuat Garry bangun dari posisinnya hingga membuat ia berhadapan dengan Roman.
“HA, siapa yang bilang dia bakal jadi pacar gue? Lo pada kan? Tapi gue gak pernah tuh, naksir aja gak. Apalagi jadian, jadiin pacar kedua lo sono gih!” Jelas Garry, dengan suara meninggi, hingga membuat Roman terbawa perasaan.
“Lo fikir gua apaan, jangan sembarangan kalo ngomong, kalo pacar gue denger gimana?!” Kali ini Roman membalas dengan suara yang tidak kalah tinggi dari Garry.
“Lo takut image lu ancur kan? Sama, gue juga! Kalo orang ngomong asal lo ngamuk, kan. Tapi lo sndiri ngomong asal-asalan.”
Ucapan Garry membuat Roman mati langkah, karena saat ini Garry memegang kendali penuh atas permainannya, “Anjir, ya map. Lo kek gak tau gue aja.” Lagi-lagi Roman berlindung dengan alasan kolotnya.
Membuat Garry berdecih, karena sudah letih untuk berdebat dengan permaalahan yang sama terus menerus, “Azka maksa gue buat bikin lo suka sama dia, gue juga cape, Garr.” Kali ini suara Roman terdengar sangat putus asa.
“Ya gakusah lo jalanin! Problem Solved, gua juga udah pernah bilang ke dia kalo gua gak suka sama dia, trus kenapa dia masih ngejar?”
“Tapi dia masih mau sama—“
“Cinta tuh gak memaksakan kehendak, Man. Lo tau itu, tapi kenapa lo masih maksa gue buat nyoba suka sama temen lo itu?” Jelas Garry, dengan suara dinginnya membuat Roman hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Bukan temen gua anjir! Temen cewe gue,”
“Trus? Lo mau gitu disuruh sama cewek lu? Bucin akut lo! Sadar lo, serem bgt si, hih!” Ujar Garry, yang langsung meninggalkan Roman sendirian.
“Pergi sono lu, yang jauh sekalian!” Teriak Roman, dengan diikuti oleh kikihan khasnya.
Mereka berdua memang seperti itu, tidak usah heran dengan perubahan emosi yang sangat cepat antara mereka. Karena semua itu begitu wajar bagi semua pria yang sudah mengenal sejak lama.
**
Mata kuliah pemahaman bahasa begitu cepat selesai, padahal hanya matakuliah tersebut yang membuat hari selasa Garry menyenangkan, “Garr pocajanga lah ayo! Keterima student exchange masa diem-diem aja.” Cibir Guntur, yang sedang satu jadwal dengannya.
“Lah somplak. Lu kan juga keterima, kenapa nagih ke gua juga. Bayarin gua juga lah sekalian ayo, masa keterima student exchange diem-diem aja…” Garry mengembalikan semua kata-kata Guntur dengan tunai, tanpa dicicil.
“Yaudah gini deh, kita saling bayar-bayaran aja, yaa. Problem solved.” Jelas Guntur dengan jari telunjuk menunjuk Garry, “Nah gitu dong, kuy lah!” Balas Garry.
Dan ternyata semua percakapan absurd mereka, secara tidak sadar didengar dengan beberapa pasang teling hingga membuat mereka terkikih geli mendengarkan ocehan kedua laki-laki tersebut.
“Anak sastra emang gak ada yang beres otaknya.” Cibir gadis di belakang.
“Lah kan lo anak sastra juga, berarti gak beres juga dong?” Sahut laki-laki di sebelahnya.
“Lah iya, lo anak sastra juga kan? Kita emang gak ada yang beres yaaa, jurusan kutukan kayaknya nih.”
Setelah menyelesaikan percakapan yang semakin absurd, mereka berdua langsung terkikih geli, entah apa maksut omongannya tadi.
Karena yang jelas, memang kehidupan anak sastra begitu adanya, karena otak mereka sudah terkombinasi dengan beberapa mata kuliah yang sangat menguras fikiran dan meguras kosa kata mereka, sehingga setelah mata kuliah selesai. Otak dan mulut mereka seakan tidak singkron, dengan percakapan sehari-hari yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa jurusan lainnya.
**
Sesampainya di restoran all you can eat, Garry dan Guntur langsung duduk di posisi biasa mereka. Namun saat mereka duduk, perasaan tidak enak seketika menjalar di sekujur tubuh mereka.
“Jangan bilang kalo—“
“Hai gengsss, berduaan aja lu ah. Gua ikut kumpul yaa, sekalian nunggu cewe gue selesai kelas.”
Belum selesai pembicaraan Garry, semua perasaan tidak enak itu menjadi kenyataan, karena Roman yang tiba-tiba muncul, “Lo sendirian kan?” sekarang gentian Guntur yang memastikan perasaan tidak enaknya.
“Masao rang kaya gua sendirian, gua bawa mereka lah! Itung-itung buat moment perpisahan kita kan.” Jelas Roman, seraya mengibaskan tirai bewarna oren yang sebagai pintu masuk dari restoran tersebut.
“s**t!” Garry dan Guntur kompak mengumpat sata melihat semua anggota tim basket di belakang Roman.
Mereka berdua saling beradu tatap, entah apa yang coba mereka sampaikan. Sementara semua orang sedang memenuhi kursi di meja Garry dan Guntur.