Nineteen

1564 Words

AUTHOR POV Naya memalingkan wajahnya sambil berpura-pura memainkan ponselnya begitu tatapan Damar bertemu dengannya. Masa bodoh Damar memarahinya perihal ia yang nongkrong di kedai kopi. Toh ini masih jam istirahat. Dan buat apa juga Damar ke kantor? Bukannya hari ini dia izin cuti? Naya masih bergumul dengan pikiran-pikiran buruknya. Belum lagi adegan manis yang tadi Keira pertontonkan di depan orang banyak. Ya...Naya memang tidak berhak cemburu atas Damar. Toh, Damar bukan siapa-siapa dirinya. Hanya sekedar atasan saja. Tapi Damar begitu keukeuh 'menembaknya' di Malang bahkan sebelum tentu. Rasanya Naya ingin murka saja. Kenapa Damar jadi plin-plan begini pada perasaannya? "Sendirian?" Tiba-tiba Damar menarik kursi dari salah satu meja dan duduk di hadapan Naya. Naya yang setengah ma

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD