Twenty

1357 Words

DANAYA POV Aku masih menangis pelan di dalam mobil. Pak Damar benar-benar mengantarku ke Bandung malam ini juga. Aku jelas tak bisa menolak bantuannya. Kali ini aku tidak tau lagi harus bagaimana. Telepon Mba Dinda dengan nada suaranya yang bergetar membuatku sangat khawatir dengan keadaan Papa.  "Tenang aja. Berdoa. Pasti semua baik-baik aja."  Pak Damar menggenggam salah satu tanganku. Aku menoleh dan menatapnya yang tengah menyetir. Aku tau raut wajahnya juga ikut panik. Mungkin terbawa efek diriku yang panik juga. Tapi entah disaat seperti ini, perasaanku padanya seakan bertambah. Rasa nyaman itu, aku merasakannya. Aku merasa nyaman, aman dan tenang. Seakan-akan aku tak terlalu khawatir karena Pak Damar di sampingku. Kurang lebih 2,5 jam kami sudah sampai di Kota Bandung. Aku memin

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD