Seventeen

1205 Words

AUTHOR POV Naya membuka pintu kamarnya dengan hati-hati. Damar sudah berdiri dengan wajah teduhnya. Naya masih bingung, kenapa Damar seakan keukeuh sekali mendekati Naya. Apa Naya memang harus memberi jawaban dan kejelasan pada Damar? Tapi Naya pikir ini terlalu cepat. "Nay..." panggil Damar pelan.  "Iya Pak? Bapak butuh bantuan saya?"  Damar menatap Naya dengan wajah ragu-ragu. Naya masih menunggu jawaban Damar. Untung saja tidak ada yang berlalu-lalang di lorong. Naya hanya takut saja jika nanti justru jadi omongan yang tak mengenakkan. "Saya ga akan paksa kamu untuk jawab perasaan saya. Tapi izinin saya untuk berusaha mendekatkan diri." Naya menelan ludahnya. Damar yang diktator, bossy, angkuh, bahkan bisa bicara seperti ini pada Naya? "Pak, saya gamau kalo masalah personal disan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD