Suara lengkingan panjang dari monitor detak jantung memutus segala harapan di ruang ICU. Garis hijau di layar yang tadinya naik-turun kini berubah menjadi garis lurus tanpa gelombang. Dokter menghentikan gerakan tangannya, perlahan menurunkan alat kejut jantung dan menatap jam dinding di ruangan. "Waktu kematian, pukul nol enam lewat empat belas menit pagi," ucap dokter pelan, lalu menoleh ke arah keluarga dengan tatapan penuh simpati. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin... Pak Parji sudah tiada." "GAAAAKKK! KANG MAS! KANG PARJIII!" Jeritan Sari memecah keheningan rumah sakit. Tubuhnya ambruk total ke lantai dingin, menangis meraung-raung memanggil nama suaminya. Danu yang berlutut di sampingnya langsung memeluk tubuh Mbak Sari rapat-rapat. Air mata Danu menetes deras membasahi

