Keesokan paginya, embun masih menempel tebal di daun-daun pohon mangga depan rumah. Udara pagi terasa sangat segar dan sejuk. Di teras samping, Danu sudah duduk santai memegang cangkir berisi kopi hitam panas yang masih berasap. Tak lama kemudian, Parji keluar dari pintu samping dengan pakaian kerja sederhananya. Wajahnya terlihat jauh lebih segar setelah beristirahat seharian penuh kemarin. Danu menarik kursi kayu di seberang Danu lalu duduk sambil menguap pelan. "Pagi, Nu," sapa Parji sambil menggosok-gosok kedua tangannya yang kedinginan. "Pagi, Kang. Gimana kepalanya? Masih pening?" tanya Danu sambil menggeser cangkir kopi ke dekat abangnya. "Wis lumayan, Nu. Wis rasane padhang pikiranku," jawab Parji menyeruput kopi hangat itu perlahan. "Jalur napas rasane lega habis tidur seha

