Matahari siang mulai terik menyengat kulit. Setelah berjalan-jalan mengelilingi area persawahan di ujung desa untuk menyegarkan pikiran sekaligus melihat potensi desa, Danu memutuskan untuk melangkah pulang.
Di pertigaan jalan, langkahnya terhenti di depan warung makan sederhana milik Mak Erna.
Bangunan warung beratap seng itu tampak lumayan ramai.
Aroma tumis kangkung dan gorengan hangat langsung menyambut penciuman Danu saat ia mengibaskan serbuk jerami yang menempel di celana jinsnya.
"Sugeng siang, Mak Erna," sapa Danu ramah sambil melangkah masuk ke dalam warung.
Mak Erna yang sedang sibuk menuangkan sayur lodeh ke dalam mangkuk seketika mendongak.
Wajah emak-emak itu langsung berseri-seri.
"Oalah, Mas Danu! Mari, Mas, melbu-melbu! Pinarak disik," seru Mak Erna heboh sambil mengelap meja kayu dengan serbet bersih. "Tumben siang-siang jalan-jalan ke persawahan, Nu?"
Danu tersenyum tipis lalu duduk di kursi kayu panjang. "Iya nih, Mak. Sekalian cuci mata sama ngeliat suasana kampung. Ternyata udara sawah masih seger banget ya."
"Ya jelas toh, beda sama kota yang isinya cuma asap kendaraan," kekeh Mak Erna. "Mau makan siang sekalian, Nu? Ada ayam goreng, lodeh, sama balado terong baru matang ini."
"Wah, saya masih kenyang, Mak. Paling mau pesen kopi hitam panas aja satu, gulanya dikit aja ya," jawab Danu santai.
"Siap, Mas Danu! Tunggu sebentar ya," kata Mak Erna. Ia lalu berbalik dan menoleh ke arah sudut meja kasir. "Thik! Ratih! Ini buatkan kopi hitam buat Mas Danu!"
Di sudut warung dekat jendela, seorang gadis muda dengan kaus polos dan celana jins tampak sedang duduk tekun di depan laptop yang menyala.
Buku-buku tebal berantakan di sekelilingnya. Mendengar nama Danu disebut, Ratih—putri Mak Erna—seketika tersentak kaget.
"E-eh... iya, Mak!" sahut Ratih buru-buru. Wajah cantiknya mendadak merona merah saat matanya tak sengaja berpapasan dengan pandangan Danu.
Ratih berdiri dengan canggung, mengambil cangkir kaleng lalu mulai menyeduh kopi.
Danu memperhatikan buku-buku yang terbuka di meja Ratih dari tempat duduknya.
"Lagi sibuk ngapain tuh, Ratih?" tanya Danu membuka percakapan dengan nada bersahabat.
Ratih membawa cangkir kopi yang berasap tipis dengan tangan yang sedikit gemetar, meletakkannya perlahan di depan Danu. "Ini... lagi baca materi kuliah, Mas. Sebentar lagi ada jadwal kuliah online jam satu siang."
"Oh, kuliah online? Kamu jurusan apa di kampus kabupaten?" tanya Danu sambil mengaduk kopinya perlahan.
"Manajemen, Mas Danu," jawab Ratih pelan sambil merapikan rambutnya yang agak berantakan. "Lagi pusing banget ini ngerjain tugas Analisis Swot sama strategi pemasaran. Materinya agak susah dipahami kalau cuma baca dari slide Dosen."
Danu terkekeh pelan, kekehan rendah yang terdengar ramah dan tenang. "Alah, Manajemen mah makanan sehari-hari anak teknik juga pas belajar manajemen proyek. Susah di bagian mananya?"
Ratih mendongak, matanya berbinar penasaran. "Itu loh, Mas... cara menentukan keunggulan bersaing buat usaha kecil yang modalnya pas-pasan. Rasanya teori di buku beda banget sama kenyataan di lapangan."
Mak Erna yang mendengar percakapan itu ikut menimpali sambil membawa piring berisi pisang goreng hangat ke meja Danu.
"Nah, bener itu, Nu! Kasihan si Ratih dari tadi pagi cemberut terus melototin laptop. Kamu kan lulusan kota, pinter, coba ajari anakku ini biar enggak pusing."
"Iya, Mak," senyum Danu mengembang. Ia menatap Ratih ramah. "Sini, bawa laptopnya ke meja sini. Biar tak bantu liat materi tugasmu."
Wajah Ratih makin memerah karena senang bercampur malu. "Beneran enggak apa-apa nih, Mas Danu? Enggak ganggu waktu Mas?"
"Enggak lah, santai aja. Lagian saya juga lagi luang kok," sahut Danu santai sambil menyeruput kopinya pelan.
Ratih dengan bersemangat mengambil laptop dan buku catatannya, lalu duduk di seberang meja Danu. "Ini Mas, tugasnya disuruh bikin analisis strategi pemasaran buat usaha jasa lokal yang lagi kalah saing."
Danu membaca slide di layar laptop Ratih sejenak, lalu mengangguk-angguk paham. Kebetulan sekali, topik tugas Ratih ini sangat relevan dengan masalah yang sedang dihadapi oleh usaha Bidan Sari di rumahnya.
"Nah, liat di slide ini," tunjuk Danu dengan jari tangannya di dekat layar. "Kalau modal kecil, kita jangan pernah tarung langsung lawan pesaing besar di area yang sama. Konsep dasarnya itu diferensiasi dan layanan langsung. Jangan cuma nunggu bola, tapi jemput bola."
Ratih mendengarkan dengan serius, sesekali mencatat poin-poin penting di bukunya. "Jemput bola itu maksudnya gimana, Mas?"
"Misalnya gini," jelas Danu dengan gaya bicara santai namun sangat terstruktur. "Pesaing punya gedung megah dan alat canggih. Kita enggak punya itu. Jadi, keunggulan kita apa? Pelayanan yang lebih personal, perhatian penuh, dan kemudahan akses. Kita yang datang ke rumah konsumen, bukan konsumen yang cape-cape antre di klinik."
Mak Erna yang mendengarkan dari balik meja prasmanan manggut-manggut kagum. "Wah, pinter tenan Mas Danu ini! Ngomongnya tertata banget, gampang dimengerti."
Ratih tersenyum lebar, menatap Danu dengan binar mata penuh rasa kagum. "Wah, iya Mas! Masuk akal banget! Jadi paham aku sekarang. Makasih banyak ya, Mas Danu!"
"Sama-sama, Ratih. Belajar yang rajin. Kalau nanti ada materi yang bikin pusing lagi, tanyain aja," kata Danu sambil tersenyum hangat. "Nanti sore saya juga mau coba terapkan teori ini buat ngebantu usaha Bidan Sari di rumah."
"Eh? Bu Bidan Sari mau bikin layanan jemput bola juga, Mas?" tanya Ratih penasaran.
"Iya. Praktek Mbak Sari kan lagi sepi gara-gara ada praktek lain. Daripada cuma meratapi nasib, mending kita ubah strateginya," jawab Danu tenang penuh keyakinan.
Ratih mengangguk-angguk paham. "Hebat ya Mas Danu, baru pulang kampung langsung bisa jadi pahlawan buat keluarga."
"Ah, biasa aja," sahut Danu rendah hati. Ia lalu merogoh saku celananya untuk mengeluarkan uang bayaran kopi dan pisang goreng. "Mak Erna, ini uang kopinya ya."
"Eh, usah, Nu! Enggak usah bayar! Anggap aja ini imbalan udah ngajarin Ratih kuliah," tolak Mak Erna sambil mengibaskan tangan.
"Jangan gitu dong, Mak. Usaha kan tetap usaha," senyum Danu tetap meletakkan uang lembaran di meja. "Saya pamit pulang dulu ya, mau lanjut bantu-bantu di rumah."
"Matur nuwun ya, Mas Danu!" seru Ratih dengan senyuman manis yang tak lepas menatap punggung Danu hingga pemuda itu melangkah keluar dari warung.