Chapter 7

922 Words
Matahari mulai naik setinggi pohon kelapa. Setelah situasi di rumah agak mereda dan Parji kembali masuk ke kamar untuk menenangkan diri, Sari memutuskan pergi ke pasar desa. Selain membeli bahan makanan untuk dapur, ia perlu membeli beberapa keperluan bayi yang sudah menipis. Sari berjalan menyusuri jalan setapak desa sambil menjinjing tas belanjaan dari kain. Rasa perih di sudut bibirnya masih terasa, tapi sapuan bedak tipis setidaknya bisa menyamarkan luka memar di wajahnya. Jalur menuju pasar kebetulan melewati rumah Bidan Nani di ujung jalan utama. Dari jarak lima puluh meter saja, pemandangan di halaman rumah megah itu sudah terlihat kontras. Deretan sepeda motor terparkir rapi di teras, dan bangku panjang di ruang tunggu dipenuhi emak-emak yang menggendong balita serta ibu-ibu hamil yang sedang mengantre. Sari mempercepat langkah kakinya, menunduk berpura-pura sibuk merapikan tali tasnya. Namun, suara melengking yang sangat familiar mendadak memanggilnya dari arah teras. "Eh, Bidan Sari! Mau ke mana, Bidan? Kok buru-buru banget?" Langkah Sari terhenti seketika. Ia menarik napas panjang sebelum berbalik dengan senyum tipis yang dipaksakan. Di teras klinik, Bidan Nani berdiri anggun memakai seragam bidan yang bersih, lengkap dengan perhiasan emas yang berkilau di pergelangan tangannya. "Eh, Bidan Nani. Ini mau ke pasar sebentar, beli keperluan dapur," jawab Sari seformal mungkin. "Oalah, ke pasar toh... mampir dulu sini, Bidan! Ngopi-ngopi atau minum teh manis dulu di dalam," seru Nani sambil melambaikan tangan, suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar oleh emak-emak yang sedang antre. "Enggak usah, Bidan Nani. Makasih banyak. Ini udah agak siang, takut kehabisan sayuran di pasar," tolak Sari halus tapi tegas. Nani tertawa kecil, tawa yang penuh sindiran halus khas musuh lama. Ia melangkah turun dari teras, mendekati pagar rumahnya dengan gaya yang dibuat-buat. "Halah, gayamu kok kayak orang sibuk banget toh, Ri," sindir Nani sambil melipat tangan di d**a. "Praktekmu kan lagi sepi banget, kan? Kemarin aku dengar dari ibu-ibu posyandu, bangku tunggu rumahmu kosong melompong kayak kuburan." Sari mengepalkan tangannya di dalam kantong daster, menahan rasa panas yang membakar dadanya. "Rezeki sudah ada yang mengatur, Mbak. Yang penting pelayanan tetap maksimal." "Ya jelas ada yang ngatur, makanya rezekinya ngalir ke sini semua," sahut Nani terkekeh sinis. "Lagian zaman sekarang warga ya pinter, Ri. Mana mau berobat ke tempat yang alatnya cuma tensimeter lama sama timbangan gantung. Di tempatku ada USG, ada vitamin impor, ruangan pakai AC pula. Wajar kalau warga pada pindah ke sini." Beberapa emak-emak di ruang tunggu melirik ke arah mereka berdua, saling berbisik-bisik melihat perang dingin dua bidan desa tersebut. "Setiap orang punya rezeki dan jalannya masing-masing, Mbak Nani. Saya permisi dulu," ucap Sari dingin, hendak berbalik melangkah. "Eh, tunggu dulu, Ri!" potong Nani cepat. "Ngomong-ngomong, suamimu si Parji itu gimana? Dengar-dengar kemarin didatangi orang-orangnya Pak Kupra ya? Tagihan utangnya udah numpuk puluhan juta katanya?" Darah Sari serasa berhenti mengalir. Wajahnya memucat mendengar masalah rumah tangganya dijadikan bahan gunjingan di depan umum. "Itu urusan internal keluarga saya, Ni. Enggak perlu kamu ikut campur," balas Sari, matanya menatap tajam. "Loh, aku ini kan cuma perhatian, Bidan Sari," kelakar Nani dengan nada mengejek. "Kasihan aku sama kamu. Sudah praktek sepi, suami cuma buruh kayu yang kerjanya berantakan dan banyak utang. Kalau butuh pinjaman uang buat bayar utang atau beli s**u bayi, ngomong aja sama aku. Nanti tak kasih pinjaman, itung-itung zakat." Sari memejamkan mata sejenak, meredam luapan emosi yang hampir meledak. Sari mengingat pesan Danu tadi malam untuk tetap tenang dan kepala dingin. "Terima kasih tawaran sok perhatiannya, Bidan Nani. Tapi, keluarga kami masih sanggup menyelesaikan masalah sendiri," jawab Sari tenang namun menusuk. "Dan, soal praktek ... roda itu berputar. Jangan terlalu sombong di atas.” Sari langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi, mengabaikan tawa tawa renyah Bidan Nani yang masih terdengar dari kejauhan. Sepanjang jalan ke pasar hingga kembali ke rumah, d**a Sari masih bergemuruh hebat. Rasa dihina dan diremehkan membuat air matanya menetes di sepanjang jalan setapak. Begitu sampai di halaman rumah tua, Danu yang sedang menyapu serbuk kayu di teras langsung menyadari raut wajah kakak iparnya yang sembab dan gelisah. "Mbak Sari? Ada apa?" tanya Danu cemas, menghentikan pekerjaannya dan mendekat. "Kok nangis lagi? Kang Parji bikin ulah lagi di dalam?" Sari menggeleng cepat, menyapu air matanya dengan kain jilbab. "Bukan, Nu... Kang Parji enggak apa-apa." "Terus kenapa? Siapa yang bikin Mbak menangis di jalan begini?" cecar Danu, matanya menunjukkan rasa perlindungan yang kuat. "Tadi... pas Mbak mau ke pasar, lewat depan rumah Bidan Nani," bisik Sari parau. "Dia sengaja panggil Mbak, terus nyindir-nyindir di depan pasien-pasiennya." Danu mengerutkan dahi. "Dia bilang apa saja sama Mbak Sari?" "Dia ngetawain praktek Mbak yang sepi, terus dia juga bahas soal utang Kang Parji sama Pak Kupra," adu Sari, suaranya bergetar menahan malu. "Dia bahkan nawarin uang kasihan ke Mbak, Nu... Mbak rasanya dihina banget..." Mendengar hal itu, raut wajah Danu mendadak dingin. Tatapan matanya tajam dan penuh ketegasan khas anak kota yang tak terbiasa dibodohi. "Mbak enggak usah ambil hati," kata Danu tenang, suaranya begitu menyejukkan. "Bidan Nani itu cuma merasa di atas angin karena belum ada yang menyaingi strategi bisnisnya." "Tapi, pasien Mbak habis diambil semua sama dia, Nu. Mbak rasanya mau tutup aja papan praktek di depan itu," desah Sari pasrah. "Enggak ada yang boleh ditutup," potong Danu cepat. "Mbak Sari itu bidan yang terdidik dan punya hati. Mulai sore ini, kita susun strategi baru. Kita buktikan kalau pelayanan Mbak jauh lebih unggul daripada sekadar klinik mentereng milik Bidan Nani." Sari mendongak, menatap mata adik iparnya yang memancarkan keyakinan besar. Rasa sedih dan hancur di dadanya perlahan terkikis, berganti dengan semangat baru yang ditiupkan oleh Danu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD