"Benar-benar tidak perlu repot-repot begini, Pak Gavin. Kami menolong murni karena kemanusiaan, bukan karena berharap imbalan apa pun," ucap Danu dengan nada suara yang tetap santai namun penuh ketegasan, berdiri di samping brankar rumah sakit kota. Pria bernama Gavin Lorenso itu yang tubuhnya masih agak kaku dan dipenuhi luka memar bekas air laut, menatap Danu dan Ratih dengan raut wajah penuh rasa hormat. Pandangan matanya yang tajam mengisyaratkan bahwa dia bukan sekedar orang biasa di kota ini. "Anak muda, kalian berdua ini sudah menyelamatkan nyawa saya dan orang kepercayaan saya dari dasar muara," jawab Gavin dengan suara serak namun berwibawa. "Di dunia saya, hutang nyawa itu adalah hutang terbesar yang harus dibayar lunas. Saya tidak menerima penolakan." Ratih yang berdiri di s

