Chapter 23

1014 Words

Sari terbangun saat matahari pagi mulai merayap naik menembus celah jendela kamar utama. Rasa pening masih bergelayut di kepalanya, sisa dari luapan emosi dan tangis yang meledak semalam. Begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya, pikiran pertama yang terlintas di otak sang bidan adalah Danu. Sari buru-buru bangkit dari ranjang, merapikan dasternya yang agak kusut dan mengenakan hijabnya lalu melangkah cepat menuju kamar luar. Pintu kamar luar tampak terbuka sedikit. Dengan jantung berdebar tak beraturan, Sari mendorong pintu kayu itu pelan-pelan, namun kosong. Ranjang kapuk di dalam ruangan itu sudah rapi, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan sang sarjana muda di sana. Sari seketika tersentak, napasnya tertahan di tenggorokan. Kepanikan luar biasa langsung menjalar ke seluruh tubuh

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD