Ocha memang bukan tipe yang suka menilai orang buruk. Hatinya terlalu lembut untuk mencurigai siapa pun yang hadir dalam hidupnya, tapi pada Erga, dia memberi pengecualian. Krisis kepercayaannya terperosok jauh untuk kembali ke pijakan semula. Jika mau disuruh memilih, dia tidak mau mengenal Erga Pratama yang dulu begitu manis memperlakukannya. Yang kini hanya membuatnya sakit hati. "Kamu mau aku gimana?" tanya Erga, frustasi. Ocha tidak mendengarkan Erga. Perempuan hamil itu memilih membaca buku kehamilan agar lebih banyak tahu mengenai masa persalinan nanti. Dia bahkan menyiapkan diri agar tidak panik jika mengalami kontraksi atau pecah ketuban lebih dulu. "Ocha? Jawab, dong." Ocha yang lama-lama merasa kesal, pada akhirnya meletakkan bukunya di atas ranjang, lalu menengadah deng

