Kantor kepolisian distrik sembilan Gangnam. Di salah satu ruangan Yunki berada di sana duduk bersama Taejo dan pengacaranya. Pria itu yang melakukan penusukan pada Reya. Yunki diam sejak datang, sementara tangannya terus mengepal di bawah meja. Sedangkan Taejo terus saja menunduk ia terlihat merasa bersalah.
"Apa alasanmu melakukan penusukan itu?" tanya Dongwoo pengacara yang dibawa Yunki. Salah satu pengacara muda terbaik. Dan juga teman dari sang CEO.
Taejo menelan Saliva, bergerak gelisah, sementara matanya berkedip cepat beberapa kali. Ia takut, juga merasa bersalah, sangat merasa bersalah.
"Aku... Tak bermaksud melakukan itu—" ia terdiam dengan jemarinya yang saling ia mainkan.
"Lalu?" Tanya Dongwoo.
"Aku mabuk, ia menarik ibuku. Aku—" Taejo mengacak rambutnya frustasi, sedikit kesulitan karena tangannya yang terborgol. Mabuk membuat ia hilang akal lalu, ia menjadi kesal dan marah.
Sementara Yunki tersenyum sinis, sesaat lalu kembali dengan wajahnya yang kesal dan marah. Ia masih diam saja, meski dalam hati ingin sekali memukul pria di hadapannya itu.
"Dia tak melakukan apapun kan? Dia hanya menyelamatkan ibumu. Lalu kau marah karena dia menarik ibumu, hingga kau kehilangan kesempatan mendapat uang? Lalu pisau itu? Pisau itu tak mungkin muncul begitu saja kan?kau sengaja melakukannya kan, merencanakan penusukan pada ibumu ...." Dongwoo mencecar pertanyaan pada Taejo yang terlihat semakin tak bisa mengendalikan dirinya.
"BAIK! AKU SENGAJA INGIN MEMBUNUH IBUKU! AKU TAK PUNYA PEKERJAAN. SEMENTARA IA TERUS SAJA MEREPOTKAN. IA HARUSNYA BISA MEMBERI UANG YANG IA DAPAT DARI ASURANSI KEMATIAN ADIKKU!! TAPI—"
Buuggh!
Sebuah pukulan mendarat di wajah Taejo. Siapa lagi kalau bukan Yunki pelakunya. Pria itu terhuyung sedikit ke belakang. Melihat it Dongwoo menahan Yunki. Ia tak ingin kliennya itu mendapat masalah nantinya.
"TAPI REYA TAK MELAKUKAN APAPUN PADA MU K*PARAT!"
"Dia tak seharusnya ada di sana! Aku sudah ingatkan untuk menjauh. Tapi, dia mencaci ku!"
Dua petugas kepolisian masuk, satu orang memegangi Yunki yang lainnya membawa Taejo kembali ke dalam. Yunki berdiri dengan marah, napasnya terengah-engah. Menahan amarah rupanya membuat tubuhnya terasa lelah.
"Tahan emosimu. Ini tak baik, jika kau marah seperti ini." Dongwoo mengingatkan. Lalu ia menepuk bahu si pucat, yang masih berdiri menatap pintu menuju sel yang tertutup.
Mereka berdua berjalan keluar, wajah Tuan Min masih terlihat sangat marah. Entah berapa kali helaan napas terdengar darinya. Ia melihat seorang remaja yang sedang duduk bersama Ketua Ji, salah satu anggota kepolisian yang menangani kasus mendiang tunangannya.
Jiwook mengangguk melihat Yunki dan Dongwoon. "Kalian sudah bertemu dengan Jeon-gu?" Ia menunjuk anak laki-laki di hadapannya.
Jeon-gu menoleh melihat dirinya diperkenalkan. Lalu mengangguk hormat.
Yunki menatap, mengangguk singkat. "Kau ... Melihat semua?"
"Nde," jawab Jeon-gu.
"Dia adalah penjaga minimarket. Tempat di mana korban malam itu berada sebelum pe—" Jiwook melirik melihat Dongwoo yang memberi isyarat dengan tatapannya agar pria itu tak melanjutkan ucapannya. "Ke-jadian itu."
Yunki duduk di kursi lain yang ada di sana. "Kau sudah makan siang?"
Jeon-gu menggeleng dengan raut wajah bingung.
Lalu Yunki menatap jam di tangannya. "Kita makan siang setelah interogasi ini."
***
Di taman Reya duduk memangku seekor anjing golden retriever besar yang sedari tadi menatap ke arah jalan. Di sana tubuh anjing itu tergeletak, sementara ada seekor anjing kecil serupa menunggu tubuh yang tak bernyawa.
"Anakmu masih menunggu di sana."
Mendengar ucapan Reya membuat sang anjing besar semakin terkulai. Ia lalu bergerak menatap Reya seolah meminta tolong.
"Tapi, aku tak boleh berurusan dengan yang masih bernyawa. Senior Jim bilang tugasku hanya mengantar kalian ke gerbang putih."
Mendengar ucapan Reya membuat sang anjing lunglai. Sementara Reya masih menatap anak anjing kecil yang sesekali terdengar merengek. Gadis itu iba, lalu berdiri menurunkan induk anjing, ia melangkah mendekati anak anjing itu, induk anjing mengikuti. Anjing kecil itu menatap Reya, saat ia berada di dekatnya.
"Kau bisa melihatku?"
Terdengar suara dari anjing kecil itu. "Kau harus kembali ke tempat pemilik mu. Aku akan membawa ibumu ke tempat terbaik. Hmm?"
"Ekhmm."
Suara di belakang membuat gadis itu menoleh. Jimmy berdiri di sana, menatap juniornya dengan serius. "Sudah kukatakan, apa tugasmu kan?"
"Tapi dia—"
"Kau tau aturannya."
"Aku hany—"
"Jangan berurusan dengan yang hidup. Anak anjing ini punya takdirnya sendiri. Sekalipun jika ia mati di sini, karena menunggu jasad ibunya itu takdirnya."
"Senior, dia masih sangat kecil. Bagaimana bisa kau berkata seperti itu."
Jimmy menghela napas. Kesal juga karena gadis itu terus saja lemah dengan tugasnya. "Bawa dia ke gerbang putih. Waktunya tinggal sebentar lagi. Atau dia tak akan bisa bereinkarnasi. Jika itu terjadi kau akan mendapat hukuman."
Reya mengangguk lemas, lalu menatap ke arah sang anjing besar. Mengajaknya melangkah kembali ke taman. Keduanya berjalan dengan lesu. Langkah Reya terhenti di dekat pohon besar. Lalu sebuah gerbang putih terbuat dari kayu tua, Reya membuka. Lalu membiarkan sang anjing besar masuk. Induk anjing masuk dengan enggan.
"Anakmu akan memiliki nasib baik. Meski keras dan tegas, senior Jimmy sangat baik."
Setelah sang anjing besar masuk. Gadis itu kembali berjalan menuju Jimmy yang berada tak jauh darinya.
"Anak anjing itu?"
"Pemiliknya sudah mengambilnya."
"Syukurlah."
***
Yunki berada di sebuah restoran cepat saji, ia menyesap kopi dingin miliknya. Sementara Jeon-gu sibuk menikmati burger ekstra keju miliknya.
"Hmmm, kau bisa ceritakan apa yang dilakukan tunangan ku malam itu."
Mendengar itu membuat Jeon-gu terhenti dari kegiatannya, menatap Yunki dengan iba. Bagaimana caranya menceritakan itu? Jelas itu akan membuat pria di hadapannya terluka. Mengingat bagaimana ayah ya begitu terluka saat ibunya meninggal enam tahun yang lalu.
"Apa anda ingin mendengarnya?"
"Tentu," jawab Yunki cepat.
"Maksudku, apa anda akan baik-baik saja."
Yunki mengangguk, meski jelas Jeon-gu bisa melihat betapa putus adanya pria yang kini duduk di hadapannya.
"Malam itu ia datang untuk makan ramen. Semua baik-baik saja, sampai keributan terjadi di seberang jalan. Sebenarnya, tak ada yang memerhatikan itu. Maksudku ... Tak terdengar hingga minimarket. Namun sepertinya, nona itu melihat dari kaca miliknya. Sebelumnya, aku mendengar ia berbicara melalui ponselnya. Mungkin dengan kakak laki-lakinya. Lalu setelah panggilan dimatikan ia kembali makan sambil menatap jalan—" Jeon-gu terhenti, meski Yunki terlihat antusias.
"Lalu?"
"Nona itu—"
"Namanya Reya, Kim Reya."
"Ah, Reya nona berjalan keluar. Ia menolong nenek itu. Saat itu aku kedatangan pelanggan. Ingin sekali memintanya kembali. Lalu saat aku berjalan keluar, dia—" lagi Jeon-gu terhenti menatap Yunki, sungguh ini menjadi beban untuknya.
"Dia?"
"Dia sudah tergeletak di jalan. Aku segera mendekat tapi, pria itu sudah tak ada. Juga nenek itu keduanya berada di sana." Jeon-gu menjelaskan meski suaranya bergetar. Sejujurnya, kejadian ini menggangunya. Pikirannya jadi sering mengingat kejadian buruk itu. Meski ia terlihat baik-baik saja, harus diakui ia cukup terguncang.
Sementara Yunki menelan saliva sementara, tubuhnya lemas seketika. Meski ia sudah mengetahui rubrik kejadiannya. Tetap saja ia penasaran, ingin rasanya malam itu menghalangi wanita yang ia cintai itu, agar tetap diam di rumah. Namun, jelas Reya akan membangkang. Kegiatan berbaginya kini justru membawa maut.
Sementara Jeon-gu terus mengamati Yunki yang kini menatap ke arah jalan. Pikiran sang pria pucatseolah kosong dari sudut pandang anak itu. Ia juga mengingat saat sang ayah Heosok ketika ia berduka.
"Sepertinya ada jalan, agar anda bisa melihat tunangan anda kembali."
"Apa?"
"Pemanggilan arwah. Ayahku seorang saman, ia bisa memanggil arwah. Waktu ibuku meninggal ia melakukan itu. Namun gagal, karena sudah melebihi hari ketentuan. Sebelum empat puluh hari. Arwah biasanya masih ada di sekitar kita."
Jeon-gu berucap yakin, melihat Yunki yang putus asa benar-benar membawanya pada ingatan sedih tentang ayah dan mendiang ibunya.
***