★Sembilan★

1136 Words
Sebuah ruang kerja minimalis, luasnya tak seluas ruangan Yunki. Di sana Minjoon duduk, menopang wajah dengan tangannya. Di sampingnya Jungseo tangan kanannya, duduk di meja kerjanya. "Yunki belum masuk juga?" Jungseo mengangguk. "Dua Minggu ini ia sama sekali tak datang ke kantor. Sekertarisnya Seah yang mengantarkan semua laporan untuk ia tanda tangani. Atau Seojun yang datang ke kantor." "Ah, Seojun bersamanya lagi?" "Nde, sepertinya kondisinya masih belum pulih semenjak Nona Kim tiada. Beberapa kali ia masih datang ke klub." Minjoon menyeringai sesaat. Ini bisa jadi jadi kesempatannya, mengingat beberapa bulan lagi adalah pemilihan CEO baru. Lalu sesaat kemudian ia kembali menjadi sedih. "Dia pasti sangat terluka karena Reya tiada. Gadis itu baik sekali, sejak dulu," ujar Minjoon mendadak teringat akan teman sekolahnya dulu. Minjoon terdiam menatap ke depan. Sementara Jungseo memerhatikan tuannya. "Anda ... Tak menyukai Nona Kim 'kan?" Minjoon tersenyum lalu mengangkat bahunya. Jungseo ingat bahwa gadis yang selama ini dibicarakan sang atasan hanya Reya. Yang bisa dekat dengan Minjoon, mengobrol dan membuat pria itu tertawa lepas hanya Reya. Jungseo bisa menerka dengan mudah sebenarnya. Hanya saja, ia tak ingin membuat Minjoon sedih Sementara di sisi lain Yunki berjalan memasuki kantor. Setelah hampir dua Minggu tak ia datangi. Sebenarnya pria pucat itu mempunyai kaki tangan, hanya saja ia tak suka diawasi dan diikuti. Ia lebih suka melakukan apapun sendiri atau diawasi dari kejauhan. Ia melangkah masuk tanpa sedikit senyum. Wajahnya masih belum terlihat baik, semakin dingin dan memberi kesan otoriter. Meski sebenarnya ia tak terlalu seperti itu. Meski ia keras tapi, Yunki selalu berusaha mengajak anak buahnya berdiskusi. Ia tak pantang menerima masukan. Yang jadi pemikirannya adalah bahwa pekerja di bawahnya adalah ujung tombak perusahaan. Mereka berada di baris depan, melihat kondisi nyata dari Elanis. Pria itu kini masuk ke ruangan. Segera duduk di kursinya. Sekilas memerhatikan ruangan tempat ia bekerja, setelahnya helaan napas terdengar. Ia sepertinya masih belum siap. Namun, ia mulai sadar bahwa harus terus berjalan. Di meja kerjanya terdapat pigura foto. Dirinya, Reya dan William. Ia menatap sendu, mengarahkan jemarinya, lalu mengusap lembut wajah mendiang tunangannya. Lagi, ia menghela napas dengan tatapan mata yang tetap mengarah pada Reya. Sebelum akhirnya ia berpaling karena mendengar pintu diketuk. "Masuk." Terlihat Seah membuka pintu membawa beberapa laporan di tangannya. "Permisi Tuan." "Masuklah Seah." Sang sekretaris berjalan mendekat, setelah tiba di samping atasannya, Seah meletakan laporan yang ia bawa di meja. "Ini laporan perkembangan indeks saham, juga fluktuasi nilainya. Lalu yang di meja adalah beberapa pengajuan perjanjian sponsor baru. Maaf, mungkin anda masih dalam kondisi tak baik—" Seah menghentikan ucapannya. Memerhatikan Yunki yang sejak tadi masih diam. "Lanjutkan." "Ah, baik. Beberapa rekanan ingin kembali bekerja sama, ada juga beberapa rekanan baru. Biasanya anda yang akan memilah untuk kemudian disetujui. Ini beberapa ajuan yang sudah dipilih." Yunki mengangguk, biasanya ia bersemangat. Kali ini ia masih belum menemukan ritme kerja yang biasanya. "Hmm, apa anda ingin sesuatu Tuan Min?" "Americano dingin, dengan eks—" pria itu terhenti. "Ah tidak, aku ingin yang lain. Berikan aku apa saja." Seah mengangguk, ia terlihat sedih juga dengan apa yang menimpa atasannya. "Kalau begitu saya akan buatkan." "Hmm." Si pucat menjawab singkat. *** Jeon-gu dan sang ayah Heosok duduk di ruang tengah. Anak laki-laki pemilik gigi kelinci itu duduk seraya sibuk mengunyah kudapan yang berada di tangannya. Sementara Heosok sedang membersihkan pedang kayu yang biasa ia gunakan untuk ritual. Jeon-gu tersentak teringat kejadian siang tadi. Ia belum mengatakan itu pada saat ayah. "Ayah bukankah kau bisa melakukan pemanggilan arwah?" Ia melirik ke arah Jeon-gu. "Mengapa kau bertanya seperti itu?" "Aku berkata pada seseorang bahwa kau bisa melakukan pemanggilan arwah." "Aish! Aku saja gagal memanggil ibumu." "Ayah bilang itu karena sudah melewati waktunya kan?" Pria itu menatap ke langit-langit rumahnya lalu mengangguk. "Sudah lewat masanya. Rohnya tak ada lagi di bumi. Ia mungkin telah melewati gerbang menuju surga." Jeon-gu menatap sedih. Ia bisa merasakan bagaimana sang ayah begitu mencintai ibunya. Anak itu menghela napas saat sang ayah kembali pada kegiatannya "Memangnya siapa yang ingin kau bantu?" "Tunangan dari gadis yang tewas itu." Heosok menatap Jeon-gu, mulai serius dengan pembaca malam ini. "Yang membuatmu menjadi saksi?" "Iya." Heosok memukul kepala Jeon-gu, jelas itu membuat anak laki-laki itu kesakitan lalu memekik dan spontan mengusap kepalanya. "Kau tak tau, jika manusia yang tewas si bunuh bisa saja menjadi roh jahat, karena dendamnya yang belum terselesaikan?" "Tapi, gadis ini orang baik. Saat aku menjaga toko, beberapa orang datang bertanya tentang kebenaran penusukan itu. Setiap mereka-mereka yang datang selalu menyayangkan dan berkata jika dia gadis yang baik. Tak mungkin jika ia menjadi roh jahat." Heosok terdiam. "Ya, bisa saja dia tak menjadi roh jahat." "Direktur itu—" "Direktur?" "Iya, pria, kekasih gadis itu direktur Elanis." Jeon-gu menjawab terlihat sedikit sombong. Heosok, menatap anak laki-lakinya sesaat. Ia terdiam dengan matanya yang menatap dengan terkejut. "Taman bermain di terbesar di Seoul itu?" Jeon-gu mengangguk. "Iya, dia CEO Min Yunki." *** Hari semakin malam, sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Suasana kota Seoul masih sibuk, tak pernah sepi. Sementara di ruangannya, Yunki masih sibuk dengan laporan. Yang telah ia baca dan ditandatangani sebagian. Pria itu berdiri bersandar pada meja kerjanya, mengenakan kemeja putih, jas miliknya tersampir di kursi kerjanya. Ia membaca dengan teliti tiap kata dari pengajuan atau laporan lain. Sesekali melonggarkan simpul dasi yang dikenakannya. Pintu terbuka saat seorang masuk. Dia adalah Seojun. "Tuan." Pria itu masuk membawa makan malam. "Nyonya memintaku membawa makan malam." Ia menggerakkan tangannya yang masih memegang laporan. Mengisyaratkan agar sang pengawal meletakan makanan yang ia bawa ke meja kaca di depannya. Yunki lalu berjalan menuju meja sofa yang biasa digunakan untuk ia beristirahat, atau mengobrol santai dengan tamu. Seojun baru saja akan melangkah keluar. Sebelum Yunki memintanya duduk bersama. "Ayo kita makan bersama." Pria tetap itu mengangguk lalu duduk di sofa yang berada bersebrangan dengan tuannya. Sesekali pria itu melirik Yunki yang sibuk membuka makanannya. Ia lalu memberikan salah satu kotak bekal pada Seojun, setelahnya memberikan sendok. "Ibuku ada di apartemen?" Lagi pria itu mengangguk. "Ia membawa makanan dan juga beberapa obat. Ia ingin aku menjaga anda. Dan tak lagi berada di rumah utama." "Aku baik-baik saja. Lakukan pekerjaan seperti biasa. Aku lebih nyaman tak diikuti." Yunki mengambil sepotong daging lalu menyantapnya. "Reya akan marah jika aku bekerja hingga larut seperti ini." Seojun hanya diam tak tau apa yang harus ia katakan untuk sekadar menghibur atasannya itu. Yang kemudian ia lakukan hanya mengangguk dan mulai menyantap makan malam dengan canggung. "Seojun, kau percaya pada hal seperti roh atau hantu?" "Nde?" "Apa kau percaya jika roh ada jiwa dari orang yang telah mati bisa kembali?" tanya Yunki masih sibuk mengunyah makan malamnya. Sementara yang ditanya masih diam, memikirkan jawaban dari pertanyaan tuannya. "Tuan anda baik-baik saja 'kan?" Akhirnya pertanyaan itu terlontar dari bibirnya. Yunki hanya mengangguk lalu tersenyum. "Makan saja, jangan pedulikan apa yang aku katakan barusan." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD