Di sebuah pub, Yunki duduk menikmati minuman malamnya. Tiap teguk ia nikmati dalam diam. Sejujurnya apa yang dikatakan Jeon-gu beberapa hari yang lalu mengganggu pikirannya. Ia ingin, hanya saja ia tak mempercayai hal semacam itu.
Saat itu Minjoon berjalan masuk,sepertinya malam ini ia ingin menghabiskan malam dengan minum-minum. Melupakan segala masalah yang ia hadapi seharian tadi. Ia melangkah seraya merapikan lengan bajunya. Sesekali helaan napas terdengar dari bibirnya. Langkahnya terhenti saat melewati Yunki. Ia berdiri sesaat memikirkan apakah ia harus menghampiri atau melewati sepupunya itu. Akhirnya, ia memutuskan untuk mendekat.
Sementara yang dihampiri berusaha acuh. Sampai saat Minjoon kini duduk di sampingnya.
"Sejak kapan kau ada di sini?" Minjoon bertanya sambil mengangkat tangannya meminta pelayan untuk mendekat. Pria itu ingin memesan sesuatu tentu saja.
"Apa kini mengetahui segala kegiatanku jadi tugas barumu?" tanya Yunki jelas terdengar ia kesal.
Minjoon mendengkus kesal juga dengan apa yang dikatakan Yunki barusan. Ia memilih tak terlalu memikirkan. Saat itu seorang pelayan mendekat. Yunki sibuk dengan minumannya saat pria di sebelahnya kini tengah memesan minuman untuk menemani dirinya malam ini. Setelah memesan minuman pria pemilik badan tegap itu melirik ke arah si pucat.
"Aku tau kau sangat terluka karena kepergian Reya. Aku tau bahkan William terpaksa meninggalkan Korea untuk sementara waktu."
Yunki terkekeh singkat, tatapannya lalu mengarah tajam pada Minjoon. "Kau tau semua yang kau katakan itu bukan urusanmu?" Yunki berucap dingin namun jelas terdengar amarah di sana.
"Kenapa kau selalu seperti ini? bersikaplah lebih baik. Aku sama sekali tidak pernah menganggapmu musuhku."
Yunki tak percaya tentu saja. Selama ini jelas Minjoon selalu menjadi orang yang menghalangi semua urusannya
"Yang benar saja," Yunki bergumam. Namun jelas Minjoon mendengar itu.
"Sebenarnya, aku dan Reya sempat dekat sesaat. Kau dan William harus ke Amerika. Lalu aku mengambil kelas akselerasi agar bisa kuliah lebih cepat—"
"Ya agar ayahmu bisa memintamu mengganggu jalanku."
Minjoon tak menampik, ia hanya tersenyum sekilas si sudut bibirnya. Benar hanya ia anak satu-satunya dari keluarga. Sama halnya Yunki yang juga pewaris tunggal.
"Katakan padaku jika apa yang akan kukatakan ini salah. Reya tak suka bunga, ia akan lebih memilih kaktus; ia sangat suka teok dimakan dengan telur rebus; ia suka matcha, segala tentang teh hijau adalah kesukaannya."
"Sudahlah, itu pernah menjadi bahasan artikel majalah bisnis." Yunki terkekeh menganggap Minjoon hanya mendapatkan info dari majalah bisnis.
Sementara Minjoon tersenyum disudut bibirnya. "Aku tak tau apa kau mengetahuinya. Saat William ke Amerika. Ia menangis semalaman hingga ter-ti-dur." Minjoon berucap terbata, sambil memperhatikan apa yang dilakukan selanjutnya. "Dia suka berbicara saat tertidur. Tunggu, kau tau 'kan kalau saat kau dan Will ke Amerika dia menangis?"
Yunki tau, sangat jelas. Reya menceritakan itu pada dirinya. Hal yang tak ia ketahui adalah gadis yang ia cintai itu menangis di depan Minjoon.
"Aku juga jatuh cinta padanya." Minjoon berucap.
Segera saja wajah Minjoon mendapat hadiah sebuah pukulan dari Yunki. Pria itu kemudian mendorong Minjoon hingga sepupunya itu melangkah terdorong ke belakang.
Sekeliling memperhatikan, tepat saat itu Seojun mendekat menahan tubuh Yunki. Agar menahan amarahnya. Di sisi lain Minjoon terkekeh upayanya untuk memprovokasi Yunki berhasil.
"Sebaiknya kita pergi dari sini." Seojun berucap, pada Yunki yang masih terengah-engah karena amarahnya.
***
Di sisi lain, William duduk di teras rumah sang bibi. Ternyata tak ada bedanya berada di sini. Perasaan tetap saja terluka, ia menatap ke Belakang melihat kamar dengan tempat tidur berwarna putih. Sebuah foto besar dirinya bersama Reya ada di sana.
Eliza masuk, membawa dua cangkir cokelat panas. Wanita itu berjalan mendekati William, lalu duduk di samping sang keponakan. Will tersenyum, saat melihat sang bibi. Sementara Eliza meletakan cangkir minuman di meja, tepat berada di samping pria pemilik senyum kotak itu.
"Kau tak ingin ke luar, Will?"
"Tidak, tak ada yang membuatku tertarik—" Will mengambil cangkir minuman meneguknya, sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya. "Mungkin belum ada."
"Banyak hal dan kebaikan setiap harinya. Waktu terlalu berharga untuk dilewatkan."
"Tak ada lagi hal berharganya yang aku miliki." Pria itu menunduk lalu tersenyum singkat, menertawakan nasib hidupnya sendiri.
Eliza jelas melihat itu, ia menarik napasnya. Ia sedih, ia juga paham jika William jauh lebih sedih dan terluka. "Dirimu adalah hal yang paling berharga Will."
"Seseorang harus punya hal berharga, untuk memotivasi hidupnya. Aku bahkan tak punya akar penopang. Adikku ... Selama ini hanya ia yang aku jadikan pijakan, orang yang selalu aku jadikan tujuan dalam pencapaianku. Kami berdua sejak ayah dan ibu kami pergi. Lalu jika aku sendiri? Aku hanya pohon yang tak berakar. Hanya menunggu waktu saja untuk akhirnya tumbang."
"Hei, apa kau putus asa? Will ayolah, adikmu bisa marah sekali melihatmu seperti ini." Eliza menyemangati. "Hal berharga bisa kau cari, lalu kau miliki. Ini saatnya, cari pendamping hidup. Menikahlah, miliki seorang anak."
"Bibi sudahlah." William menolak lalu meneguk cokelat panas miliknya.
"Yaah, kau tak ingin melakukan itu?"
Uhuukkkk!
William terkejut, sehingga mengeluarkan kembali sebagian minuman dari mulutnya. Sementara Eliza tertawa melihat kelakuan keponakannya.
"Yaa, Willy apa yang kau pikirkan?"
"Ekhmm, tidak."
Sang bibi menatap jahil pada keponakan laki-lakinya yang kini tengah kikuk karena pemikiran singkatnya.
Eliza kembali pada posisi duduknya, meneguk kembali minumannya. "Aku senang kau baik-baik saja. Kau akan baik-baik aja selama masih bisa memikirkan seks."
"Bibi."
"Menikah, miliki seorang anak, kau akan benar-benar merasakan kebahagiaan. Mendapat semangat setiap harinya. Akan ada seseorang yang menunggumu, membuatkan sarapan, tempat berbagi segala keluh kesah."
"Aku belum siap."
"Will, bibi tak bermaksud memintamu melupakan Reya, ayah dan ibumu. Roda kehidupan akan terus berjalan. Kau tak bisa diam di tempat. Ikuti saja porosnya, lakukan hal yang akan membahagiakanmu. Ayolah, Will."
"Aku bahkan berniat untuk meninggalkan perusahaan." Will menatap sang bibi. "Paman akan mengurusnya 'kan?"
"Tidak, tidak. Aku tak akan membiarkannya mengurus perusahaan. Kami ingin hidup dalam kebebasan. Biarkan ia menjadi pelukis saja. Ia mau mengurus perusahaan, kali ini hanya karena dirimu. Kau belum bisa bekerja. Maka dia melakukannya." Eliza merubah posisi duduknya, menatap antusias pada William yang masih terlihat tak bersemangat. "Kau mau aku kenalkan pada seorang gadis?"
"Tidak." Will menjawab singkat. Ia menatap sang bibi, yang kali ini ia benar-benar terlihat bersemangat.
"Ayolah, berkenalan saja dulu. Ya?"
"Tidak Bi ...."
Eliza berdiri, mengambil cangkir dari tangan William. "Besok aku akan bawa gadis itu kemari."
Wanita itu berjalan meninggalkan William yang terus mengatakan penolakan.
***