Malam hari di Seoul yang terus saja ramai. Yunki di dalam mobil, masih kesal dengan kejadian di pub tadi. Benar dugaannya selama ini bahwa Minjoon menyukai Reya. Gadis itu mungkin telah tiada. Namun, perasaan Yunki masih ada. Rasa cemburu dan sakit masih ia rasakan. Mungkin harusnya ia tak marah tapi, perilaku sepupunya tadi benar-benar membuat ia kesal. Dan ia terpancing. Helaan napas terdengar dari pria itu. Yunki menumpu wajah dengan tangannya, menatap ke jalan sementara pikirannya menerawang. Di depan Seojun menatap atasannya melalui kaca dashboard, ia cemas tentu saja.
"Tuan," Seojun memanggil tapi sang tuan hanya terdiam. "Tuan Min."
"Ya?" Yunki tersentak kaget mendengar sapaan dari Seojun.
"Maafkan saya, anda ingin ke langsung ke apartemen?" Seojun bertanya.
"Aku ingin jalan-jalan sebentar, ke Sungai Han."
"Baik."
Mobil itu terus melaju membelah suasana malam di Seoul. Yunki mungkin butuh suasana baru. Belakangan ia kalut dengan perasaannya sendiri. Mungkin orang lain sudah mulai merasa dirinya berlebihan. Namun, hati dan perasaan seseorang bukan hal yang bisa diterka dengan nalar dan logika. Sekalipun orang lain menilai berlebihan. Tatap saja tak bisa dikendalikan.
.
.
.
Sementara Reya dan Jimmy berada di taman sekita sungai Han. Seekor kucing rebah dengan napas yang tersengal. Gadis itu menatap dengan iba sementara Jimmy siaga, panggilan untuk bertugas bisa datang kapan saja.
"Tak bisakah aku menyembuhkannya?" Reya bertanya dengan nada sedih.
Jimmy menggeleng. "Tak boleh meski kau bisa melakukannya ...." Jimmy terdiam seolah memberi harapan bahwa Reya bisa menyembuhkan kucing yang tengah sekarat itu.
Sementara Reya menatap penuh harap.
"Tapi, sayang kau belum bisa melakukannya, hahahahaha."
Kekehan Jimmy membuat gadis itu kembali memerhatikan sang kucing. "Ah, aku terjebak dengan seorang senior yang tak bisa melakukan apa-apa." Reya mencoba memprovokasi sang senior.
Jimmy hanya mendengkus, ia tau jelas ini hanya taktik juniornya. "Belle, kau boleh memprovokasi-ku aku tak akan terpengaruh."
"Kau tak iba?"
Jimmy mendekat lalu berjongkok di samping Reya. "Ini adalah hukuman dari masa lalunya. Ia dulu pembunuh, bahkan membunuh penerus raja Goryeo. Ini adalah kehidupan keduanya. Ia harus menanggung dan membayar semua kesalahannya di masa lalu. Lalu akan hidup dengan lebih baik dikehidupan ketiganya."
Reya mendengarkan meski ia masih merasa iba. "Apa aku hidup dengan baik?"
"Hmm, sangat baik dikehidupan pertamamu. Meski nasib akhirmu buruk."
"Apa aku tewas karena tertabrak hingga tubuhku hancur?"
Jimmy melirik kesal sang junior mulai membuatnya kesal. "Tak ada yang lain yang terpikir dalam otakmu?"
"Tidak ada."
Tatapan Jimmy beralih pada sosok lain yang berjalan di tepian sungai. Tangannya sesekali memegang pagar pembatas. Pria itu Yunki yang berjalan sendiri. Reya menatap Jimmy lalu dengan segera Jimmy mengalihkan pandangan. Ia menatap gadis yang kini menatap ke arah pria yang ia cintai.
Tiap langkah Yunki semakin dekat, membuat dadanya terasa sakit. Reya berdeham, seraya menepuk dadanya perlahan. Jimmy hanya memerhatikan seolah ini adalah pemandangan yang menarik baginya. Reya menghapus air matanya.
"Ada apa?" tanya Jimmy seolah tak mengerti.
"Entahlah, tapi aku merasa sakit sekali."
Langkah Yunki mendekat, semakin dekat dengan Reya dan kucing hitam yang tengah sekarat. Pria itu kemudian membungkuk, membuka jas yang ia kenakan, membungkus tubuh kucing yang semakin lemah.
"Reya pasti akan memarahiku jika aku tak menolong-mu," ucapnya diikuti senyuman singkat.
Jarak Reya dan Yunki tak terlalu jauh. Hanya beberapa meter. Gadis itu menatap tanpa jeda. Ada magnet yang menariknya hingga ingin terus memerhatikan pria yang kini tengah berdiri lalu berjalan menjauh.
Jimmy menatap langit malam, langit mendung tanpa bintang. "Takdir macam apa ini."
***
William berjalan menuruni tangga, hari masih pagi. Pria itu berniat untuk sarapan pagi ini. Berjalan seraya mengeringkan kepalanya yang basah setelah membersihkan diri. Ia melangkah menuju dapur. Dari kejauhan terdengar Elisa berbicara dengan seorang wanita.
Saat William sampai di depan dapur, ia melihat sang bibi tengah mengobrol dengan seorang gadis. Mungkin seusia mendiang adik perempuannya.
"Pagi," sapa pemuda itu membuat kedua orang yang sebelumnya sibuk itu terdiam lalu menoleh ke arahnya.
"Pagi Will, kemari." Pinta Elisa segera membuat William berjalan mendekat.
Gadis itu menatap Will sekilas lalu membungkuk memberi salam ketika pria itu semakin mendekat. Victoria Shin, atau Shin Soogi nama gadis itu. Memiliki mata bulat besar dengan iris mata huzel yang indah, bibir penuh peach oleh polesan lip tint, pipi merona sedikit menggembung karena ia sedikit gugup.
"Kenalkan ini Vivi, atau Soogi dia anak tuan Shin rekan bisnis pamanmu. Dia sering kemari karena sendirian di sini untuk menyelesaikan kuliahnya."
"Aah, William Kim." Pria dengan suara bariton itu mengarahkannya tangannya, yang segera dijabat oleh gadis yang mengenakan kemeja berwarna moccha itu.
"Vivi," suara lembut Vivi terdengar malu-malu.
Perkenalan itu membuat Elisa tersenyum malu sendiri. Lalu mendorong kedua pemuda itu. "Lebih baik kalian beralan-jalan dulu sebelum sarapan."
"Tapi, aku akan membantu Bibi," tolak Vivi.
"Aku akan menyelesaikan ini sebentar lagi. Kalian harus mengobrol."
"Kami bisa mengobrol setelah membantu Bibi membuat sarapan," timpal Wil disetujui anggukan Vivi.
"Tidak, lekas ke taman. Kepalaku bisa sakit jika di ruangan ini terlalu banyak orang."
Elisa mendorong keduanya dengan sedikit memaksa. Akhirnya Vivi dan Will berjalan ke taman belakang karena terus dipaksa Elisa. Terlihat wanita itu begitu bersemangat menjodohkan keduanya.
Vivi dan Will duduk di kursi kayu, gadis itu sesekali mengepalkan tangan dan bermain dengan ibu jarinya karena gugup. Will memerhatikan, sejujurnya ia tak kalah gugupnya. Ia jarang mengobrol dengan gadis kecuali sang adik, atau karyawannya.
"Ah, aku turut ber—"
Will mengangguk meski gadis itu belum melanjutkan ucapannya. "Terima kasih."
"Aku dan Reya berteman saat sekolah menengah pertama. Tapi, saat SMA aku harus pindah ke sini. Dan Reya juga yang mengenalkan aku pada Paman Kim. Yang akhirnya membuatku menjadi salah satu pengisi lukisan di galeri lukisan Bibi Elisa."
Ucapan Vivi didengarkan baik-baik oleh William. Dalam pikirannya membayangkan bagaimana sang adik melakukan itu semua.
"Saat sekolah menengah pertama, aku sempat berkunjung ke rumah kalian. Saat itu Reya menunjukkan kamarnya yang dihias bintang-bintang oleh kakaknya." Vivi tersenyum, menatap Will yang tersenyum dengan tatapan kesedihan. "Maaf."
"Untuk apa?"
"Karena membuatmu bersedih, William-ssi."
"Tidak, aku senang kau menceritakan tentang adikku. Aku tau ia memang baik, meski menyebalkan." William tersenyum lagi, mengingat betapa keras kepalanya Reya dalam banyak hal.
Vivi menatap William, ia benar-benar merasa bersalah karena membuat pria itu kembali teringat akan adiknya. "Maaf harusnya aku tak banyak bicara."
"Tidak. Sungguh. Aku baik-baik saja. Aku senang kau bercerita tentangnya. Selama ini aku dididik lebih cepat. Menjadi penerus perusahaan saat ayahku tiada. Sejujurnya, aku tak banyak menghabiskan waktu bersama Reya saat ia sekolah. Kami terpisah saat aku harus meneruskan pendidikan ke Amerika. Saat kini aku memiliki waktu bersama—" Will menghela napas. Terlihat sekali ia sangat menyesal.
"Reya pasti tak ingin kau terus larut dalam kesedihan Will. Akan aku ceritakan bagiamana kami menjalani tiga tahun bersama. Kami punya banyak kenangan bersama. Aku punya sebuah album di sana banyak sekali foto kami berdua juga beberapa teman lain. Akan aku ceritakan. Kepergian bukan untuk dijadikan penyesalan. Ia akan terluka jika kau terus bersedih seperti ini. Hmm?"
William menatap ke arah gadis itu, Vivi terlihat sangat serius. Pria itu lalu mengangguk. "Terima kasih. Saat yang lain memaksaku melupakannya. Kau berbaik hati menceritakan semuanya."
"Masalahmu adalah kau merasa bersalah dan belum bisa menerimanya. Pula aku sadar betul kepergian seseorang tak harusnya membuatmu melupakannya. Adikmu sangat menyayangimu, tersenyumlah dan berbahagia akan membuat ia juga bahagia. Hmm?"
***