Jimmy berjalan masuk ke sebuah gereja. Gereja itu memiliki desain yang indah. Cat putih dengan mozaik kaca yang indah. Taman di depannya tertata rapi penuh bebungaan. Ia berjalan dengan tegas masuk ke dalam. Lalu dengan segera membuka pintu. Terlihat Jinerly dan Nam Yang sedang duduk dan menikmati teh pagi mereka. Dengan spontan menoleh saat Jimmy masuk begitu saja.
Malaikat tingkat tiga itu terkejut melihat Nam yang ada di sana. Ia lalu menunjuk keduanya bergantian. "Kalian berteman?"
"Kau pikir kami bermusuhan?" Nam bertanya sambil meneguk teh miliknya.
Jimmy mengangguk. "Kau tak bekerja?"
"Kau pikir aku bekerja sendiri? Ragaku yang lain ada di banyak tempat di seluruh dunia."
Jinerly mengangguk menyetujui ucapan Nam.
"Kau juga senior?" tanya Jimmy.
"Tentu, kau pikir aku hanya mengurusi-mu?" Jinerly berkata seraya tersenyum disudut bibirnya.
Si pemilik tatapan sendu itu lalu duduk di antara kedua seniornya. "Sebenarnya apa alasan Belle masih berhubungan dengan orang-orang di kehidupannya? Kau tau kan senior. Selama ini aku melihat tak ada yang seperti itu."
"Tak ada yang tau tujuan Tuhan. Termasuk kita malaikat. Lakukan saja tugasmu. Hal-hal yang diluar itu bukan urusanmu." Nam memperingatkan.
Jinerly mengangguk lalu menimpali, "Malaikat pencabut nyawa benar, itu bukan urusanmu. Malaikat hanya melakukan tugas. Pula, Belle masih sangat muda. Jangan khawatirkan apapun."
Jimmy mengangguk, meski tetap saja ini aneh baginya. Ia kembali melirik Nam. "Apa di seluruh dunia kau berwajah seperti ini?"
Nam menggeleng. "Tentu tidak, bagaimana aku saat mencabut nyawa adalah cerminan dari perilaku manusia. Aku bisa menjadi tampan seperti saat ini, atau menakutkan hingga membuat kedua lutut-mu lemas seketika."
***
Yunki berada di meja makannya, hari ini ia akan datang terlambat ke kantor. Ia duduk seraya menyantap perlahan sup pereda mabuk yang telah disiapkan untuknya. Pagi-pagi sekali sang ibu telah datang lalu menyiapkan semua untuknya. Nyonya Min sangat khawatir dengan keadaan anak tunggalnya. Keberadaannya di Korea juga salah satu bentuk kasih sayangnya. Hanya saja Yunki tak terlalu ingin menanggapinya. Sejak lama ia hidup tanpa perhatian kedua orang tuanya yang sibuk dengan segala kegiatan bisnisnya. Mungkin itu yang membuat selalu saja ada jarak yang sulit untuk dikikis.
Di sudut tembok ada kandang besi, di sana seekor kucing hitam sibuk menjilati tubuhnya. Sudah beberapa jam sejak dia datang ke apartemen Yunki. Si hitam itu semakin sehat. Malam kemarin ia menunggu kucing itu saat melakukan perawatan. Dan entah mengapa ia memilih membawanya pulang, ketika dokter bilang kucing itu bisa di rawat di rumah.
Setelah menyelesaikan sarapan ia berjalan menuju kucing hitam. Membungkuk untuk sekedar menatap. Si hitam terlihat lebih baik meski terlihat lemas.
"Harusnya aku tinggalkan di rumah sakit. Hmm, aku berpikir untuk libur hari ini ternyata ada rapat direksi yang tak bisa aku tinggalkan."
Pria itu mengeluh pada kucing yang kemudian terdengar bersuara yang melenguh seolah mengerti apa yang diucapkan si pucat.
Pria itu kemudian berjalan membawa kucing itu kembali keluar. Di ruang depan Seojun telah menunggu, pria itu segera berdiri setelah melihat sang tuan yang berjalan mendekat.
"Kau datang? Mengapa tak masuk?"
"Aah, tadi saya melihat tuan sedang duduk dan terdiam. Mungkin akan mengganggu jika mendekat."
Yunki mengangguk mengerti, jika Seojun mencoba tak menganggu privasinya. "Kau sudah sarapan?"
"Nde, sudah."
"Baik, bantu aku kita ke rumah sakit sebelum ke kantor."
"Bagaimana kalau saya mengantar Tuan ke kantor terlebih dulu? setelahnya, saya akan bawa kucing ini ke klinik hewan."
Yunki terdiam sejenak.
"Ini sudah pukul sembilan, pukul sepuluh anda akan menghadiri rapat direksi, bukan?"
Yunki mengangguk, lalu sambil berjalan dua menyahut. "Baiklah."
Keduanya lalu berjalan keluar. Melewati apartemen yang cukup sepi di pagi ini. Mobil sudah disiapkan di depan keduanya segera masuk, Seojun segera menyalakan mesin. Mobil sedan hitam itu melaju membekas jalan Seoul yang lengang.
Sesekali Yunki menoleh ke arah kucing hitam di dalam kandang, ia letakkan di sampingnya.
"Seojun, kau tau kan jika Reya suka sekali pada hewan."
"Iya, Nona Reya juga sering memberi bantuan di penampungan hewan."
Yunki tersenyum. Sementara Seojun merasa iba melihat sang tuan. "Apa anda ingin ke mengunjunginya nanti?"
Yunki menggeleng. "Aku masih belum bisa melihat nisan bertuliskan namanya."
"Tuan mungkin ini terkesan menggurui. Hanya saja, anda harus bangkit."
"Pikiranku menyadarinya, hanya saja hatiku masih belum bisa menerima."
Seojun menghela napas, ia juga terluka melihat tuannya yang diliputi kesedihan. Tapi, tentu saja ia tak bisa berbuat apapun. Selain kini menjaga sang tuan baik-baik.
.
.
.
Sementara di kantor, Minjoon duduk di meja kerjanya. Jungseo berada di sisinya duduk dan merapikan laporan yang telah dibuat atasannya itu. Pria tegap itu terlihat sangat serius dengan semua laporan buatannya. Ia berharap akan mendapat penilaian lebih dari para direksi kali ini.
"Menurutmu semua laporan kali ini sudah baik?" tanyanya pada Jungseo.
"Nde, menurutku semua laporan perincian progam ini sudah bagus."
Minjoon mengangguk, lalu menepuk tangannya merasa puas dengan apa yang telah ia kerjakan. Lalu ia menekan mesin telepon yang segera tersambung dengan sekertarisnya di luar.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"
"Siapkan materi untuk direksi nanti."
"Baik Tuan, ada lagi?"
"Apa Yunki sudah tiba?"
"Iya, Tuan Min baru saja tiba ia sudah memasuki ruang rapat Tuan."
"Baiklah."
Mendengar itu Minjoon bergegas. Ia merapikan laporan dibantu Jungseo. Ia merapikan pakaiannya lalu berjalan menuju ruang rapat. Ia melangkah keluar ditemani Jungseo disampingnya. Pengawalnya itu mengambil map laporan di meja sekertaris Shin setelah keluar dari pintu ruang kerja Minjoon. Mereka berjalan menuju lift, lalu harus turun satu lantai ke lantai dua.
Minjoon percaya diri dengan laporan bulanan yang telah ia susuan Dengan baik. Juga laporan untuk program dan rencana baru untuk perusahaan khususnya taman bermain Elanis. Cita-citanya kini ingin mengalahkan Min Yunki. Sebelumnya ia tak terlalu berminat. Namun perilaku Yunki di pub malam tadi membuatnya semakin yakin untuk merebut posisi sepupunya itu.
Sampai di ruangan hampir seluruh direksi telah berkumpul. Si pucat CEO Elanis itu duduk dengan tenang, seraya sesekali merapikan kancing tangan kemejanya. Minjoon masuk, lalu duduk di tempatnya sedikit ke belakang. Tak masalah untuknya, mungkin sebentar lagi ia akan berada di tempat duduk yang ditempati Yunki.
"Apa semua sudah tiba?" tanya Yunki seraya menatap hampir semua kursi yang ada di sana. "Apa bisa kita mulai? Tanyanya yakin.
Semua yang ada di sana mengangguk menyetujui jika rapat hari ini segera di lakukan.
***