Suasana salam ruang rapat cukup santai saat Minjoon tiba untuk menerangkan. Pria itu nampak gugup awalnya tapi melihat reaksi para direksi yang antusias menambah percaya dirinya. Tadi Yunki memintanya untuk menjelaskan laporan perencanaan miliknya terlebih dahulu.
Minjoon memaparkan tentang beberapa perubahan yang ingin ia lakukan di Elanis.
"Bukan hanya itu, aku rasa kita juga perlu memilih ambasador untuk taman bermain Elanis. Bukankah Korea memiliki banyak idol yang telah mendunia? Aku ingin menjadikan mereka salah satu dari ikon Elanis. Pasti akan mendongkrak pemasukan. Tentu saja ini akan diimbangi dengan penambahan karyawan baru. Yang akan bekerja di Elanis." Minjoon menyelesaikan presentasinya. Tatapannya mengedar ke sekeliling. Nampak beberapa direksi yang antusias. Namun lainnya terlihat biasa saja, mungkin menunggu presentasi dari CEO saat ini sebagian pertimbangan.
Yunki bertepuk tangan, diikuti yang lain. CEO berkulit pucat itu memang seolah terlahir sebagai pemimpin yang tiap geraknya akan diikuti yang lain. Sejak dulu, Yunki terkenal dingin bagi siapa saja yang tak mengenalnya secara dekat. Sebenarnya, Yunki begitu hangat dan perhatian. Ia terlihat dingin hanya sebagai perlindungan dirinya.
"Kau boleh duduk Minjoon-ssi." Yunki mempersilahkan Minjoon duduk.
Dengan senyum kemenangan, Minjoon kembali ke tempatnya. Berbeda dengan Minjoon, Jungseo justru menatap Yunki dengan tatapan aneh. Ia merasa Yunki justru sedang memandang tuannya dengan sebelah mata.
Yunki kini berdiri, merapikan jas kemudian mengangkat tangannya meminta Seojun mematikan lampunya. Lalu layar proyektor telah terpampang gambar Elanis.
"Aku tau, kalau kalian mungkin menganggap aku telah lupa dan abai perihal Elanis. Aku minta maaf karena sempat tak menghadiri beberapa rapat." CEO muda itu lalu membungkuk meminta maaf. "Maafkan aku, tapi tim-ku telah mempersiapkan segalanya untuk perencanaan kerja satu tahun kedepan meski aku 'mungkin' tak lagi menjadi CEO. Aku yakin, Elanis ajaib tetap berjalan dengan baik."
Raut wajah Minjoon berubah menatap Yunki dengan geram. Yunki melirik sepupunya itu dengan tatapan mencemooh, benar-benar pria itu tak bisa lupa dengan apa yang dikatakan Minjoon malam itu.
"Untuk itu aku akan menjabarkan semua hari ini ini akan menjadi keputusan kalian dalam mengambil keputusan di pemilihan CEO, tiga bulan kedepan. Pertama kamu sudah dan akan bekerja sama dengan salah satu agensi besar, dan akan menjadikan idol mereka sebagai ambasador dari Elanis. Sembilan gadis cantik, tu-wai-seu." Yunki mengeja dengan menekankan kata Twice. "Terima kasih Minjoon-ssi, tapi kali ini aku sepertinya lebih cepat."
Tentu Minjoon kesal. Tangannya mengepal di bawah meja, sementara wajahnya berusaha terlihat biasa saja. Ia tak ingin menunjukkan emosinya dengan jelas. Ia terus memerhatikan Yunki meski dadanya bergemuruh kesal. Jika saja ia diperbolehkan, ingin sekali melempar Yunki dengan gelas berisi air miliknya.
"Lalu untuk penambah aneka permainan saat ini belum diperlukan. Selama ini Elanis sudah memiliki hampir semua wahana yang terbaru dan terbaik. Tentu saja ini tak lepas dari perhitungan telan luas lahan. Membeli wahana permainan bukan hal yang bisa begitu saja dilakukan. Banyak yang harus diperhitungkan. Aku telah menangani ini bahkan sebelum aku diangkat di posisiku saat ini. Juga, tentang rekruitmen pegawai, itu juga tak perlu. Saat ini Elanis memiliki kurang lebih dua ratus delapan puluh karyawan. Merkea bekerja ditiap sudut wahana, para pekerja kebersihan penjaga tiket dan lain-lain. Juga memilik dua puluh delapan karyawan di kantor pusat. Aku lebih memilih untuk menaikkan gaji pegawai dibandingkan mencari pegawai baru. Saat ini kita tak perlu buang-buang waktu untuk melatih pekerja baru. Perlu diingat baru saja dua tahun lalu, kita membuka lowongan kerja besar-besaran untuk pembukaan taman tema."
Di dalam ruangan semua mengangguk setuju. Mengambil pegawai baru akan membuang waktu pekerja lain, pekerjaan menjadi tak maksimal karena mereka harus mengajari pekerja lain. Memaksimalkan pekerja lama lebih efektif dibandingkan mempekerjakan tenaga baru.
"Selama ini semua tak ada masalah di Elanis, kita hanya ingin pemasukan lebih baik. Benar 'kan?"
Kompak direksi yang ada di sana mengangguk, bahkan Minjoon tanpa sadar melakukan hal yang sama.
.
.
.
Rapat berakhir, Yunki selera berjalan kembali menuju ruangannya dengan sebelumya bersalaman dan sekadar menyapa para direksi. Ia bergegas melangkah cepat seolah ada yang mengganggu pikirannya.
"Apa ada sesuatu tuan?" tanya Seojun yang sedari tadi mengikutinya.
"Aku teringat sesuatu." Yunki berucap.
Begitu tiba di depan meja sekretarisnya ia berhenti. "Seah, tolong beri aku referensi film tentang spiritual. Atau semacamnya."
Seah melirik ke arah Seojun seolah bertanya ada apa. Tentu Seojun hanya menggeleng ia tak tau apa-apa. Ia sendiri juga cukup kaget dengan permintaan tuannya. Seah lalu teringat sesuatu.
"Tuan apa anda memberikan karti VVIP pada selain anggota keluarga? Kami mendapat laporan jika ada yang datang ke Elanis menggunakan kartu VVIP." tanya Seah.
Yunki mengangguk, ia ingat memberi itu saat terkahir kali ia mengajak Jeon-gu untuk makan siang setelah ia diperiksa oleh polisi.
***
Jeon-gu saat ini berada di Elanis. Mengajak kekasihnya Hyowon. Ia memiliki kartu VIP jadi sebenarnya bisa datang kapan saja. Tetapi, ia harus menabung untuk membeli pernak-pernik atau makanan untuk mereka berdua.
"Kau tak tau kan gadis yang tewas itu adalah tunangan pemilik Elanis."
Hyowon berdecak kesal entah sudah berapa kali Jeon-gu mengucapkan itu. "Aish, ckckck entah berapa kali kau akan mengatakan itu?"
Jeon-gu menggaruk kepalanya yang tak gatal, seraya tersenyum kecut. Ia mengucapkan berkali-kali karena merasa itu keren. Ditarik dalam sebuah kasus besar. Sementara itu membuat Hyowon kesal. Pasalnya karena itu sang kekasih terpaksa datang ke kantor polisi beberapa kali.
"Kau mau makan sesuatu?"
"Hmm." Tatapan Hyowon mengedar mencari stand makanan yang mungkin ia inginkan.
Seraya memikirkan apa yang ingin mereka makan. Hari ini suasana Elanis cukup padat. Hingga sepertinya seluruh tempat penuh antrian.
Saat itu Jeon-gu berpapasan dengan Yunki dan Seojun dari arah yang berlawanan. Terlihat CEO Elanis itu berjalan seraya mendapat pengarahan dari pusat pengawas. Jeon-gu terkejut sementara Yunki tersenyum menatap pemuda dengan gigi kelinci itu.
"Hmm kita bertemu lagi."
"Nde, Hyung." Jeon-gu menjawab gugup.
"Apa dia kekasihmu?" Yunki bertanya seraya menunjuk Hyowon dengan tangannya.
"Iya dia kekasihku. Hyowon, kenalkan ini Yunki Hyung. Dia adalah CEO taman bermain Elanis ini."
Hyowon membungkuk memberi hormat. Seraya memperkenalkan diri. "Salam kenal aku Park Hyowon."
"Aku Min Yunki." Yunki menjawab singkat.
Jeon-gu tak lepas menatap Yunki. Jelas ada sesuatu, hingga Yunki mencari dirinya. "Ada sesuatu Hyung?"
"Ini tentang apa yang kau bicarakan tempo hari. Apa kita bisa membicarakan itu?"
***