★Empat belas★

1009 Words
Minjoon berjalan cepat memasuki ruangannya. Wajahnya jelas menunjukkan kekesalannya. lagi-lagi ia kalah oleh Yunki. Harga dirinya hancur sekali. Apalagi, dengan jelas semua pemaparan sang sepupu menyudutkan juga menjatuhkan dirinya. Memasuki ruangan dengan kesal lalu menutup pintu dengan keras. Jungseo terdiam menghela napasnya, ia tau jika atasannya benar-benar tak bisa menerimanya kali ini. "Min Yunki dan selalu saja dia." Minjoon duduk dengan keras di kursinya lalu mengacak rambutnya. "Dia selalu sombong dan menyebalkan! Jika tak bersamanya mungkin Reya masih hidup. Pria dingin itu pasti selalu mengabaikannya." Jungseo hanya diam membiarkan Minjoon mengungkapkan semua yang ia rasakan. Pria itu diam dan mendengarkan. 'Jungseo," panggil Minjoon. Yang dipanggil berjalan lebih dekat. "Nde?" "Cari tahu bagaimana kehidupan Reya saat menjalin hubungan dengan Yunki. Aku akan membuat ia meminta ampun pada gadis itu." "Tuan, saya rasa itu tidak perlu." "Aku butuh sesuatu untuk membuatnya kesal, atau semacamnya. Aku tak ingin terus diperlakukan tidak adil." Jungseo hanya menghela napas perlahan. "Saya akan menghubungi detektif Kang." Minjoon mengangguk, seraya tangannya menopang dagu, lalu kakinya terus saja bergerak di bawah mejanya. *** Reya diikuti banyak kucing dan anjing, menuju gerbang putih. Gadis itu berusaha tersenyum meski jelas terlihat ia sedih sekali. Gadis itu membuka pagar putih dan membiarkan arah hewan-hewan itu masuk ke dalam. "Berhati-hatilah. Sampai jumpa lagi." ucapnya. Satu persatu memasuki gerbang lalu perlahan menghilang. Setelah gerbang kembali tertutup Reya berjalan lalu duduk lemas. Jimmy berjalan mendekat sebenarnya ia melihat semua yang dilakukan oleh juniornya itu. Sambil melirik ke arah Reya ia duduk. "Kau menangis?" "Kenapa aku harus menyaksikan semua itu. Mereka terbakar bersama. Kenapa juga harus ada kebakaran di tempat penampungan hewan?" "Takdir Tuhan, tak ada yang mengetahuinya. Selesaikan tugasmu, aku juga harus menyelesaikan tugasku. Aku akan kembali, malam ini banyak orang yang harus diberi keajaiban." "Tugasku sudah selesai." "Baiklah Bell, kalau begitu istirahat lah." Reya mengangguk meski kini Jimmy menghilang dari pandangan. Ia kemudian memilih untuk pergi dari sana. Sepertinya ia memilih untuk datang ke gereja tempat Jinerly tinggal. *** Pria pucat itu Min Yunki kini ada di apartemen Jeon-gu. Sedari tadi ia diam memerhatikan sekitar. Melihat ruangan yang dipenuhi peralatan ritual. Sementara Heosok duduk dengan canggung, di sampingnya Jeon-gu duduk lalu menyenggol bahu sang ayah. "Aah, Tuan Min—" "Jelaskan kepadaku tentang pemanggilan roh itu." "Aah, sebenarnya ... Itu bisa dilakukan tapi, bisa saja gagal. Karena, kemampuan Indra ke-enam seseorang berbeda. Mungkin saja kau tak bisa melihatnya." "Nde?" Yunki bingung tentu sana penjelasan dari Heosok sama sekali tak bisa ia mengerti. "Aku tak mengerti yang kau katakan. Bisakah kau lakukan saja? Berapa yang perlu ku bayar. Sepuluh ribu dolar? Seratus dolar?" Mendengar tawaran Yunki membuat Heosok dan Jeon-gu terdiam. Terkejut dengan jumlah yang akan diberikan. "Satu juta dolar? Apa masih belum cukup?" "Bukan seperti itu. Itu cukup sekali." "Baiklah, satu juta dolar. Akan aku berikan saat ini juga." CEO muda itu berucap kaku hendak mengeluarkan cek dari dalam sakunya. Heosok melarang, menahan tangan Yunki. "Bayar aku setelah berhasil. Jika upacara ini gagal tak perlu membayar ku." Yunki terdiam sesaat, lalu akhirnya mengangguk. "Berikan aku salah satu barang yang memiliki kenangan yang sangat kuat untuk kalian. Juga—" Heosok terhenti mengambil sebuah kertas putih juga pena yang berada di meja tak jauh dari sana. "Tuliskan nama lengkapnya, juga tanggal lahir. Aku akan lakukan upacara pemanggilan malam ini." Yunki menerima kertas dan pena yang diberikan. Menuliskan semua hal yang jelas sekali ia ketahui. Ia terhenti saat Heosok menahan tangannya. "Ada satu hal yang belum ku katakan. Kau harus siap." Heosok berucap serius. "Siap apa?" "Bisa saja ... Kekasihmu datang padamu dengan wujud yang menyeramkan." Pria pucat itu terdiam sejenak. Menimbang, juga membayangkan. Lalu kemudian mengangguk meski ragu. Tak banyak manusia berani jika melihat hantu atau semacamnya. Apalagi mereka sering kali di tampilkan dengan wujud yang menyeramkan. "Ini," ucap Yunki. Setelah selesai menulis ia menyerahkan kertas itu kembali pada Heosok. "Apa anda memiliki benda yang mengaitkan kalian berdua? Benda yang telah lama menjadi bagian hidup kalian. Sesuatu yang berharga untuk kalian berdua." Pria itu melepaskan cincin yang ia kenakan. "Cincin ini adalah pemberiannya saat aku berangkat ke Amerika." Heosok mengambilnya, lalu meletakan di atas kertas. "Aku akan usahakan melakukan upacara pemanggilan arwah malam ini jika semua lengkap. Jika terlalu lama akan sulit. Kau boleh menunggu sebentar. Aku ingin meminta sedikit energi mu." Cara bicara Heosok sedikit berubah. Jeon-gu menatap sang ayah yang memang selalu seperti ini ketika ia harus bekerja. Ia lalu mengangguk memberi tanda agar Yunki setuju untuk melakukan itu. . . . Seojun menunggu di luar. Ia berdiri di depan mobil, sesekali menatap jam di tangannya. Sudah lebih dari satu jam atasannya berada di dalam. Tak lama Yunki berjalan keluar menghampiri Seojun yang terlihat sangat cemas. "Ayo." "Anda baik-baik saja?" Yunki mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam mobil. "Ayo pulang, sebelumnya kita ke klinik. Aku ingin melihat kucing itu." Seojun mengangguk, ia bergegas masuk ke dalam mobil. Tak lama mobil itu melaju meninggalkan tempat itu. Dalam perjalanan Yunki hanya diam menatap keluar jendela. Raut wajahnya tak seputus-asa sebelumya. Ia benar-benar berharap Heosok bisa menyelesaikan upacara dengan baik. Agar ia bisa kembali bersama Reya. "Seojun." "Ya tuan?" "Kau percaya jika mungkin saja arwah seseorang masih berada di sekitarmu?" "Nde?!" Seojun terkejut dengan pertanyaan Yunki yang tak masuk akal. Saat ini tak banyak orang percaya hal seperti itu. Mereka akan berpikir lebih rasional.bahkan mungkin jika seseorang memiliki kemampuan untuk itu, mereka mungkin akan dipandang aneh. "Maaf tuan, apa anda baik-baik saja? Atau mungkin ada yang mengganggu pikiran anda? Aku tak mengerti. Tapi, menurutku untuk hak seperti itu rasanya terlalu mengada-ada. Aku yakin anda juga akan berpikir demikian. Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang tak teraba nalar." Yunki hanya tersenyum kecut, ia dulu juga berpikir jika hal semacam itu adalah sesuatu yang mustahil. Tapi mungkin kali ini semua akan berubah jika Heosok berhasil membawa kembali Reya padanya. "Banyak yabg terjadi dan pikiran seseorang bisa saja berubah." Mobil itu melaju menuju klinik hewan. Sementara Seojun sesekali menatap Yunki dari kaca dashboard. Sungguh menurutnya Yunki benar-benar mengkhawatirkan. Apalagi ia telah membicarakan hal-hal spiritual yang menurutnya tak mungkin dibahas oleh seorang Min Yunki.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD