Sejak Yunki keluar dari apartemen sederhana miliknya, Heosok kini tengan duduk dan memperhitungkan dengan teliti tanggal lahir dan shio dari arwah yang akan ia panggil kali ini. Ini memang bukan yang pertama kalinya. semua prosesnya masih sama.
Sesekali pria itu menggelengkan kepalanya. Sementara anak laki-lakinya kali ini duduk diam sambil mempersiapkan perlengkapan upacara kali ini. Jeon-gu sebenarnya penasaran hanya saja ia berusaha tidak bertanya. Takut jika pertanyaan yang terlontar dari bibirnya akan mengganggu konsentrasi sang ayah.
"Malang sekali." Heosok membuka mata, menggelengkan kepalanya setelah membaca garis hidup gadis itu.
"Ada apa Ayah?"
"Gadis itu malang sekali. Sejak kecil ia kehilangan ibunya. Lalu Ayahnya terbunuh dan pada akhirnya ia tewas karena dibunuh. hmmph... malang sekali."
Jeon-gu terdiam merasakan kalau hidupnya lebih baik. Ia bisa menikmati waktu bersama sang ibu hingga sekolah menengah pertama. Meski hidupnya serba kekurangan secara finansial, tapi, ia tak kekurangan kasih sayang ataupun merasakan derita akibat kehilangan.
Tuhan memang selalu berlaku adil. selalu ada kebahagian disela duka dan lara yang mungkin kau rasa. Selalu ada tawa disela airmata. Tuhan memang tak selalu memberikn apa yang kau inginkan. Namun Ia senantiasa memberikan yang benar-benar kita butuhkan. Kini tugas manusia adalah senantiasa bersyukur atas semua hal yang telah diberikan.
"Aku selalu berpikir kalau aku adalah orang yang paling menyedihkan," keluh Jeon-gu diikuti anggukan dari sang ayah. "Ibuku meninggal, hidup miskin, aku juga tak terlalu pandai dalam beberapa mata pelajaran. Ditambah lagi ayahku adalah seorang dukun."
Kata-kata terakhir dari sang anak membuat Heosok menoleh. " Apa yang salah jika ayahmu seorang dukun?"
Jeon-gu menoleh menatap sang ayah dengan menyelidik. "Katakan padaku, apa Ayah dulu tak malu? saat di sekolah, mendiang Kakek juga dukun 'kan?"
Heosok seolah tersedak ia terbatuk, membuat Jeon-gu dengan jelas mengetahui jawaban dari pertanyaannya tanpa perlu mendapat jawaban dari sang ayah.
***
Pagi hari di Australia Will tengah sibuk merapikan kamar saat sang bibi memanggilnya untuk segera turun.Bergegas pria dengan senyum kotak itu turun. Pagi tadi ia sudah membersihkan diri lalu, menyempatkan dri untuk membaca artikel di kamar sebelum sarapan. Rupanya ia belum bisa benar-benar melupakan perusahaan. Sibuk mengecek nilai saham dan beberapa hal yang sempat ia lupakan melalui sekretarisnya. Kini malah membuat perasaannya tak nyaman.
Ia melangkah turun, melewati tangga dengan bergegas. Selama di rumah sang bibi perlahan ia sedikit bisa menerima kepergian sang adik. Di dapur ia melihat Elisa dan Vivi yang sudah duduk untuk menikmati sarapan mereka. Belakangan Elisa sering memanggil Vivi untuk menemaninya. Sebenarnya, ini alasan utama kedatangan gadis itu adalah karena ia ingin menjodohkan sang keponakan dengan Vivi. Vivi memang gadis yang dimaksud oleh Elisa tempo hari. Menurutnya Vivi paling pas untuk sang keponakan. Berasal dari keluarga baik-baik meski bukan dari kalangan pebisnis. Vivi juga sudah berpenghasilan dari kegiatannya melukis, juga masih banyak hal yang menjadi pertimbangannya, mengapa ia memiilih gadis itu.
"Selamat pagi Will?" sapa elisa.
Yang disapa tersenyum, melangkah mendekat lalu mengecup kedua pipi Elisa. "Pagi, Bi." ia lalu menatap Vivi. "Pagi, Vi."
"Pagi, Oppa."
Sapaan Oppa untuk William malah membuat Elisa malu dan gemas sendiri. Ia tersenyum senang sepertinya usahanya kali ini untuk menjodohkan akan berhasil. ia melirik pada William yang kini duduk berhadapan dengan Vivi.
"Kalian berdua ada rencana hari ini?" Elisa bertanya sambil seolah tak acuh, ia menyeruput kopi dari cangkir miliknya.
"Tidak," jawab keduanya kompak.
Elisa berusaha menahan senyumnya saat kedua orang di sampingnya menjawab pertanyaan darinya dengan kompak. keduanya kini saling lirik, lalu terdiam satu sama lain.
"Baguslah, aku punya dua tiket nonton malam ini. Temanku memberikan kemarin siang. kalian harus datang, sayang sekali jika dilewatkan. oke?"
Keduanya mengangguk meski tampak sekali jika canggung satu sama lain. semetara Elisa merasa bahwa usahanya kali ini akan berhasil. Apalagi ia kali ini memesan tiket drama romantis dewasa. Gila memang apaa yang dilakukan elisa. Namun, ini semata-mata untuk membangkitkan lagi semangat dan harapan William.
Jatuh cinta menurutnya cara yang paling tepat. Dan beruntungnya orang tua Vivi, mau mengikuti permintaan Elisa. Vivi selama ini juga terkenal susah bergaul. Hingga sampai saat ini belum ada pria yang berhasil mendapatkan hatinya. Apalagi, mengetahui jika Will adalah pria mapan dan baik. Orang tua mana yang tak mendukung ?
***
Siang hari Yunki sibuk mengecek semua mengenai Elanis. Sejak pertemuannya dengan Heosok semalam seolah membawa harapan baru untuknya. Meski ia sempat takut dengan ancaman Heosok, perihal kehadiran Reya yang bisa saja dalam bentuk yang menyeramkan. Namun, bagaimanapun juga itu adalah kekasihnya 'kan? tak mungkin ia menolak kehadiran seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya itu.
Taman Elanis masih sama dengan segala yang ada padanya. meski Yunki sempat tak memantau selama beberapa waktu. Rupanya, para pegawai masih mengikuti semua standar yang telah ia buat. CEO muda itu mendatangi setiap wahana permainan, memerhatikan tentang kelayakan pemakaian. Juga sesekali bertanya pada pengunjung tentang pengalaman dan masukan yang mungkin akan menjadi perhatiannya ke depan.
Pria berkulit pucat itu mengelilingi tiap sisi Elanis, kini sampai di taman peri. hari ini taman itu di hias indah sekali. Lampu-lampu kristal disusun di atas taman. akan menjadi gugusan bintang. Jika lampu itu dinyalakan pada malam hari. Dengan perlahan ia melangkah menuju Vinela dan tanpa sadar pikirannya membawanya pada ingatan saat terakhir kali ia berada di sini bersama Reya. Sebelum gadis itu meninggalkannya. Ia duduk menatap air mancur bernama Vinela itu dalam diam sesaat.
"Kita akan bersama lagi, duduk di sini menikmati malam bersama."
larut dalam perasaan sedih membuat ia sulit berpikir sebenarnya. Namun sedikit banyak teriakan dari ibunya yang hampir setiap pagi ia dengar itu sedikit banyak berguna untuk sedikit membangkitkan kesadarannya.
setelah cukup puas duduk dan mengingat masa lalu, ia berjalan untu segera meninggalkan taman peri. berniat kembali ke kantor, menuju ruangannya mengerjakan pekerjaan lain yang masih menunggunya.
"Aku harap orang itu berhasil melakukan upacara pemanggilan itu. Jenuh dan membosankan sekali. Tak ada yang bisa menjadi sandaran dari segala penat yang aku rasakan.
Yunki benar- benar berharap banyak ada Heosok, agar bisa membawa kekasihnya kembali ke dalam kehidupannya. sementara dari kejauhan Jinerly menatap Yunki. tentu saja ia tau apa yang akan dilakukan pria itu. Sang malaikat senior hanya menggelengkan kepala. kadang ia heran juga tentang cara Tuhan bekerja.
"mengapa dosa selalu saja terlihat memberi harapan baru?" gumamnya.