Vivi duduk di kamarnya, kamar dengan nuansa peach yang manis. Di salah satu sudut kamar terdapat aneka koleksi lukisnya miliknya. Apa yang dikatakan Will malam tadi membuat ia berpikir keras. Tentu saja itu terlalu buru-buru manurutnya. Apalagi mereka belum genap satu bulan berkenalan. Apa ia harus menerima atau menolak Will? Sesunggunya, Vivi tertarik pada Will. Will tampan, baik, perhatian juga mapan, sempurna. Will paket lengakap secara personal dan hampir semua yang ada pria itu adalah kesempurnaan. Hanyya saja masalahh utamanya vivi belum mengenal Will secara utuh. Dengan memberanikan diri Vivi menghubungi Will pagi ini. Malam tadi ia belum mengungkapkan apa yang ia rasakan. Vivi berjalan menuju meja rias di mana ia meletakkan ponsel. Segera menekan nama William. Vivi menekan tombo

