Yunki berjalan memasuki kantornya. Disambut para karyawan yang sedari tadi menyapa begitu ia lewat di depan mereka. Hari ini situasi hatinya baik, baik sekali malah. Semalam hubungannya dengan Reya sudah membaik. Mereka juga mengobrol semalaman. Meski kurang tidur wajahnya tetap cerah. Pagi ini melangkah dengan senyum mereka. Sementara Seah sekretarisnya mengikuti sambil membacakan jadwal kegiatan hari ini.
"Tak ada jadwal rapat. Hanya siang nanti anda akan bertemu Nona Kim, untuk memilih gaun pengantin."
Yunki mengangguk. "Ingatkan aku lebih awal. Aku akan menjemputnya sendiri."
"Baik Tuan."
Begitu sampai di lantai lima ia melihat Minjoon duduk di depan pintu ruangannya. Menunggu CEO yang adalah sepupunya itu tiba. Yunki menggerakkan kepalanya meminta sang sepupu ikut masuk ke ruangannya. Pria pucat Piyu melangkah ke sofa yang berada di sana. Duduk lalu meletakan tas miliknya. Ia juga mempersilahkan rm Minjoon duduk.
"Ada apa?"
Minjoon duduk, lalu menyerahkan laporan yang diminta Yunki tempo hari. "Aku menyerahkan ini. Telah aku selesaikan."
Yunki tersenyum, tulus. Senang juga karena sang sepupu tak menunda laporan. Ya, ini lebih cepat memang. Dan ia benar-benar senang Minjoon bisa menyelesaikan lebih awal. Biasanya dia harus mengejar-ngejar Minjoon untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Bagus, aku senang semua berjalan lebih cepat sekarang."
Mendengar itu Minjoon mendengkus. Ada rasa kesal, menurutnya Yunki sok berkuasa. Ya memang dia CEO saat ini. Tapi, tetap ada rasa tak terima dalam hatinya. Kekuasaan memang acap kali membawa rasa iri dan dengki. Banyak orang yang rela melakukan banyak cara kotor. Hanya untuk merebut kursi si kuasa.
Tapi, Minjoon bekum sampai pada tahap itu. Ia masih bisa menahan diri untuk tak melakukan hal-hal yang menakutkan juga baginya.
"Ya, kau bosnya."
Yunki terkekeh. "Bukan salahku karena aku lebih unggul darimu dalam banyak hal."
Lagi Minjoon mendengkus kesal, tangannya mengepal sesaat. Lalu ia menghela napas mengatur emosinya. "Silahkan baca laporannya. Aku akan kembali ke ruangan."
Yunki hanya mengangguk, sementara Minjoon sudah berdiri lalu segera keluar ruangan.
***
Reya masih sibuk di dapur rumahnya menyiapkan makan siang untuk ia bawa. Agar bisa dimakan bersama Yunki. Juga akan ia titipkan untuk dibawa sopir menuju kantor sang kakak. Ayam yang ia bumbui sendiri, tumis sayur, omelette, dan sosis.
Setelah menyiapkan semua ia berganti pakaian. Kemeja oversize berwarna maroon, lalu celana jeans panjang, dilengkapi sepatu flatshoes berwana senada dengan tas cream yang ia bawa. Gadis itu berjalan keluar, menuju mobil putih yang ia miliki sejak lulus SMU. Hadiah dari sang kakak. Ia masuk lalu meletakkan makanan yang ia bawa di kursi penumpang.
Ia melajukan mobilnya, hari ini akan memilih gaun pengantin. Lalu menghubungi Yunki setelah beberapa saat mobilnya berjalan.
"Aku sudah dalam perjalanan."
"Bukankah aku bilang akan menjemputmu?"
"Terlalu jauh, kau harus jalan memutar dari kantor. Kita bertemu di butik saja. Aku membawa makan siang. Hmm?"
"Aish, kau selalu keras kepala."
"Bukan seperti itu. Jika lokasinya tak jauh aku juga ingin kau menjemput ku."
"Hmm."
"Jangan marah chagiya." Gadis itu merayu, membuat Yunki terkekeh kecil.
"Baiklah. Aku segera ke sana."
Keduanya siang itu bertemu di butik. Reya sibuk memilih selera gadis itu sangat sederhana. Beruntungnya Yunki tak pernah berkomentar tentang itu. Ia menerima semua hal yang di sukai kekasihnya. Hanya ia selalu mengingatkan Reya untuk berhati-hati.
Pria itu kini duduk seraya sibuk dengan makanan di tangannya. Santap siang buatan sang kekasih. Membuat ia lahap makan siang ini. Sementara calon istrinya berada di dalam ruang ganti yang ditutup tirai besar.
"Tuan, Nona sudah siap."
Yunki mengangguk, masih sibuk mengunyah omelette di mulutnya. Saat tirai di buka sosok gadis yang cintai berdiri dengan gaun berwarna broken white, bagian bawahnya berpotongan mermaid, di bagian atas potong kerah lebar, dipadu model lengan model tulip pendek. Lalu rambut gadis itu di sanggul sederhana dengan sebuah mahkota kecil sederhana, perak dengan bentuk daun, bertabur berlian.
"Uhukk!" Pria itu terkejut. Jarang sekali kekasihnya berpakaian mewah, jika bukan untuk acara besar. Pun demikian pakaian yang ia kenakan bukan pakaian yang terlalu mewah.
"Berhati-hati."
Reya ingin mendekat menolong Yunki. Tapi, pria itu melarang dengan menggerakkan tangannya. Ia lalu minum. Masih terbatuk-batuk tapi, tatapannya tak berpaling. Bahkan dua orang karyawan di sana terkekeh geli melihat tingkah pria itu.
"Ba-bagus." Ia gugup lalu jawabannya terbata.
Reya geli sendiri dengan tingkah Yunki. " Ayo foto bersama. Pakai jasmu."
Yunki memaki jas yang ia sampirkan di sofa. Lalu meminta karyawan untuk mengambil gambar keduanya dengan berbagai pose.
"Aku baru tau sesuatu." Yunki berbisik.
"Apa?" Reya menatap bertanya dengan penasaran.
"Ternyata kau cantik." Jawabnya tanpa menatap Reya.
Gadis itu mendekat lalu berbisik. "Itu lah alasan banyak pria menyukaiku."
Yunki segera melirik kesal sementara Reya tertawa senang karena lagi-lagi bisa membuat calon suaminya kesal dan cemburu.
***
Jimmy sang malaikat tingkat tiga berada di sebuah trotoar. Kali ini ia mengikuti seorang gadis yang sibuk membagikan makanan. Siapa lagi kalau bukan Reya.
"Hmph, kenapa orang baik selalu pergi lebih dulu," ia bergumam, sambil berjalan terus mengikuti langkah gadis yang kini mengenakan jaket kuning, dengan gambar burung biru .
Seoul memang indah, daya tariknya sungguh luar biasa. Belakangan industri musik dan drama, mengangkat nama Korea menjadi salah satu negaranya tujuan destinasi wisata. Hanya saja, setiap hal selalu mempunyai sisi buruk. Di Korea banyak sekali anak yang enggan mengurus orang tua mereka. Alasannya, karena biaya hidup yang tinggi. Menyebabkan orang tua usia lima puluhan tahun keatas, banyak terlunta-lunta dijalan, tidur di emperan toko atau di terowongan. Karena itu, banyak orang tua yang melakukan tindak kejahatan. Hanya untuk bisa berada di penjara. Aneh memang, tapi, di penjara mereka tak perlu repot mencari makan. Itu alasan sederhananya. Mungkin itu satu dari beberapa sisi gelap yang ada di Korea dan mengganggu pikiran Reya.
Sejak kecil mendingan ibunya tak lupa selalu mengajarkan penting berbagi. Sifat itu lekat tertanam padanya. Meski orang melihat tuan Kim sebagai seorang yang arogan. Namun istrinya dikenal memiliki tauladan yang baik.
Tak ada yang akan menyangka Reya adalah anak dari pemiliknya hotel ternama juga pemilik resort di beberapa kawasan di Asia. Ia tampil begitu sederhana.
Setelah selesai ia berjalan menuju minimarket. Ingin menikmati semangkuk ramen dan kudapan. Jimmy masih mengikuti. Ia menghalau beberapa orang yang sedari tadi hendak menggoda Reya.
"Pelayanan sebelum kau menjadi juniorku. Ah, Jimmy kau baik sekali. Pantas aku menjadi malaikat. Ckckkckc." Pemilik tatapan sayu itu memuji dirinya sendiri.
Gadis itu melangkah masuk ke dalam minimarket. Si penjaga seorang pemuda dengan susunan gigi layaknya kelinci. Dia Jeon-gu, melihat aura hitam disekitar tubuh Reya. Ia memang memiliki kemampuan spiritual yang tinggi. Turunan sang ayah yang seorang saman (dukun).
Ia sesekali memerhatikan Reya yang sibuk memilih ramen. Sampai kini berada di hadapannya.
"Nona, sebaiknya anda berhati-hati," saran Jeon-gu takut-takut.
"Nde?"
"Ah, maksudku di sini daerah rawan."
Gadis yang menggunakan jaket kuning itu hanya tersenyum lalu mengucap terima kasih. Lalu beranjak menuju meja kursi yang berada didekat kaca setelah menyeduh ramen miliknya. Ia lama tak ke Korea. Melepas rindu pada kota kelahirannya dengan menyaksikan lalulintas malam lumayan juga pikirnya. Yang paling penting adalah kebersamaannya dengan tunangannya, Yunki.
Saat itu ponselnya berdering, dengan segera ia menerima. Panggil dari sang kakak.
"Hallo, Oppa?"
"Kau di mana?"
"Di minimarket, aku akan kembali sebentar lagi."
"Aku akan ke sana, ayo kita makan ramen bersama."
Reya menatap mangkuk ramen miliknya yang telah kosong. "Baik, jangan terlambat ya. Atau aku akan pergi dari sini."
"Hmm, tunggu aku."
Gadis itu mematikan panggilan menatap ke jalan yang sepi. Jarang sekali mobil melintas. Di seberang jalan seorang nenek tua duduk meringkuk. Entah kenapa itu menarik antesinya. Sementara di sebelah Reya, Jimmy kembali memerhatikan gadis itu seraya menatap jam di tangannya. Bukan hanya Jimmy, sedari tadi Jeon-gu memerhatikan gadis itu. Aura hitam membuat ia bergidik tapi juga penasaran.
Sementara di kejauhan sosok malaikat berbanding terbalik dengan Jimin. Sebuah atap besar, saat menangkap bulunya nampak berkilau hampir mencapai kakinya, ia berdiri tegak di samping nenek tua itu, menatap jam di tangan, saat bibirnya tersenyum miring, nampak sebuah dimple. Dia adalah malaikat kematian Nam.
Malaikat punya wajah yang rupawan dan menawan. Mereka punya tugas masing-masing di tips sisi putih dan hitam kehidupan. Nam dan Jimmy salah satu diantaranya.
Lalu apa yang akan terjadi setelah kehadiran keduanya malam ini?
***