Setelah pertengkaran dengan Reya tadi si pucat itu kesal. Berjalan memasuki ruangan dengan langkah cepat juga dengan wajah yang masam. Setiap langkahnya menarik perhatian para pekerja. Mereka menunduk takut setiap kali sang atasan mulai terlihat menakutkan.
Bukankah kemarin Bos nampak baik-baik saja?
Nde, kemarin baru saja ia terlihat senang sekali karena kedatangan Nona Kim.
Mereka pasti bertengkar.
Para wartawan sibuk bergosip setelah pintu pimpinan mereka tertutup. Yunki duduk dengan kesal, lalu menggigit kuku ibu jarinya. Selalu ia lakukan itu jika terlalu kesal atau cemas. Ia pencemburu ia akui itu. Dan Reya terlalu ramah membuat kadang ia marah dan kesal. Meski dalam hati kadang bangga juga jika mengetahui betapa luas pergaulan wanita yang ia cintai itu.
Yunki menekan tombol pada telepon di hadapannya. Sahutan dari depan Seah sekretarisnya.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"
"Kau tau apa yang bisa membuat wanita lupa akan amarahnya?"
"Nde?" Tanya sang sekretaris tak mengerti.
Yunki menggaruk tengkuknya, berpikir bagaimana harus menjelaskan soda Seah. "Tolong cari sesuatu yang spesial. Aku ingin meminta maaf pada Nona Kim Reya."
"Aah, baik Tuan."
Ia segera mematikan panggilan. Lalu kembali duduk dengan menghentak-hentakkan kakinya.
***
Sebuah rumah dengan nuansa klasik. Dipadu dengan cat dinding bernuansa hangat. Tatanan ruangan yang didominasi oleh furniture kayu klasik, membuat kesan mewah yang kental. Itu rumah keluarga Kim. Kedua anaknya kini bersama di ruang tengah, menonton televisi. Sesekali William menatap sang adik perempuan yang sibuk menyantap kudapan dengan kesal.
"Hmm, kalian bertengkar 'kan?"
Reya mengangguk, masih terus sibuk mengunyah, tanpa menatap sang kakak. Masih kesal mengingat betapa keras kepalanya Yunki siang tadi.
Will menghela napas, menggelengkan pelan kepalanya. Heran dengan keduanya yang sering sekali bertengkar. "Kalian akan menikah sampai kapan akan terus begini?"
"Itu karena Yunki keras kepala." Reya kesal, meletakkan wadah berisi kudapan miliknya ke meja, lalu menatap sang kakak.
"Kalian sama keras kepalanya." William berkata sambil mendorong pelan kening Reya dengan jari telunjuknya.
Reya mempoutkan bibirnya, lalu berdecih kesal. "Aku hanya tak ingin dia bersikap buruk pada Minjoon. Minjoon itu kan sepupunya."
"Minjoon memang menyebalkan." William terkekeh lalu sibuk mengganti channel TV.
"Kakak, tapi tadi, Minjoon menyapa ramah. Maksudku, aku tak ingin dia marah atau kesal hanya karena cemburu. Itu tak perlu."
"Dia cemburu karena mencintaimu. Aku bahkan selalu saja kau acuhkan ketika kalian bersama. Kau pikir aku tak cemburu?"
Gadis itu merangkul tangan, lalu bersandar pada bahu kanan sang kakak. Tingkah Reya membuat William tersenyum geli, ia mengusap pucuk kepala adik kesayangannya itu.
"Aku sangat menyayangimu, Kak."
"Benarkah?"
"Kau harus selalu sehat dan makan dengan baik. Kau sendirian—"
"Aku bersamamu."
"Iya, nanti—"
"Tidak, aku akan bersamamu. Bahkan jika kau menikah nanti, kau harus tetap perhatian padaku."
Reya tersenyum lalu menatap sang kakak. Memegangi wajah William dengan kedua tangannya. "Aigo, William Kim. Lihat betapa manjanya kau pada adikmu ini."
"Hanya kau yang aku miliki sejak ayah menyusul ibu ke surga. Lalu pada siapa lagi aku bisa bermanja selain padamu?"
"Itulah gunanya Tuhan menciptakan wanita. Kakak, harus segera memiliki kekasih. Agar aku bisa tenang nanti. Akan ada seseorang yang mengurusmu."
"Aish menyebalkan."
Saat itu bel rumah mereka berbunyi. Seseorang datang. Reya beranjak dari duduknya setelah William menggerakkan kepala, meminta sang adik membukakan pintu. Gadis itu menurut dan segera beranjak berlari kecil menuju pintu depan. Reya melihat dari layar. Tak ada siapapun di sana. Ia lalu membuka pintu perlahan, hingga hanya terbuka celah kecil. Lalu sebuah bucket snack menutupi pandangan.
"Maafkan aku." Sebuah suara yang jelas siapa pemiliknya.
"Aah, rupanya tak ada siapapun." Reya seolah tak melihat dan berniat menggodanya Yunki dengan perlahan kembali menutup pintu.
"Kau harus menghargai orang lain jika ingin dihargai. Jangan bersikap menyebalkan dan mengacuhkan orang yang berniat baik—" Yunki berucap mengikuti nada suara Reya. Dan terhenti ketika wanitanya menatapnya dengan kesal. "Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Aish menyebalkan sekali."
"Aku sudah minta maaf. Hmm? Maafkan aku." Yunki memohon setengah merengek, lalu menunjukkan susunan gigi rapinya. Ia tersenyum layaknya kucing kecil.
Saat itu William menyusul, menatap kedua orang yang masih di depan pintu. "Masuklah, di luar dingin. Ini juga sudah malam."
Yunki masuk bahkan saat tunangannya belum mengijinkan. Ia melewati Reya lalu memberikan bucket snack tanpa berkata-kata, setelahnya berjalan dengan tidak peduli. Reya kesal tapi, ia diam di samping pintu. Terdengar Yunki mengajak William bermain PlayStation. Reya menutup pintu, lalu berjalan ke ruang tengah.
Yunki telah membuka jas yang tadi ia kenakan, kini hanya kemeja dengan lengan yang ia lipat terlihat lebih santai. Ia duduk di sofa utama bersama Will yang tengah memilih permainan yang akan dimainkan bersama Yunki.
"Kalian sudah dewasa masih saja bermain seperti itu." Reya bergumam dengan kesal. Ia duduk di sofa yang ada di sisi kiri. Lalu mulai melepaskan Snack dari bucket yang ia pegang.
"Jangan makan kalau kau belum memaafkan aku." Si pucat melarang, sementara tatapannya tetap tertuju pada layar. Permainan telah di mulai.
"Jangan bertengkar kalian akan menikah kenapa terus bertengkar?" William sama saja berkata tanpa menatap Reya atau Yunki. Ia fokus pada permainan.
Sementara Reya sudah tak peduli. Ia meletakkan bucket dengan kesal. Lalu meninggalkan ruangan. Yunki melirik, lalu William menyenggol bahu sahabatnya itu.
"Kejar dia. Dia sudah cukup kita buat kesal."
Yunki mengangguk lalu berlari mengejar Reya, sepertinya ia masuk ke dalam kamar. Pria itu lalu berlari ke lantai dua menuju kamar kekasihnya. Setelah berada di depan pintu kamar ia mengetuk pintu.
"Chagiya," panggilnya lembut. "Reya Min ayo buka pintunya."
Pintu sedikit terbuka, Reya menatap dengan masam. "Jangan panggil aku Min. Aku masih bermarga Kim."
CEO muda itu mengusap kepala sang tunangan, mengacak rambutnya kemudian. "Hmm, sebentar lagi kau akan menjadi Min Reya. Ya kan? Apa salahnya aku memanggilmu Min Reya?"
Gadis itu menghela napas. "Maafkan aku."
"Untuk apa? Kau tak salah. Aku selalu marah padamu. Maafkan aku."
Reya membuka pintu kamarnya. Sang tunangan masuk dengan cepat lalu menutup pintu dan menguncinya. Pria itu bersandar pada pintu dengan senyuman jahil. Menatap pada Reya yang bingung dengan tingkah Yunki.
"Ada apa?" tanya gadis itu.
"Aku ingin ...."
"Ingin apa?"
Yunki memeluk sang kekasih, membawanya ke tempat tidur. Mereka rebah, mata gadis itu terbelalak dengan kelakuan pria yang kini ada di atas tubuhnya. Yunki membelai rambut Reya.
"Aku ingin istirahat di sini." Setelahnya ia merebahkan tubuh di samping Reya.
Reya merebahkan kepalanya di tangan Yunki. Keduanya menatap langit-langit kamar Reya. Sebuah lukisan langit malam yang indah. Dengan hiasan lampu-lampu dengan bentuk bintang. Diatur menyala bergantian hingga membentuk gugusan layaknya langit malam.
Reya menoleh mendapati Yunki yang memejamkan kedua matanya. Bulu mata pria itu panjang meski tak lentik, bibirnya kemerahan, dengan bentuk bibir layaknya kucing, susunan gigi dari pria itu pun rapi layaknya gigi kucing.
"Mau terus memperhatikan?" Yunki bertanya dengan mata yang masih terpejam.
"Setelah kita menikah aku akan terbangun dan menatapmu seperti ini. Melihat buku matamu, pipimu, sudut bibirmu—" belum selesai gadis itu berucap Yunki merubah posisi tidurnya. Ia kini memiringkan badan. Hingga Reya bisa melihat semua detail wajah Yunki.
"Apa lebih baik aku tidur seperti ini?" Perlahan pria itu membuka matanya. Tersenyum melihat gadisnya yang kini menatap dengan binar mata layaknya kelip bintang, penuh harap membuat ia malu juga berdebar.
"Hmm, tidur seperti ini. Aku bisa melihatmu dengan jelas."
Yunki menarik Reya dalam pelukannya, lalu mengecup kening Reya, pipi, lalu bibir gadis itu. Keduanya larut dalam panggutan membuat debat rasa diantara keduanya bergejolak. Alunan malam seolah menuntut untuk saling kecup dan peluk. Larut dalam asmara yang dirasakan. Decak di kamar terdengar bersahutan bersama jam di dinding kamar. Hasrat bisa saja membawa mereka larut lebih jauh sebelum.
Tok tok tok.
"Jangan macam-macam ya!"
Teriakkan dari William menghentikan kegiatan malam keduanya.
"Aish!" Yunki kesal. "Aku hanya tidur!"
"Tetap pakai pakaianmu!! Aku pasang cctv di kamar adikku! Aku tak ingin melihatmu bugil di sana!"
Pria itu dengan segera bergerak menatap sekitar mencari di mana cctv diletakan. "Kakakmu memasang cctv?"
Reya mengangguk.
"Di mana?"
Gadis itu menunjuk sudut kiri kamar, tepat mengarah ke tempat tidur.
"Aish sial."
***