Bab 1. Awal petaka itu
Aku tak ingat sedang berada dimana, sekelilingku gelap, hanya desiran angin malam yang terasa mulai dingin menggigiti tulang, aku mencoba bangkit, tapi rasa pusing menderaku seketika, aku terjerembab kembali. Tubuhku terasa ngilu, tulang berbunyi satu-satu. Dalam kesakitan sekujur tubuh, aku mulai panik dan menangis. Kuraba pakaian bawahku, dan aku terkejut luar biasa, tak ada yang melekat disana, meski hanya secarik penutup tempat vitalku.
Tuhan, apa yang terjadi, kenapa pusing sekali kepalaku, kenapa gelap sekali keadaan, kenapa badan ini rasanya remuk, aku dimana, dengan siapa, ada apa. Semua berputar begitu cepat, membuat semakin sakit kepalaku. Tak ada yang bisa menjelaskan, sampai samar-samar seringai mirip serigala itu terpampang nanar didepanku.
Dibawah temaram pemantik api yang ditempelkan di ujung rokok yang terjepit dibibir tebal lelaki berseringai mirip serigala itu, kesadaranku mulai muncul. Ya tadi sore lelaki bermata jalang yang lebih mirip preman jalanan itu, telah menarik paksa aku, memiting tubuh kecilku, melemparkan ke jok mobil keras, yang kulitnya telah mengelupas disana sini, menutup pintunya dengan tak kalah keras, untuk kemudian melarikan dengan kecepatan tinggi, memukuliku setelah gagal membuatku berhenti berteriak, sesudahnya aku tak ingat lagi, hingga seringai serigala menjijikan itu kini terpampang lagi nyata didepanku.
Kau, lagi-lagi kau membuat onar dalam hidupku. Ada apa kau buat aku begini. Tak ingatkah kau kebaikan ibuku menikahi ayah tiriku, hingga selama ini ayah dan ibuku menampung keberadaanmu?
" Hahaha, sudah bangun ya cantikku, bagaimana rasanya yang semalam, enak bukan, tak perlu kau nunggu-nunggu dinikahi kekasihmu, kau bisa langsung menikmati, tak perlu lagi berdalih kasih sayang murni jika ternyata ujungnya nanti dibawa kesana-sini tanpa kejelasan, hahaha"
" Biadap, ada apa kau sibuk urusi kami lelaki tak jelas, tak kau dengar makianku sebulan lalu, kau pecundang licik yang tak hanya buruk rupa wajah, tapi juga hatimu!
" Kurang ajar mulutmu betina, camkan ini ya, engkau harus mulai belajar menyayangiku dengan sepenuh hatimu, sebab sekarang, hanya aku yang sanggup membuatmu menggilaiku, aku yang telah mengambil semua lambang pongahmu, hai betina sombong!
Lelaki itu memelototiku dengan gusar dan rahang mengeras. Dibalik temaram pemantik api, tubuh lelaki itu terguncang-guncang penuh murka tetapi sejurus kemudian disertai tawa panjang beraroma alkohol cap lapak pinggir jalan, dia mampu membuatku mual, semual-mualnya, hingga mataku berair menahan rasa sedih tak terhingga.
" Penjahat kau, apa yang telah kau lakukan atasku, kau apakan aku, kenapa jahat padaku, apa salahku, kenapa setega ini kau lakukan ke aku, dasar lelaki tak tahu diri, tak tahu diuntung!
Ku terjang lelaki itu semampuku, kucakar sepenuh emosiku, tapi aku kalah tenaga, dengan sangat tak sopan ditempelkan mulut buruknya ke telingaku sambil berbisik tajam.
"Kau tanya apa kesalahanmu, kesalahanmu adalah karena diujung sikapmu, mestinya kau tidak mengejek tentang keluargaku, tentang anakku. Tahu apa kau tentangku, hingga mulut yang tipis itu berani mengilani hidupku?
Aku terus menangis dengan kemarahan yang dalam.
"Kamu cantik, meski tak suka padaku tapi kamu berusaha sopan, kamu anak kuliahan, hidupmu lurus, punya pacar sempurna, punya masa depan bagus, dan tak mungkin mau dengan begajulan semacam aku, bagiku itu semua kebalikan bagi hidupku, bagiku kau menghinaku mati-matian, apalagi sejak pertama jumpa, seperti halnya naluri pria, aku menyukaimu, sementara sudah jelas kau pasti jijik sama aku, tahu tidak, aku terhina dengan kehidupanmu, kau melecehkan aku dengan kesempurnaanmu, dengan lebihmu, dan tugasku adalah menumpas kesempurnaanmu, membuatmu jadi hina begini, dan makin terhina saat kau menghina masa laluku. Sekarang kau rasakan balasan ku, aku ingin membuat hidupmu ternoda rasa malu, kemudian ingin merasakan bagaimana wajahmu yang cantik itu mencium ujung kakiku minta dinikahi, hahaha"
" Apa urusanmu dengan suksesku, mestinya kamu bersyukur jika aku masih membaikimu, lelaki sampah!
Plak, rasa panas menerpa pipiku. Tubuhku langsung terjerembab kebelakang, aku kembali telentang dengan keras, tangisku menyentakkan malam dan lelaki itu menarikku kasar untuk berdiri lagi.
Kemudian dia tertawa terkekeh-kekeh, kekehannya itu mampu menyobek malam, menyobek harga diriku, menyobek rok bawahku, menyobek semua yang kumiliki, dan satu sentakan amat sakit menyobek kesadaranku. Aku sadari kini, aku telah diperkosa lelaki terkutuk yang kelak kutukannya, akan jadi kutukan panjang dalam hidupku.
Ayah tiriku pasti tak akan berani berkata, jika tahu, pemerkosa itu adalah, lelaki yang selama ini dia tolong hidupnya. Sebelum dia makin kalap dengan perbuatan jahatnya, sekuat tenaga aku berlari darinya. Rok bawah yang tadi sempat kupegang, masih sempat kukenakan sebisaku.
Ku susuri hutan belantara buatan ini, aku tak ingat hutan mana, seingatku ini hutan buatan di tengah kota yang lama keberadaannya tidak terawat. Sambil menahan sakit disekujur tubuh, kupaksa diri ini berlari dan terus berlari menjauh, dibelakangku tawa sinis lelaki itu terus membahana, mengiringi tangis satu-satu yang dengan gusar cepat ku usap, aku tidak boleh cengeng, tidak boleh, kecengengan hanya membuatku lemah dan tampak makin bodoh.
Bukankan kecelakaan seperti ini wajar terjadi, bukankah aku masih tetap wajib bersyukur tidak dibunuh atau dicelakai seperti lazimnya cerita-cerita korban perkosaan pada umumnya, bukankah aku masih bisa melarikan diri untuk segera mencari pertolongan dengan segera.
Berpikir sampai disitu tekadku semakin kuat, panduanku hanya cahaya dikejauhan yang kuyakini itu pasti cahaya dari rumah penduduk, terus aku berlari, rok bawahku yang sempat dilempar penjahat itu dan sebisanya kupakai memang tak sepenuhnya sempurna menutup pahaku, tapi setidaknya mampu menutupi lebih jauh sesuatu yang secara umum wajib tertutupi dengan sempurna.
Ku kejar cahaya itu makin cepat, pelan suara ayam berkokok satu-satu mulai terdengar, aku harus cepat sampai dirumah sebelum terlihat oleh orang-orang, sebelum tenagaku habis, sebelum kepergok banyak orang dan akhirnya berita diriku viral.
Ya Tuhan, keluargaku pasti panik sejak tadi malam, kesayanganku mas Given pasti sudah kebingungan sedari tadi malam, sebab aku tahu, peristiwa apapun tentangku, ibuku pasti menghubungi tunanganku itu. Maafan aku wahai orang-orang tersayang, jika pamitku jalan- jalan sore sambil berniat mencicipi bakso diujung gang itu menyebabkan rentetan panjang begini.
Aku ingat dengan jelas kejadian kemarin. Baru beberapa langkah dari rumah ingin menuju tukang bakso dipengkolan jalan yang baru buka, sengaja aku berjalan kaki sembari olah raga sore, saat mobil bersopir lelaki tak jelas itu nyaris menyerempetku. Kemudian si sopir yang kukira hendak minta maaf itu mendekatiku, membuka kacamata hitamnya dan membuatku langsung terkejut luar biasa. Terkejut yang hanya memiliki waktu sepersekian menit, sebab secara cepat lelaki itu tiba-tiba menaikkan paksa aku ke mobilnya. Hingga terjadilah peristiwa itu.
Aku memaki dalam kemarahan yang tertahan, jiwa ragaku sakit semua, namun samar tapi pasti dugaanku benar, ini taman kota yang tak seberapa jauh dari rumah, kilauan cahaya lampu kota segera menyambutku dengan terang benderang. Pendarnya seakan sebuah kekuatan, sama kuatnya ketika mataku terbentur sebuah becak dengan pengendara yang tengah pulas diatas tempat duduk penumpang, tanpa menunggu waktu aku bangunkan pengendaranya yang sedikit terkaget bangun, lebih kaget lagi dia melihat tampilanku yang berantakan, tapi sepertinya dia maklum, tanpa banyak tanya segera mempersilahkan aku duduk untuk segera mengikuti perintahku menuju rumah.