Becak itu bergerak membawaku pergi menjauhi hutan laknat ini. Dan pikiranmu kembali melayang ke waktu berjam-jam yang lalu, saat aku tak ingat apapun.
Aku betul-betul tak ingat apapun, tak ingat sedang berada dimana, karena sekelilingku gelap, dan hanya desiran angin malam yang terasa mulai dingin menggigiti tulang. Aku mencoba bangkit, tapi rasa pusing menderaku seketika, aku terjerembab kembali. Tubuhku terasa ngilu, tulang berbunyi satu-satu dan dalam kesakitan sekujur tubuh, aku mulai panik dan menangis. Kuraba pakaian bawahku, dan aku terkejut luar biasa, tak ada yang melekat disana, meski hanya secarik penutup tempat vitalku.
Tuhan, apa yang terjadi, kenapa pusing sekali kepalaku, kenapa gelap sekali keadaan, kenapa badan ini rasanya remuk, aku dimana, dengan siapa, ada apa. Semua berputar begitu cepat, membuat semakin sakit kepalaku. Tak ada yang bisa menjelaskan, sampai samar-samar seringai mirip serigala itu terpampang nanar didepanku.
Dibawah temaram pemantik api yang ditempelkan di ujung rokok yang terjepit dibibir tebal lelaki berseringai mirip serigala itu, kesadaranku mulai muncul. Ya tadi sore lelaki bermata jalang yang lebih mirip preman jalanan itu, telah menarik paksa aku, memiting tubuh kecilku, melemparkan ke jok mobil keras, yang kulitnya telah mengelupas disana sini, menutup pintunya dengan tak kalah keras, untuk kemudian melarikan dengan kecepatan tinggi, memukuliku setelah gagal membuatku berhenti berteriak, sesudahnya aku tak ingat lagi, hingga seringai serigala menjijikan itu kini terpampang lagi nyata didepanku.
Sreet, mendadak tukang becak membuyarkan lamunanku dan hilanglah bayangan penjahat yang meski samar, aku tahu pelakunya. Lelaki tak tahu diri dan tak tahu diuntung.
Rumah mungil orang tuaku terbuka lebar, beberapa tetangga, para saudara ibu, mas Ven, adalah mereka yang menyambutku dengan histeris, ibu berlari tergopoh memelukku, tangisnya pecah disambut tangis bersahutan para ibu tetangga, wajah keras dan mata menahan tangis para pria yang mengasihiku membuat hatiku tak tega menceritakan semua peristiwa yang terjadi. Dengan tergopoh mereka berbagi tugas, ada yang merebuskan aku air hangat, ada yang membuatkan teh panas, ada yang mencarikanku baju yang pantas, semua bekerja dalam tangis tertahan, dan yang pasti mereka ingin mendengar apa yang terjadi.
Aku menahan mirisnya hati, aku sudah bertekad tak akan menceritakan yang sebenarnya. Aku tahu jika aku bercerita, maka bisa dipastikan hidupku dan harga diri keluarga, akan berkeping-keping. Pertama, tidak suci lagi saja sudah pasti aib, kemudian diperkosa, kemudian pemerkosa itu dikenal baik oleh keluargaku, kemudian semua tahu, pemerkosa itu residivis kambuhan, pembuat onar dan sederet julukan lain, yang satu julukan saja sudah cukup menjatuhkan nama besar keluargaku, hanya karena ayah tiriku yang amat polos itulah kenapa begajulan itu sampai bisa menorehkan noda seperti ini ke tubuhku.
Saat semua tetangga mengitariku, aku menghabiskan suapan terakhir, mata-mata didepanku masih mencecarku wahahku. Aku tahu apa yang ada dipikiran mereka. Mereka ingin mendengar ceritaku dengan lengkap, mereka ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Berpikir begitu aku segera menyimpan piring dan kembali ke ruang depan dengan percaya diri. Kemudian bersiap aku bercerita tentang semuanya,bercerita sejelas-jelasnya, dengan banyak point utama kututupi. Kemudian bibirku lancar menguntai kalimat, bahwa seseorang berusaha menodaiku tetapi tidak berhasil, bercerita lebih tepatnya berbohong, bahwa aku tidak kenapa-kenapa, bahwa setelah ini aku akan biasa lagi, bahwa aku akan mengambil hikmahnya dan bahwa aku tak kan terpengaruh sedikitpun dengan peristiwa ini.
Mas Given menatapku ragu, pria ini sudah sangat dekat dengan keluargaku bahkan awal tahun depan kami akan menikah setelah sama-sama diwisuda, ibuku lebih ragu lagi, perempuan berhati malaikat ini paling paham tentangku, tetapi setidaknya mata-mata garang para pria tetangga dan ayah tiriku melunak, mereka hanya mencecar ciri-ciri pria penjahat yang mencoba mengagahiku namun gagal. Aku menyudahi keingin tahuan mereka semua dengan kata tak ingat, dan menolak keras saat seseorang mengusulkan harus lapor polisi.
Akhirnya mereka menuruti keengganannku lapor polisi, mereka berusaha menerima, meski jelas wajah-wajahnya tidak puas. Ah biarlah, untuk saat ini setidaknya aku belum siap dan tak akan siap. Hari ini aku hanya ingin tertidur panjang, berusaha melupakan tragedi yang membuatku bagai hidup dalam dongeng, bagaimana tidak, gadis kampus dengan segudang prestasi, namanya dikenal dimana-mana, pembicara terbaik tentang tatanan hidup, HAM, perempuan dan hak-haknya, dan semua hal yang berkaitan dengan etika dan norma, tapi pada akhirnya, lambang harga dirinya cuma dinikmati residivis kambuhan. Ah ah, dunia tidaklah kejam, yang kejam adalah para penjahat itu, tidak hanya tega merampas harta orang tetapi juga sebuah harga diri dan masa depan yang sudah seseorang rencanakan dengan baik. Miris bukan? Tapi itulah hidup, mesti terus berjalan, jalan dan terus jalan, meski siap atau tidak siap kita menerima sebuah tragedi.
Setelah semua pulang, Mas Given dengan wajah sedihnya mendekatiku. Menatap mataku dengan tajam dan butuh jawaban pasti. Mata hitam yang selalu memaksaku tidak berani berbohong. Pun saat ini, terlebih ketika wajah penuh kasih itu, merangkumku dalam kasih tiada batas. Oh mas Given yang baik dan dewasa, masih sanggupkah aku terus bertahan denganmu sementara ceceran noda yang kini ada dalam tubuh kekasihmu ini begitu sulit untuk dihapus. Andai nanti aku tak sanggup lagi berjalan denganmu, sanggupkah kau menerimanya mas?
" Jujurlah yang, aku tetap akan mencintaimu, meskipun seluruh dunia lelaki akan menjauhimu".
Sekonyong lamunanku dikejutkan suara lembut mas Given. Lelaki kesayanganku itu menghujamkan bola mata seteduh samudra miliknya tepat ke manik mataku, dan jujur, tatapan teduhnya selalu sesejuk oase menyejukkan padang yang gersang dan tandus.
Aku cuma menangis, dan tangisan itu membuat giginya beradu, tatapannya memerah, dicekalnya ujung kerah bajuku. " Katakan siapa dia, kamu tidak kenalkah, kamu diperkosa kan yang, kamu tunjukkan ciri-cirinya, kita lapor polisi, kenapa diam sayang" Dengusnya dengan nafas tak beraturan.
Tangisku pecah, dan mas givenku meninju dinding rumah hingga darah mengaliri jemarinya. Tak biasanya lelaki masa depanku itu tak mampu menahan emosinya. Barangkali wajar lah, dia sangat cinta aku, kami berdua sudah tinggal akad nikah setahun lagi. Setahun itu betul -betul hanya ingin nanti di undangan pernikahan, ada dua gelar sarana, yakni atas namaku dan atas nama calon suamiku. Tentu hal ini sangat membanggakan keluarga besarku, dan terutama keluarganya mas Given. Sebab darah biru yang melingkupi keluarga besar calon suamiku, tak mungkin mau menerima jika aku hanya wanita biasa-biasa saja. Tapi berulang mas Given selalu menghiburku,bahwa ia cuma menyayangiku, bukan sayang dari siapa aku diturunkan, melainkan karena dia cinta aku tanpa memandang kasta, keturunan atau gelar sarjanaku. Dan aku memang percaya, mas Given cinta aku tanpa pamrih.
Kami berdua diam. Mas Given bersungut sambil membiarkan tangannya terluka. Disaat begitu aku hanya diam. Rasanya tak tepat waktu jika melayani gejolak emosinya saat ini.
" Mas, suatu saat aku akan jujur, tapi tidak sekarang". Aku menghela nafas. " Jika semua bisa sementara ini kita redam, kita redam saja, aku tidak ingin peristiwa ini membebani siapapun, ku anggap ini musibah mas"
Kulihat mas Given menatapi langit ruangan dalam galau dalam. Aku hanya mengeluh dalam hati, ah hidup kenapa begini kejam ya orang-orangnya. Apa sebuah kepantasan, jika lelaki paruh baya yang cocok jadi pamanku itu dan memang paman tiriku itu tega menggagahi aku dengan alasan sepele begitu. Atas nama hak apa, hingga ia tega dengan tidak tahu diri membuat aku terjatuh di jurang terdalam. Sangat dalam, hingga butuh ribuan tenaga agar aku bisa bangkit lagi.