Mendadak kesunyian mengepung kami, hanya suara deru ban menyentuh aspal samar- samar terdengar, suara yang menandakan kami berdua tengah jauh menepi dari keramaian pinggir jalan, bersama dan berdua dalam kekalutan pikiran masing- masing, di satu senja pasca dua bulan sejak kejadian pilu itu.
" Baik jika sayang, berkeras meredam tragedi ini dan mencoba membuat keadaan seperti tidak terjadi apa- apa, tapi tetap mas kukuh menunggu sayang, bagi mas, sayang itu penyempurna ibadah yang mas mimpikan selama ini, cantik, soleha dan berkelas, terlepas dari kebiadaban lelaki yang telah menggagahi sayang! Lelaki itu menahan gerahamnya, mungkin dia ingat nama Roni, adik ayah tiriku, sipemerkosa itu, mencoba meredam kesakitan karena rasa cinta yang aku tahu berlebih-lebih cuma buatku.
Aku tergugu dalam sesegukan yang mati-matian kutahan, antara haru, sakit dan rasa rendah diri yang mulai hadir, membuatku cuma mampu bertahan untuk tidak berkata apapun.
Mas Given pelan menghampiriku, menyusut air mataku hingga kering, kemudian memelukku erat, " sayang, kita tetap bertahan ya, saling menguatkan dalam suka dan duka, itu janji kita dua tahun lalu, dan hingga hari ini kujanjikan sekali lagi untukmu."
Aku mengangguki bisikannya, dan senja memerah menjadi saksi, keyakinan cinta kami. Cinta yang semestinya tidak perlu ternoda, andai peristiwa ini tidak dimulai beberapa bulan lalu. Mestinya pertengkaran biasa, tapi dasar otak manusia itu kadang ada psikopatnya, maka ucapanku malam itu, pada lelaki setengah tua paman tiriku itu, membuat hidupku akhirnya kacau begini. Ingatanku kembali ke masa beberapa bulan lalu.
Aku baru saja meletakkan tas kuliahku di kamar, saat ibu menyuruhku mengantarkan minum ke seorang lelaki di ruang tamu dengan segera. Agak segan, kuintip sebentar siapa lelaki yang bertamu siang-siang begini. Tumben ada orang bertamu saat jam waktunya orang sibuk bekerja, karena di dinding baru menunjukkan pukul 15.00 WIB. Aku intip sekilas, dan kulihat lelaki yang di maksud itu tengah mengedarkan pandangan dalam diam. Mata kecilnya liar mengacak seluruh ruang tengah keluargaku. Sesekali matanya yang setengah merah itu menjilati poto keluarga, dipoto itu ada aku, adikku, dan dua orang tuaku sebelum ayah kandungku wafat. Rambutnya yang acak menutup muka tirusnya yang seperti perampok kambuhan. Hih, jiwaku julidku kambuh. Aku bergidik mual dari balik gorden pintu yang menghubungkan ruang makan dan ruang keluarga. Nampan berisi kopi yang barusan diangsurkan ibu ketanganku karena beliau cepat -cepat menangani ayam gorengnya, nyaris jatuh demi mengintip siapa yang hendak kusajikan kopi yang kubawa. Heran ah, tidak biasanya ayah tiriku, Ayah Barok, demikian biasa kupanggil, punya kenalan tengil begini. Lelaki buruk rupa tadi kuperkirakan berusia 35 tahun, kurus kering, dekil dan kurasa jarang sekali mandi, terpampang nyata ada didepanku meski pandangan mataku agak jauh. Ada apa sih ayah membawa orang tidak bermutu begini ke rumah?
Penuh ragu akhirnya aku melangkah ke depan. Teriakan lirih ibuku, dan panggilan bantal kesayangan, membuatku buru-buru menyelesaikan tugasku dan segera berpelukan dengan si empuk berbalut kain penutupnya yang berwarna merah jambu, hadiah ulang tahun dari mas Given.
" Silahlan diminum", ucapku lirih pada lelaki yang tengah menekuri ujung kakinya. Wajah buruknya segera meneliti wajahku yang tiba-tiba membuatku jadi jengah.
Kuletakkan kopi dengan segera dan secara tergesa menyeret langkahku untuk mundur dari depan matanya. Dengan gerakan selembut mungkin, aku kemudian beringsut lincah agar cepat terhindar dari ruang keluarga itu. Lelaki itu rasanya bakal jadi sumber penyakit hidupku, jika terlalu lama disitu. Niatku hampir berhasil setelah kulihat ayah tengah sibuk dengan ponselnya, meski teh untuknya juga sudah kuletakkan didepan beliau. Ayo Ranti pergi, begitu bisik hatiku, namun sedetik kemudian dugaanku salah, saat ayah berucap, " Ranti, ayo salami Om Roni, dia adik ketiga ayah yang datang dari kampung, ujar ayah lagi, lalu melanjutkan ucapannya, " rencana akan kerja ditempat kita, mendodos sawit, sementara ayah mulai panen buah pasir sawit kita di hektar ketiga", ujar ayah penuh kebapakan.
Aku segera menghentikan niatku berlalu. Apa, kerja disini, aku tak suka ucapan itu, apa tidak ada orang lain lagi apa ya. Memang ayah pernah bilang mau cari tenaga pendodos, mengingat kebun sawit ayah tiriku di hektar ketiga mulai buah pasir. Buah pasir itu, buah awal sawit, biasanya masih kecil-kecil.
" Eh oh, iya ayah, tidak apa- apa, ayah perlu tenaga baru memang", ujarku kecut.
Aku mengulurkan tanganku pada lelaki dekil setengah tua itu, yang menyambut tanganku dengan gempita, meliariku dengan mata jalangnya yang seperti serigala tua, tersenyum yang aku tak tahu maksudnya, sementara aku menyambutnya dengan senyum terpaksa, untuk kemudian cepat kutarik tanganku, sebab disamping makin sebal, juga karena telapak tanganku terasa disalami tangan yang sekasar kukuran kelapa.
Lelaki tadi tetap tersenyum, tetap menancapkan pandangannya padaku, seperti juga ayah yang kulihat sedikit lega saat tahu aku tersenyum seperti tidak ada apa-apa. Aku kemudian meninggalkan dua orang itu tergesa. Wajar, ayahku tadi lega, bagaimanapun aku putri pertama ayahku, almarhum bapak Surya dilaga, pemilik kebun sawit yang sudah mapan sebelum ayahku wafat. Wajar ayah tiriku lega, sebab aku tampak setuju dengan idenya.
Sampai kemudian Ayahku tiri datang, setelah ibuku menjanda hampir lima tahun. Pasti ayahku lega, aku tak menolak kehadiran lelaki itu, yang kelak aku tahu, dia mantan pecandu narkoba, pemabuk, pencuri dan kini baru saja keluar dari penjara. Kata ayah sih, dia sudah sadar dan mau bekerja lagi yang lebih wajar dengan baik. Tapi semogalah memang begitu.
Sejak pertemuan sore itu, selanjutnya hari- hari jadi sangat menyebalkan. Kadang Om Roni begitu lelaki buruk rupa itu dipanggil, sering seperti hantu yang tiba-tiba muncul didepanku, didepan kami, pun saat aku dan mas Given tengah diskusi kuliah kami. Atau tiba- tiba berpapasan, saat aku baru selesai mencuci. Ah, pokoknya sering ketemu yang membuatku makin tidak simpati.
Puncaknya saat dia berdehem ketika memergoki mas Given tengah memelukku suatu hari di malam minggu. Apa maksudnya coba berdehem seperti orang tidak punya adab, memangnya aku tengah kenapa. Hampir aku bangkit dan memakinya, saat mas Given sontak meletakkan telunjuk di bibirnya padaku.
" Ada apa ya Om, kok sibuk ngintip kami dan berdehem begitu, apa ada yang salah dengan kami?, Tanya kekasihku itu sopan.
" Anak muda jaman sekarang, lebih suka yang tidak jelas daripada mengangkat harkat dan martabat keluarga" dengus lelaki itu ketus.
Lelaki itu bersuara getas, mendidih darahku mendengar ucapan tidak sopannya. Mas Given tetap tenang.
" Yang om lihat tidak seperti yang sebenarnya, kami cuma saling peluk sayang, sekedar saling dukung dalam ikatan cinta tulus", ujar kekasihku. Aku mengiyakan dalam hati dan mengangguk tegas.
" Puih, cinta, apa itu cinta, ujungnya anak orang ternoda, sudah banyak kasus begitu, melahirkan sebelum menikah", ujar si buruk rupa lagi dengan keras.
" Oom jangan asal bicara ya, saya menjaga marwah calon istri saya hingga nanti ke pelaminan", ujar kekasihku mulai gusar, yang disambut kekeh si buruk rupa dengan tidak sopan.