-3-

1117 Words
? "Dek, sudah pulangkah tamu bulanannya?" bisik Mas Fian. Mataku terbelalak, kedua tangan ini gemetar ketakutan. Jawaban apa yang harus katakan padanya? Beberapa saat aku terdiam, ingin rasanya aku berbohong lagi, tapi kalau dia minta bukti gimana? Tapi kalau aku gak bohong, itu artinya aku ... Gustiiiiii, tolong Baim eh tolonglah hambamu ini ya Allah. "Dek," panggilnya lagi, benar-benar tak tahu malu. Rupanya dia udah gatal, kepingin rasanya bantu ngegaruk pakai sikat kawat, huh! "I-iya, Mas." Aku berlagak pilon, padahal sedang bingung memikirkan jawaban atas pertanyaan si Bandot Tua yang memeluk sembari menciumi tengkuk ini. Weleh-weleh geli bin enek aku dibuatnya, dalam diam penuh dengan kegelisahan yang hebat aku berpikir keras. Suara panggilan si Bandot Tua membuatku sulit untuk bisa mendapatkan ide brilian untuk ngeles. "Dek, udah selesai belum haidnya?" Pertanyaan terakhir itu, terdengar penuh dengan pengharapan. Akhirnya dengan lemas, aku mengangguk tanda kalau si tamu bulanan sudah pulang. Aku yakin kini wajahnya berseri, dan matanya berbinar bahkan bisa jadi ada tanda love maju mundur berdenyut-denyut. Dugaanku tepat, 1000% sangat tepat. Karena apa? Karena tangannya mulai bergerilya menjelajah, dan dengan semangat'45 ia menciumi setiap jengkal tengkuk, pundak dan punggung ini. Kupejamkan mata, menahan semuanya dalam diam. Begitu pula saat tubuh ini dibalikkan olehnya, aku pasrah saja. Bukan berarti aku murahan loh ya, karena ini menunaikan kewajiban aja. Takut dosa dan kualat. Sentuhan lembut dan ciuman mesranya, sama sekali tidak dapat membakar hasrat ini, jauh di lubuk hati aku menangis karena harus menyerahkan kesucian kepada laki-laki yang sama sekali tidak aku cintai. Dengan penuh perasaan Mas Fian mengayuh biduknya sendiri, seolah tidak peduli dengan sikap tak acuh ini. Peluh bercucuran yang dibarengi lenguhan panjang, jadi pertanda bahwa dirinya telah tuntas menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Hancurlah aku, malam pertama yang digadang-gadang indah nan syahdu malah kurasa menjadi malam yang paling kelabu. Di dalam kamar mandi yang luas ini, aku menangis sejadi-jadinya. Kunyalakan keran penuh, agar suara tangis tidak terdengar keluar. Aku benci keadaan ini, aku menyesal kenapa dilahirkan pada keluarga yang tega menjual putrinya pada bandot tua yang tidak aku cintai. "Semua gara-gara Ibu dan Ayah, aku benci kalian, benciiii!" Setelah menangis, beban dan rasa sedihku sedikit berkurang. Aku keluar dari kamar mandi dengan wajah yang biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Mas Fian kembali memelukku, ia memeluk belakang tubuhku, membelai lembut rambut dan bekali-kali mencium tengkuk leherku. "Terima kasih ya, Dek, kamu bersedia menerimaku menjadi suamimu. Aku berjanji akan membahagiakanmu." "Iya Mas, sudah kewajiban untukku melayanimu." Ya aku menerima nafkah batin dari kamu hanya karena kewajiban, bukan cinta. ? Pagi ini adalah pagi pertamaku di rumah Mas Fian, walaupun enggan tapi aku bangun pagi-pagi sekali. Aku ingat nasihat Ibu, katanya kalau di rumah mertua wajib bangun pagi supaya mertua menyayangi kita. Setelah mandi dan salat subuh aku keluar kamar menuju dapur, Mas Fian yang masih terlelap kutinggalkan saja, toh aku tidak peduli dengannya. Kulihat seorang wanita seusia ibuku sedang sibuk mencuci piring. Aku berjalan mendekatinya, wanita itu tersenyum dan memanggutkan kepalanya padaku. "Bik, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku sungkan. "Oalah, ngapain Non Amel ke dapur pagi-pagi begini?" "Kata Ibu, kalau di rumah mertua harus bangun subuh, Bik. Hehe." Dengan polosnya aku menjawab. "Benar itu, Non. Tapi di rumah ini, majikan gak boleh ngerjain kerjaan rumah." "Duh, jangan kaya gitu ah, Bik. Aku bantuin bikin apa kek, Bik." "Jangan, Non! Biar Bibik saja yang mengerjakan semuanya." "Tapi Bik, aku bingung harus ngapain sepagi ini." "Nona Amel bisa jalan-jalan saja keliling komplek, atau berenang dikolam renang yang ada di halaman belakang." "Bik jangan panggil 'Nona'! Panggil saya Amel." "B-baik, Neng Amel." "Nah begitu lebih enak didengar, saya gak biasa kalau harus olahraga pagi-pagi, apalagi berenang bisa-bisa nanti masuk angin." "Hehe, si Neng bisa saja. Ya sudah kalau gitu Neng Amelia duduk nonton tivi saja, jam segini biasanya acara siraman rohani." "Gak mau, ah. Biarin saya di sini ya Bik, please." "Neng Amel duduk aja di sana," tunjuk Bik Nani. "Ah, Bibik! Oh iya, nama Bibik siapa?" "Panggil saja Mawar eh salah, hehe ... nama Bibik, Nani." "Haha, Bibik bisa ngelawak juga ternyata." Tawa kami pun berderai. "Ayolah, Bik! Kasih saya kesibukan apa aja yang penting gak melongo sendirian." "Tapi, kalau nanti Mas Fian marah gimana?" "Enggak akan, Bik. Nanti saya bilang, kalau saya yang mau sendiri. Jangan takut, Bik." "Ya sudah kalau gitu, Neng Amelia rebuskan air saja di teko stainless itu, lalu siapkan teh celup dan gulanya ya." "Ok Bik, siap. Saya minta kerjasamanya ya Bik, saya benar-benar merasa asing di rumah sebesar ini." "Baik, Neng." Aku segera mengisikan air ke teko stainless sampai 3/4 bagian, setelah itu menaruhnya diatas kompor. "Bik, teh dan gulanya di mana?" "Itu Neng, di kitchen set atas." Bik Nani menunjuk letak teh dan gula dengan jempol kanannya. "Oke, ini takaran segimana? Maniskah atau biasakah?" "Kalau punya ibu pakai gula tanpa kalori kemasan, karena Ibu punya diabetes, tapi kalau Mas Fian dan Neng Desi pakai gula pasir biasa. Takarannya 2 sendok teh saja." "Oke." Teko stainless berbunyi tanda air dudah mendidih, aku mematikan kompor lalu mengangkatnya. Saat hendak menuangkannya ke dalam cangkir-cangkir yang berjejer rapi di atas nampan, Bik Nani mencegahnya cepat. "Eh tunggu Neng, jangan langsung dituang! Harus dibiarin dulu lima menit." "Loh kenapa?" "Perintah Ibu, Neng, Bibik juga gak ngerti kenapa." Aku mengangguk mendengar ucapan Bik Nani, meskipun sebenarnya dalam hati aku merutuk, 'Ribet banget sih di rumah ini, masalah air saja ada peraturannya. Hadeuh ....' "Ini, Bik, sudah lima menit, sudah boleh aku tuang?" "Iya Neng sudah boleh ...." "Oh ya Bik, setelah ini aku ngapain lagi?" "Ini saja Neng tolong kocokin telur 4 butir, lalu didadar di teflon. Hanya pakai garam ya neng jangan pakai micin." "Duh mana enak Bik, kalau cuma garam." "Hehe sudah Neng ikutin saja. Semua orang di rumah ini generasi non micin." Aku geleng-geleng, Bik Nani tertawa melihat ekspresiku. "Dek, tolong kesini sebentar!" suara Mas Fian mengejutkanku. Dengan enggan aku gontai berjalan menuju kamar yang tidak jauh dari dapur. "Ya Mas ada apa?" "Dek, tolong ya kalau habis pakai barang disimpan kembali ke tempatnya. Supaya nanti kalau mau pakai lagi, kita gak bingung mencarinya." "I-iya," jawabku pelan. Mendengar ucapannya aku agak tersinggung, jadi cowok kok bawel banget, masalah sisir salah naro aja pake dibahas segala, ckck. Sepeninggal dirinya ke kamar mandi, aku segera bergerak merapikan tempat tidur. "Oh ya Dek, ini handuk bekas pakai kan basah tolong jangan langsung digantung di sini, lebih baik dijemur dulu di halaman samping supaya terkena sinar matahari. Jadi gak lembap, soalnya bisa menimbulkan jamur kalau handuk basah dibiarkan lembap." Aku mengangguk dan mengambil handuk bekas pakai yang ia pegang, lalu keluar kamar dan berjalan menuju halaman samping untuk menjemurnya. 'Benar-benar banyak banget aturan di rumah ini, dasar perjaka tua, bujang lapuk, bandot tua!' aku merutuk dalam hati. -Bersambung-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD