-4-

1562 Words
Setelah selesai menjemur aku kembali ke kamar untuk melanjutkan merapikan tempat tidur. Ketika masuk, Mas Fian baru saja keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Ia tersenyum kepadaku. Bergegas ia mengenakan baju koko dan sarung, menunaikan salat subuh dengan khusyuk. Usai salat, ia beranjak dan membuka lemari pakaian dan mengambil sepotong kemeja tangan panjang beserta celana jeans biru dongker. Diam-diam kuperhatikan penampilan Mas Fian, tidak ada yang aneh dengannya, wajahnya lumayan tampan, matanya bulat dan cokelat, hidungnya bangir dengan bibir agak tebal, tumbuh pula brewok tipis yang rapi dan terawat, membuat parasnya gahar dan macho. Kulitnya tidak terlalu putih tapi bersih, badannya tinggi atletis, meski perutnya tidak ada roti sobeknya tapi ramping alias tidak buncit. Dia tidak jelek, tidak juga tampan, ya sedang-sedang saja lah. Tapi kenapa dia betah berlama-lama menjadi bujangan sampai usianya 40 tahun? "Dek!" Suara Mas Fian membuyarkan lamunanku yang sedang membuat penilaian terhadapnya. "Ini uang untukmu, Dek Amel bisa pakai untuk membeli keperluan pribadi Dek Amel. Kalau untuk masak sudah diserahkan ke Ibu, Ibu yang mengatur semuanya. Kalo Dek Amel mau makan tersendiri, bilang saja sama Bik Nani ya!" Aku menerima amplop putih berisikan uang yang lumayan tebal itu. "Ehm, Mas aku boleh kasih sebagian ke Ibu dan Ayah gak?" Tuh kan, walau aku bilang benci sama mereka, tetap saja aku tetap khawatir dan sangat peduli. "Silahkan, Mas gak akan pernah melarang Dek Amel untuk kasih uang pada orang tua dan adik-adik. Karena mereka sudah Mas anggap keluarga Mas sendiri, jauh sebelum kita menikah." "Makasih Mas, sisanya mau aku tabung saja. Tapi aku belum punya rekening bank." Mas Fian tersenyum dan menatapku. "Bikinlah rekening, jadi setiap Mas kasih Dek Amel jatah bulanan praktis, tinggal transfer saja." "Iya nanti aku bikin, makasih ya." Ia terus menatapku, salah tingkah aku dibuatnya. "Oke, sekarang kita sarapan yuk!" "Eh tunggu Mas, aku mau nanya sesuatu lagi." "Ada apa?" "Nanti kalau Mas kerja, aku di rumah ngapain? Mau ngerjain kerjaan rumah ada Bibik, mau diam terus di kamar gak enak, mau nonton tivi di luar sungkan. Mau nonton di dalam kamar juga takut disangkanya gak mau temani Ibu. Bingung aku, Mas." "Haha, kaya gitu aja kok dipusingin. Ikutin saja alurnya, Ibu Mas gak ribet kok." Kugaruk kepala yang tidak gatal, alih-alih menjawab Mas Fian malah menarik tangan dan menuntunku berjalan ke dapur untuk sarapan bersama. Setelah sarapan aku mengantar Mas Fian sampai depan pintu, aku mencium punggung tangannya dengan takzim. Sesaat setelah mencium tangannya, Mas Fian mengecup keningku. "Mas berangkat dulu ya ...." "Iya." "Dek Amel baik-baik di rumah ya, kalau ada apa-apa segera hubungi Mas." "A-aku ... aku gak punya no hpmu, Mas." "Dasar, no hp suami sendiri gak disave. Ya sudah nanti Mas kirim no Mas ke Dek Amel ya." "Iya, Mas." "Aku berangkat dulu, assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Setelah mobil yang dinaiki Mas Fian berlalu menghilang dari pandangan, aku bergegas masuk ke dalam. Saat akan masuk ke dalam kamar terdengar suara ibu mertua memanggilku. "Menantu, sini dulu!" 'Gila! Menantu? Dia gak bisa manggil gue pake nama apa? Duh dasar emak-emak judes manggil seenak jidat dia,' rutukku dalam hati. "I-iya Bu, ada apa?" "Sini duduk!" Jari telunjuknya menunjuk sofa di hadapan. "Kamu sudah dapat uang bulanan dari anak saya belum?" "Sudah, memangnya kenapa, Bu?" jawabku heran. "Coba kasih dulu ke saya, saya mau tahu anak saya kasih duit berapa sama kamu." "Saya belum menghitungnya, Bu." "Makanya bawa sini uangnya! Biar saya yang hitung." Aku bergegas masuk ke dalam kamar dan mengambil amplop yang diberikan oleh Mas Fian tadi. Tanpa curiga, aku menyerahkannya. "Ini Bu, amplopnya." Ibu mertua secepat kilat menyambar benda putih di tanganku, mulut dan tangannya sibuk menghitung lembaran uang dengan pecahan seratus ribuan yang jumlahnya cukup banyak tersebut. "Lima juta, jumlahnya banyak banget ini." "Saya gak minta, Bu. Mas Fian yang ngasih, saya rasa standar lah Mas Fian ngasih ke istrinya lima juta." "Menurut saya jumlahnya terlalu banyak, karena kan uang untuk belanja dapur dan keperluan sehari-hari sudah ada budgetnya tersendiri, uang lima juta buat apa? Jadi kamu ambil saja dua juta, nih! Ini yang tiga juta, saya yang pegang." "Tapi Bu, saya gak mau kalau uang saya diambil tanpa alasan." "Gak usah membantah! Anak saya sudah terlalu banyak mengeluarkan uang untuk keluargamu. Sekarang kamu juga dikasih uang sebanyak ini enak banget, jadi sudah seharusnya saya mengamankan setiap uang yang dikeluarkan olehnya. Kita harus hemat. Karena kalau tidak, bisa-bisa anak saya bakalan kere diperah sama kamu." Mendengar ocehan si Nenek Gambreng yang seenaknya membuat aku naik pitam, apalagi saat ekor matanya mendelik kepadaku, ingin sekali rasanya aku cungkil. Aneh sekali kurasa, baru sehari tinggal bersama sudah menabuh genderang kepadaku. Apa salah dan dosaku sayang? Cinta suci kau buang-buang, lihat jurus yang kan kuberikan, jaran gorang, halah kok malah nyanyi sih. Ibu mertua memasukkan uang sejumlah sesuai dengan yang ia sebutkan tadi ke dalam amplop, dan daebak! Dia melemparkan amplopnya ke meja kaca yang ada di depanku. Geram, ingin sekali aku cekik sampai mati, tapi aku takut dosa dan takut masuk penjara. Sejenak aku diam mematung, membalas sorot matanya yang tajam serta menghujam jantung ini. "Jangan coba bersikap gak sopan!" Kudongakkan wajah ini, dengan dagu agak naik. "Aku gak mau nerima uang sisa itu, aku mau utuh! Itu hak aku, bukan hak Ibu." "Kamu ya, kecil-kecil udah berani ngelawan. Gak tahu diri banget, kamu tahu gak anak saya sudah habis berapa untuk maranin keluarga kamu, kamu bisa tamat sekolah dari siapa duitnya kalau bukan dari anak saya? Sehabis bangkrut, ayah kamu itu cuma penjual makanan online. Berharap para pelanggannya masih mau berlangganan, tapi gak berhasil. Ujung-ujungnya, anak saya yang direpotin." Air mata ini menggenang, bibir tipis si Nenek Gambreng terasa bagai silet yang menorehkan luka terasa sangat sakit, meski tidak berdarah tapi sungguh sangat parah. Tak ingin terlihat lemah di hadapannya, aku segera mengambil amplop itu dan masuk ke dalam kamarku. Dalam ruangan besar ini, tak kuasa menahan tangis, ingin sekali rasanya mengadu tapi kepada siapa? Mau menghubungi Mas Fian, tapi aku gak tahu kontaknya. Alhasil, aku mengurung diri di kamar seharian ini, sampai akhirnya aku terlelap tidur sampai sore hari. Suara dering ponsel mengejutkanku, panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Berharap itu Mas Fian, segera aku menjawabnya. "Halo," sapaku. "Halo, assalamualaikum Dek." "W-waalaikumsalam, ini Mas Fian bukan?" "Iya, Dek, ini Mas." "Mas, aku tunggu teleponmu dari tadi," isakku tak kuat lagi menahan perih di hati ini. "Ada apa? Kok nangis." "Cepat pulang," pungkasku tak kuat untuk bercerita. "Iya-iya, Mas sebentar lagi sampai rumah. Sudah ya, jangan nangis lagi." "Iyaa aku tunggu." Setelah menutup telepon, aku bergegas mandi dan salat ashar. Setelahnya, aku enggan keluar dari kamar. Malas bertemu dengan si Nenek Gambreng, yang mulutnya seperti kaleng rombeng. Jadinya, aku memutuskan untuk berdiam diri saja di kamar, menunggu mas Fian pulang. Sore beranjak petang, kutatap langit yang berubah warna jingga keemasan lewat jendela yang menghadap ke halaman samping bercanopi yang lumayan luas dan menyejukkan mata karena di sana berjejer rapi tanaman hias kaktus mini di dalam pot berukuran kecil berwarna putih. Itu semua koleksi Mas Fian, Bik Nani tadi sempat cerita sekilas tentang hobi berkebun suamiku. Melihat pemandangan indah itu, sejenak membuatku merasa tenang. Akhirnya, sepuluh menit menjelang magrib, sosok yang ditunggu pun datang mengetuk pintu. Tergopoh aku memburu pintu, kubuka anak kunci dan kenop. Untuk kali pertama, aku merasa senang melihatnya. Bukan karena aku cinta, tapi karena aku merasa dia adalah malaikat penolong buatku. Tanpa tersenyum, aku mencium punggung tangannya. Dia mengelus puncak kepalaku dengan lembut penuh kasih sayang. Usai menutup pintu, tidak menunggu ia berganti pakaian aku langsung mengadukan perbuatan ibunya tadi pagi. "Masa uang aku yang dari Mas Fian diambil dia, Mas." "Bukan dia, Dek. Tapi, beliau." Tangisku semakin kencang, saat anak dari si Nenek Gambreng ini bukannya membela dan membuatku tenang, malah sibuk meralat sebutan untuk ibunya. "Mas!" pekikku dengan derai air mata semakin deras. Aku bangkit dan berjalan menuju lemari pakaian, kutarik koper di sudut kamar. Mas Fian tidak membuang waktu, dengan tegas dia menutup resleting benda kotak berwarna abu tua tersebut dan menyimpannya kembali ke tempat semula. "Dek Amel mau apa?" "Ya mau pulang, masa iya mau berenang." Mas Fian tetap bersikap tenang, dia merengkuh kedua bahu yang bergetar ini kemudian merangkulnya dan membawaku duduk di tepi ranjang berukuran king itu. "Jangan begitu, Dek. Jangan pernah keluar dari rumah ini tanpa izin dari Mas! Apalagi sampai pulang ke rumah Ibu dan Bapak, kalau ada masalah sebaiknya kita bicarakan baik-baik. Gak kaya gini, sarkas." "Habisnya Mas, bukannya belain aku malah ngoceh gak jelas." "Ngoceh apa? Ini soal uang, kan? Nanti Mas ganti uangnya. Sudah-sudah jangan nangis lagi." "Bukan minta diganti uangnya, Ibu Mas Fian jahat!" "Jangan bicara seperti itu, Dek! Gak ada orang tua yang jahat. Tolong jaga bicaramu, gak baik bicara seperti itu tentang Ibu." Mendengar nada suaranya mulai meninggi aku pun diam, nyaliku ciut dan seketika tangisku berhenti. "Sudah ya, masalah ini jangan diperpanjang, nanti Mas ganti uangnya." Aku bergeming, mendorong tubuhnya yang erat memelukku. "Bersiap salat magrib ya, Mas mau mandi dulu." Mas Fian bangkit, sebelum beranjak dia membalikkan tubuhnya. "Jangan pernah lagi menyebut Ibu dengan sebutan yang gak baik ya, Dek!" "I-iya, Mas." Meski gondok, aku mengiyakan. Mas Fian berlalu masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkanku yang masih melongo karena terkejut mendengar ucapannya. Sumpah, aku menyesal sudah mengharap pembelaan darinya. Karena bukan rasa tenang yang aku dapatkan, malah tambahan luka. Nestapa dan malang benar nasibmu, Mel. 'Ibu sama anak sama aja, sama-sama judes dan galak. Amit-amit jabang bayi,' rutukku. -Bersambung-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD