Ketika adzan magrib berkumandang aku segera berwudhu di kamar mandi luar, dan menunaikan salat tanpa menunggu Mas Fian yang masih ada di dalam kamar mandi.
"Kok salat sendiri?" ucapnya, usai aku mengusap kedua telapak tangan ke wajah.
Aku menoleh tapi tidak menjawab, hanya mencium punggung tangannya saja. Pura-pura tidak mendengar ucapannya, aku santai saja membuka dan melipat mukena yang barusan kupakai.
Mas Fian berganti pakaian dan bergegas salat, ia terlihat tampan dengan stelan koko putih dan sarung berwarna hijau.
Namun tetap saja hatiku belum bisa lope lope sama dia, bagiku dia hanya sebagai orang yang selama ini menolong keluarga kami dari kesulitan keuangan, tidak lebih.
Aku menyibukkan diri dengan membaca majalah yang ada di meja kerjanya Mas Fian, walaupun isinya tidak menarik tapi tidak ada hal lain yang dapat aku kerjakan selain itu.
Mas Fian memutar kursi yang sedang aku duduki, sehingga kini posisiku berhadapan dengannya.
"Dek, tolong belajar bersikap dewasa. Kamu sekarang bukan seorang anak dari Ayah dan Ibu lagi, kamu sekarang seorang istri. Gak baik kalau apa-apa selalu mengandalkan ego dan emosi."
"Ah, aku gak pernah mau menjadi seorang istri secepat ini, usiaku baru 19 tahun itu pun nanti bulan Mei. Kalau Mas gak suka sok weh ceraikan aku, biar aku pulang ke rumah Ayah dan Ibu. Nanti aku akan kerja dan membayar semua uang yang sudah Mas keluarkan untuk kami."
"Jaga bicaramu, Dek! Pernikahan adalah perjanjian manusia kepada Allah untuk menjaga pasangannya sampai maut memisahkan. Bukan permainan yang dapat disudahi ketika merasa marah atau bosan."
"Pokoknya aku gak betah di sini, aku mau pulang saja ke rumah Ibu. Tujuan Mas menikah, kan ingin meniduri aku, jadi Mas kalau sedang 'mau' datang saja ke sana maka, aku akan melayani sampai Mas puas."
"Astaghfirullah, ucapanmu kasar sekali, Dek! Kamu anggap aku cowok apa ini apa itu, eh ... kamu anggap aku ini laki-laki macam apa?"
"Laki-laki yang mengharap budi baiknya dibayar kembali, dengan menjadikan aku sebagai istrinya."
"Cukup, Dek! Ucapanmu sudah lewat dari batas, ini semua masalah uang kan? Biar Mas ganti, kamu mau berapa? Bilang saja!"
Mas Fian bergegas membuka brankas kecil di dalam lemari lemari pakaiannya, lalu ia mengambil segepok lembaran rupiah pecahan lima puluh ribuan. Uang itu diberikannya kepadaku, aku menunduk tidak menerima uang yang disodorkannya. Karena aku diam saja, akhirnya Mas Fian melemparkan uang itu ke pangkuanku.
"Jika kamu marah meracau kemana-mana hanya karena uangmu tadi diambil Ibu, maka sekarang Mas ganti lebih supaya kamu diam dan bisa berpikir lebih jernih."
Mas Fian berlalu meninggalkanku, ia membuka pintu kamar dan pergi keluar. Selepas kepergiannya aku kembali menangis, posisiku di sini serba salah. Orang-orangnya begitu menjengkelkan.
Uang yang diberikan Mas Fian tidak kusentuh, kurebahkan tubuh dan kutahan sebisa mungkin rasa lapar yang sudah tidak tertahan ini. Sedari tadi siang aku belum makan apa-apa, hanya sarapan nasi goreng sedikit dengan teh manis.
Kupejamkan mata, berharap semua rasa sedihku hilang tapi tak bisa, air mata ini terus saja keluar membasahi pipi. Lama kelamaan, rasa lapar sudah berubah menjadi mual, sekujur tubuh sudah mengeluarkan keringat dingin, tangan dan kakiku gemetar.
Tapi aku tetap bergeming, akan kutahan sampai besok. Saat subuh tiba ketika semua orang masih berada di dalam kamarnya aku akan makan.
Beberapa jam kemudian kudengar suara pintu kamar dibuka lalu kemudian ditutup kembali, sepertinya itu Mas Fian. Aku memejamkan mata berpura-pura tidur.
Dia duduk di sampingku, tangannya membelai rambut, kemudian mengusap pipi berusaha untuk membangunkanku.
"Dek, bangun!"
Aku masih tetap diam seolah-olah aku sudah terlelap, kemudian ia menepuk-nepuk pelan tanganku.
"Dek! Bangun dong sebentar!"
Aku mengerjap dan membuka mata perlahan, penasaran ingin tahu mau apa dia membangunkanku.
"Apa?" jawabku dengan nada masih terdengar kesal.
Kira-kira apa yang mau Mas Fian bicarain sama aku?
"Dek Amel belum makan, makan dulu yuk!"
"Aku gak lapar."
"Bik Nani bilang, katanya Dek Amel belum makan sedari siang tadi. Jangan begitu Dek, kalau gak makan nanti sakit."
"Biarin aja aku sakit, toh percuma juga aku hidup di rumah ini. Berasa jadi boneka yang diatur, gak boleh begini, gak boleh begitu."
"Mas minta maaf, kalau sikap dan perkataan Mas tadi terlalu keras padamu. Mas juga minta maaf atas sikap Ibu padamu. Sekarang makan dulu, yuk!"
"Enggak mau Mas, aku males ketemu Ibu. Nanti Ibu pasti bakalan ngatain aku ini itu."
"Enggak akan!"
"Gak mau, titik!"
"Sudah dong, Dek! Masalah kecil begini jangan dibesar-besarkan, lagian Ibu gak ada. Beliau lagi pergi ke rumah Devi, katanya akan menginap di rumah Devi beberapa hari."
Devi adalah adik Mas Fian yang lain, kakaknya Desi, Devi sudah menikah dan tinggal di luar kota.
'Pasti tu si Nenek Gambreng mau foya-foya habis dapet duit hasil malak tiga juta. Tahu dia kagak ada, gue keluar dari tadi. Lapar gak ketahan, ckck.'
Mendengar hal itu hatiku langsung riang gembira dan berbunga-bunga, akhirnya untuk beberapa hari ke depan aku terbebas dari emak judes itu.
Aku bangkit dari peraduan dan mengiyakan ajakan Mas Fian untuk makan malam.
Mas Fian tersenyum senang, karena akhirnya aku bersedia untuk makan. Kami berjalan menuju dapur beriringan, sesampainya di ruang makan ia menarikkan kursi untukku. Sungguh romantis dan manis, jika yang melakukan hal itu adalah sang pujaan hati.
Begitu pula saat aku sudah duduk, ia sibuk menyiduk nasi dan menuangkannya ke dalam piring, lengkap dengan sayur dan lauk.
"Mau Mas suapin?"
Aku terkejut bukan main, si Bandot Tua benar-benar sok romantis. Idih-idih, dikiranya aku bakalan tersanjung kali. Boro-boro ah, yang ada kuping ini terasa gatal dibuatnya.
"Kok ngelamun, Dek?"
"Eh, eng-nggak, kok. Ini mau makan, habis baca doa dalam hati." Jago kali aku ngeles, haha.
Tanpa diduga, sendok yang sedang kupegang diambilnya. "Mas suapin aja, ya? Supaya Dek Amel makannya banyak," ucapnya sambil menodongkan sesendok nasi lengkap ke depan mulut ini.
"Gak usah Mas, aku bisa makan sendiri," tolakku, sumpah tingkah si Bandot Tua bikin bergidik ngeri. Lebih ngeri dari ngelihat siluman kolor ijo.
Aku tidak terenyuh dengan sikap manisnya. Aku benar-benar tidak ada rasa sama dia, jadi semua sikapnya itu terlihat lebay di mataku.
"Ya udah kalau gitu kita makan sepiring berdua ya, supaya lebih romantis, hehe ... waktu Mas dengar Dek Amel belum makan, bikin nafsu makan Mas hilang. Mas juga belum makan."
'Gileee ckckck ini Bandot sok abegeh banget gayanya, ih geli banget gue dengernya. Ya Allah, ampuni dosa hamba yang selalu menghina lelaki di sampingku ini, tapi memang tingkah lakunya bikin ilfeel sih."
Aku tidak menjawab ide songongnya, segera aku ambil sendok sebuah lagi. Kami pun makan malam bersama sepiring berdua, seperti lagu dangdut legendaris yang dinyanyikan IDA LAILA. Jadul banget ya selera musik aku? Jangan salahin apalagi ngetawain, Mak othornya gak gahuls, gak doyan K-pop, wkwkwk.
Seandainya aku punya rasa cinta padanya, sumpah makan malam kali ini sungguh sangat romantis.
Si Bandot Tua makan dengan lahapnya, sesekali ia mencuri pandang kepadaku. Pernah sekali kutangkap netranya fokus pada buah d**a yang ranum karena kerah kaus yang kukenakan rendah, pikiran ini jadi kalut.
Aku jadi membayangkan hal mengerikan, feelingku setelah makan malam ini, pastinya dia akan meminta 'jatah' lagi. Dan, itu artinya aku kudu, wajib, harus, bersiap diri untuk menahan rasa jijik saat tubuhku disentuh olehnya.
Reflek aku bergidik, bulu-bulu yang ada meremang seketika seperti sedang didekati oleh makhluk astral.
???
-Bersambung-