Cerita selanjutnya usai makan malam pun sesuai dengan terkaanku, si Bandot Tua kembali memberikan kode akan memberikan nafkah batin.
Begitu sampai di dalam kamar, ia mematikan lampu utama dan menyalakan LED dengan pencahayaan redup remang, kaya di warung esek-esek gitu, hehe.
Dengan remote kecil di tangan, ia mengatur lampu-lampu canggih yang tertanam di langit-langit yang mewah nan indah itu.
Aku yang berpamitan untuk menggosok gigi dan mencuci muka, pun sejenak duduk di atas closet. Jantungku lagi-lagi bertalu kencang, kalau kata Ahmad Dani sih di lagunya, "Berdetaknya lebih cepat, seperti genderang mau perang.", otak ini berpikir keras dengan cara apa aku bisa menolak keinginan Mas Fian.
Jemari saling bertautan satu sama lain, rasa tegang yang menyergap diri sungguh hebat sehingga suhu tubuh memanas tapi menggigil, alias meriang binti panas dingin.
Lamunanku buyar saat kaca pintu kamar mandi diketuk tiga kali, aku terkesiap dan akhirnya memutuskan untuk pasrah. Usai menggosok gigi, segera aku keluar sampai malas untuk cuci muka.
Langkahku gontai mendekati peraduan, Mas Fian yang awalnya sedang menonton televisi di sofabed pun bangkit. Sosoknya yang mendekat, membuat raga ini semakin ketakutan. Ingin sekali aku berkata jujur, tapi takut dosa.
Lagi-lagi karena takut dosa, aku kembali mengorbankan diri.
Aku bergeming dan memejamkan mata, saat bulu-bulu halus di dagu dan pipi samping menusuk lembut leherku. Embusan napasnya memburu, aku bisa rasakan itu.
Kedua tangannya menyelusup melingkar di pinggang, suara baritonya rendah pelan berbisik di telinga ini. "I love you," katanya.
Ungkapan cintanya tidak kurespon, tapi walau begitu ia tidak merasa terganggu. Tangannya menarik d**a ini masuk hingga tubuh kami rapat, tiada lagi jarak. Sekuat tenaga aku tahan air mata, saat merasakan bagian bawah kaus ini ia singkap ke atas.
Ia mencumbui dengan mesra dan lemah lembut, aku tetap diam saja. Entah ia merasakan sikap dinginku atau tidak, aku tidak peduli. Yang penting buatku hanya menunaikan kewajiban seorang istri.
Setiap sentuhan dari bibir dan tangannya yang lembut di tubuhku, tidak membuat gairahku naik. Segala kebaikan juga perhatiannya, juga tidak dapat meluluhkan hati ini.
Sampai detik ini aku belum mencintainya, mungkin tidak akan bisa mencintainya. Karena pernikahan ini kulakukan dengan terpaksa. Aku tidak ubahnya bagai agunan, yang dilelang karena hutang.
?
Hari-hari yang kulalui tanpa si Nenek Gambreng sangat tenang dan tenteram, tapi aku juga harus mengelus d**a untuk bersabar menghadapi sikap si Bandot Tua yang sangat pembersih dan teratur.
Segala sesuatu harus bersih, higienis, tersimpan rapi di tempatnya. Aku yang ceroboh dan seenaknya, pasti akan selalu kena ocehannya setiap hari.
Entah dari almarhum ayahnya atau si Nenek Gambreng yang judes itu, ia mewarisi sifat perfectionist yang menyebalkan.
"Dek, kenapa sandal jepitnya gak disusun rapi?" Saat aku sudah gak tahan masuk ke dalam kamar mandi, karena kebelet sakit perut. Sandal jepit yang wajib dikenakan di dalam rumah, begitu saja terhambur di di atas keset.
"Dek, kalau nonton malam, tivinya ditimer supaya gak boros listrik dan menyala sampai pagi. Dan remotenya jangan ditaro di mana aja, apalagi tercecer di sofa, kalau kedudukan gimana? Bisa patah, rusak pasti itu."
"Dek, ini kapas bekas pakainya kok nyelip di ujung rak akrilik tempat lipstik kamu? Ini kotor, Dek. Jangan jorok dong, Dek! Belajar bersih, supaya rapi dan enak dilihat."
"Dek, lihat deh sini! Botol kosong samponya, masih ngegeletak di atas wastafel, padahal tempat sampah ada di bawah wastafel, emang gak bisa ya lempar bentar itu botol ke tempat sampah?"
"Dek, kursi putarnya dihadapin lagi masuk. Jangan kaya gitu, jadinya gak rapi."
Dan, masih banyak lagi komplainan lainnya. Sehingga membuat aku selalu naik pitam tidak terima, adu mulut, berujung perselisihan yang sengit.
Meskipun di ujung perdebatan aku selalu menang dan Mas Fian minta maaf, tapi tetap saja aku muak dengan segala peraturan yang saklek itu.
"Udah, Dek! Jangan ngambek gitu, Mas kan ngasih tahu demi kebaikan Dek Amel juga."
Aku yang sedang duduk di sofa sembari melipat kedua tangan di depan d**a, pun membuang muka saat si Bandot Tua mendekati. Cekcok yang terjadi beberapa saat yang lalu, gara-gara aku lupa menaruh BH kotor ke dalam keranjang cucian.
"Dek, ini loh BHnya," teriaknya sembari keluar menunjukkan dalaman berbusa warna merah cabai, terburai.
Wajahku yang sedang dipoles bedak pun, seketika merah padam. Malu bukan main, saat perkakas rahasia diumbar di depan pembaca KBM oleh si Bandot Tua itu.
Aku yang murka segera bangkit, menyambar benda keramat tersebut dan melemparkannya ke dalam keranjang cucian kotor di sudut ruangan dekat pintu kamar mandi.
"Ngapain sih harus dikiwir-kiwir? Bikin malu aja, emang gak bisa ya Mas lemparin aja ke keranjang itu? Tinggal buka pintu, tongolin muka dikit terus masukin deh kutangnya." Aku muntab, tak lagi kalem seperti sebelum-sebelumnya.
Si Bandot Tua yang merasa bersalah, pun berusaha mencegah langkahku yang hendak berlalu keluar meski tubuhnya masih basah dengan rambut penuh busa sampo.
Aku menepis tangannya kasar, tak ada lagi mimik tidak enak. Tindakannya kali ini, sungguh di luar toleransi. Amit-amit jabang bayi, kok ada ya manusia macam si Bandot Tua itu!
"Mas tadi cuma nunjukkin, kalau Dek—"
"Kalau Dek Amel ceroboh dan jorok? Mas komplain itu udah sering, tinggal bilang aja nanti saat habis mandi. Ngasih tau baik-baik kalau tadi Mas nemu kutang ngegantung di kamar mandi, lain kali jangan kaya gitu ya, Dek. Bisa kali bilang kaya gitu? Kan enak didengernya," sungutku mendelik padanya.
Akhirnya kutinggalkan dia yang melongo, bertelanjang d**a. Aksi ngambek pun berlanjut hingga di meja makan, aku bersikap tak ramah padanya. Lagian jujur ya, aku enek loh sandiwara pura-pura baik sama dia. Gimana sih ya rasanya itu? Ah enek banget pokoknya mah.
Setelah makan malam, aku duduk santai di sofa besar empuk yang ada di ruang tengah. Saat itu, si Bandot Tua kembali mendekati.
"Jangan ngomong terus, sih!
"Iya, maafin Mas, ya!"
"Halah, kemarin-kemarin juga gitu, abis minta maaf besok lusa gitu lagi. Komplain mulu bisanya."
"Iya, Mas janji gak akan bersikap kaya tadi lagi. Mas akan kasih tau Dek Amel baik-baik, kalau nemuin hal yang gak sesuai."
"Au ah, bosen."
Si Bandot Tua menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, lalu kemudian merengkuh pundak ini. Sekilas ia mengecup pipi, dan kembali merajuk.
"Sebagai permintaan maaf, gimana kalau kita makan malam di luar?"
Aku menggeleng tegas.
"Kita ke mal, jalan-jalan, shoping. Katanya Dek Amel kepingin beli handphone baru."
Kepala ini aku gelengkan kembali.
"Ya udah, kita ke rumah Ayah."
"Baru kemarin kita ke sana, lagian ini udah lewat isya, sampai sana mau ngapain udah larut? Nyape-nyapein badan."
"Ya udah, iya. Terus Mas harus gimana? Supaya Dek Amel mau maafin Mas."
Aku memutar bola mata, tiba-tiba ide cemerlang datang. Senyuman mengulas, saat mulut ini mulai terbuka untuk bicara.
"Ada satu permintaan yang harus Mas Fian penuhi!"
"Apa? Katakan!"
"Tapi janji dulu, Mas harus mengabulkannya!"
"Kalau permintaannya masuk akal, insya Allah Mas akan sanggupi."
"Aku mau kuliah," pintaku mantap.
Wajah si Bandot Tua pun seketika kuyu, sepertinya dia gak suka dengan permintaan sederhana itu.
"Kenapa?" tanyaku sinis.
"Gak ada permintaan lain apa?"
Alih-alih menjawab, si Bandot Tua malah bangkit dan berlalu meninggalkan aku sendiri di ruang tengah.
"Mas! Mas ...."
"Aaaaaaargh," gumamku kesal.
Kulihat punggung kekar itu menjauh, menuju teras. Tidak lama samar-samar kudengar, suara Pak Ahmad -security- yang bekerja di rumah ini, berbincang dengan si Bandot Tua.
Aku yang kesal dan gondok, pun hanya bisa mencebik sendiri, tontonan seru di layar televisi menjadi garing terasa.
Apalagi waktu suara gelak tawa si Bandot dan Pak Ahmad terdengar, benar-benar bikin kepalaku pusing.
Kuraih remote dan kumatikan televisi layar datar berukuran jumbo di hadapan, dengan gontai aku masuk ke kamar. Dan merebahkan diri, dalam sekejap mata ini terpejam.
Aku mengerjap saat tangan si Bandot Tua melingkar di pinggang, sudah jadi kebiasaan memang setiap tidur dia harus bersentuhan denganku.
Si Bandot sangat suka tidur dengan posisi memeluk aku dari belakang, katanya hangat dan nyaman. Awalnya aku keberatan dan risih, tapi lama kelamaan terbiasa.
Dalam keadaan baik atau marahan, posisi tidur kami selalu begini.
???
-Bersambung-