Pagi ini, aku enggan beranjak dari tempat tidur. Tamu bulanan yang bertandang, membuat tubuh ini berat untuk bangun walau sekadar hanya menemani suami yang menyebalkan itu sarapan pagi.
Tingkah si Bandot Tua semalam, tidak bisa aku maafkan. Pokoknya aku mau kuliah, titik!
Aku akan cari cara, supaya bisa diizinkan kuliah. Lagian aneh, istri mau belajar kok gak boleh. Amit-amit kan?
Kayanya dia takut, aku yang masih unyu-unyu dan cantik ini ada yang naksir. Secara di lingkungan kampus, akan banyak mahasiswa muda yang tampan, muda, juga keren yang aku temui. Jelas wajar dia merasa gelisah memberi izin, dia kalah telak karena usianya sudah banyak.
Ah, picik memang pola pikir si Bandot Tua ini. Gak mau rugi, secara aku ini kan dibeli. Otomatis dia ngerasa aku miliknya secara utuh, sehingga aku bisa diperlakukan seenak dia. Gak boleh bergaul dan mengenal dunia luar, cukup berkutat di dapur, sumur, dan kasur.
"Aku harus merengek lagi," gumamku.
Aku segera bangkit, dan merapikan rambut ini. Kulihat si Bandot sedang melipat sejadah, usai melaksanakan salat subuh.
Aku ngacir sebentar ke kamar mandi, untuk cuci muka dan gosok gigi. Jangan sampai saat aku bicara nanti, menimbulkan bau got yang berasal dari mulut ini. Nanti si Bandot bukannya kasih izin, malah malah ngasih materi kuliah subuh.
Lima menit kemudian, wajah dan mulut ini sudah segar. Bergegas aku mendekati si Bandot yang sedang duduk di kursi kerjanya, berkutat dengan leptop di atas meja.
"Mas," panggilku.
Jemari si Bandot yang sedang menari-nari di atas keyboard pun berhenti, ia memutar kursi yang sedang didudukinya. Mendongak menatapku lekat.
"Iya, Dek. Ada apa?"
"Mau bahas soal semalam," kataku menggantung.
"Yang mana? Soal BH?"
"Bukan, bukan masalah itu, Mas."
"Yang mana, dong?" tanyanya berlagak bego.
"Soal kuliah."
Dengan wajah datar, ia memutar kembali kursinya, kembali mengurusi pekerjaannya di layar leptop.
"Mas!" bentakku.
Si Bandot bergeming. Benar-benar menjengkelkan.
"Mas, boleh gak aku kuliah?"
"Dek, Mas lagi banyak kerjaan. Ini lagi ngerevisi materi untuk meeting."
"Mas jahat!" Aku berlalu, kembali beranjak ke tempat tidur.
"Lihat aja, aku bakalan mogok makan kalau sampai Mas kaya gini terus," isakku meraung.
Bukannya menjawab atau menanggapi ancamanku, si Bandot malah terus fokus pada layar leptopnya. Bikin emosi jiwa memang tingkahnya itu manusia.
'Bandot Tua i hate you!'
Kekesalanku pada si Bandot Tua, kuceritakan pada Bik Nani. Wanita bertubuh tambun itu malah terkikik, seperti turut bahagia di atas penderitaanku ini.
"Bibik, ih!"
"Hehe, maaf Neng Amel, habisnya Neng Amel dan Mas Fian lucu sekali."
"Gak lucu, Bik. Nyebelin dia itu, dasar Batu. Bandot Tua!"
"Hush, Neng Amel! Gak boleh ngatain suaminya kaya gitu, dosa."
"Ya habisnya, Bik, dia itu jahat banget sama saya."
"Mungkin Mas Fian memang benar-benar lagi banyak pekerjaan, Neng."
"Ah emang sengaja dia itu, Bik. Takut kali, kalau saya bakalan selingkuh sama mahasiswa di kampus."
"Wajar Neng, Mas Fian punya ketakutan kaya gitu. Mas Fian kan suaminya Neng Amel, punya perasaan sayang dan juga cinta. Pastinya Mas Fian sangat takut kehilangan Neng Amel," tutur Bik Nani.
"Ah, gak masuk akal, Bik. Saya kan niatnya mau kuliah bukan mau pacaran."
"Coba bicara lagi, tapi jangan sambil marah-marah, Neng. Pakai taktik dong."
Aku menghampiri Bik Nani, kulingkarkan tangan ke bahunya. Kupelankan suara bertanya padanya tentang strategi yang dimaksud.
Bik Nani tersenyum, pisau di tangan ia taruh di talenan. "Mau minta sesuatu sama suami itu ada caranya, Neng. Lihat dulu situasi, sedang senang atau enggak. Kalau dilihat rautnya kaya orang senang biasanya akan mudah mengiyakan. Tapi kalau lagi capek atau pusing, bukannya dikabulkan malah yang ada dicuekin."
Aku manggut-manggut tanda mengerti apa yang diucapkan Bik Nani. "Akan saya coba, Bik."
"Nah, gitu dong! Jangan pakai urat terus, Neng. Capek, hehe."
"Habisnya ngeselin, sih. Makanya saya selalu naik darah dibuatnya."
"Biar gak darah tinggi, gimana kalau kita ngerujak yuk! Di kulkas ada mangga dan timun," ajak Bik Nani, langsung kuiyakan tanpa berpikir lama.
Bergeraklah kami dengan tugas masing-masing, aku mengeksekusi mangga mengkal dan timun. Sedangkan Bik Nani mengulek bumbu yang terdiri dari kacang tanah, gula merah, dan asam jawa.
Tidak lama kemudian, rujak uleg pun siap disantap. Karpet berukuran 1x1 meter digelar di teras halaman belakang, menghadap ke kolam renang yang di sampingnya ditumbuhi oleh tanaman bunga hias berwarna-warni yang sedap dipandang.
Kami menyantap makanan segar dan pedas itu sambil berbincang akrab, rasanya aku sangat senang ditemani oleh Bik Nani yang baik dan punya selera humor yang tinggi. Entah apa jadinya hidupku kalau tidak ada asisten rumah tangga ini, pasti sepi dan semakin depresi.
Di saat irisan mangga dan timun tinggal sedikit, tiba-tiba bel rumah berbunyi berkali-kali. Aku hendak bangkit, tapi Bik Nani mendahuluiku.
"Bibik saja, Neng," katanya.
Sepeninggal Bik Nani, aku pun segera membereskan piring dan cobek. Lalu mencuci tangan di wastafel, rasanya penasaran siapa yang bertamu siang-siang begini.
Beberapa saat kemudian aku mendengar suara cekikikan dua orang wanita, aku berjalan jinjit ke ambang pintu batas antara ruang tengah dan lorong menuju dapur. Suara misteri itu, tidak lain adalah suaranya si Nenek Gambreng dan Desi, adik iparku.
Alamak! Kiamat kecil akan dimulai kembali, sudah enak dan tenang hidupku tanpa kehadiran si Nenek Gambrang yang galak dan tamak itu, eh sekarang dia nongol.
Setelah hampir satu bulan mereka tinggal di rumah Devi, akhirnya kembali lagi. Aku meraup wajah kasar, perasaanku langsung saja tidak enak. Karena dengan adanya si Nenek Gambreng, itu berarti keamananku akan terancam kembali, hadeuh maksud hati makan rujak untuk menghilangkan pusing tapi apa daya penampakkan dia bikin ini kepala jadi pening kembali.
Aku berdiri komat-kamit, membacakan surat pendek sebagai penolak bala dan pengusir jin juga makhluk halus, hehe. Setelah tidak ragu, aku pun berjalan menghampiri si Nenek Gambreng dan Desi. Kucium tangan ibu mertuaku, aku mencoba bersikap ramah dengan mengulas senyuman termanis yang aku punya. Eh apa coba yang dia lakukan? Dengan sinis dia mendelik dan mencebik. Amit-amit, kok ada ya manusia kaya gitu.
Aku tidak peduli dengan sikapnya yang sinis, masa bodo dengan semua itu. Merasa dicuekin aku segera berlalu meninggalkan mereka, memutuskan untuk bersemedi saja di kamarku.
Namun belum jauh kaki ini melangkah, tiiba-tiba si Nenek Gambreng memanggilku.
"Ada apa bu?" jawabku dari kejauhan.
"Sini dong, kalau dipanggil!"
Aku mengalah, aku menghampirinya dengan cara mundur.
"Iya ada apa, Bu? Ini aku sudah di depan Ibu."
"Kemarin katanya ada kiriman dari adik saya, Shila, ya?"
"Iya, Tante Shila kemarin mengirim kado. Kenapa memangnya, Bu?"
"Coba sini saya lihat, apa kadonya!"
"Mau diapakan, Bu? Mau Ibu ambil? Itu kado untuk saya dan Mas Fian, kado pernikahan kami."
"Eh lancang banget kamu ya mantu, sadar gak kalau Shila itu adik saya. Jadi saya berhak mengambil pemberian darinya, seandainya memang barang itu saya suka."
"Astaghfirullah, Bu. Ibu kok gitu banget sama saya, salah saya apa sama Ibu? Segala sesuatu yang saya dapat, ibu selalu ingin merebutnya."
"Kamu gak usah banyak bicara, bawa saja sini kadonya!"
"Maafin saya Bu, saya gak akan memberikan pemberian dari Tante Shila karena itu hak saya, jadi saya berhak menolak pemaksaan yang Ibu lakukan kepada saya."
Tanpa diduga, Desi yang tadi sedang asik mengutak-atik ponselnya itu berdiri dan menatap tajam kepadaku.
"Kok kamu kasar sih sama Ibu? Aku bilangin ke Mas Fian, tahu rasa kamu, Mel."
"Apa kamu bilang Des? Yang mulai duluan siapa? Kok kamu malah nyalahin aku?"
"Kamu harus tahu Mel, semenjak mas Fian menikah sama kamu, dia jadi pelit kepada kami. Tiap kali minta duit selalu ditanya untuk apa, pasti semuanya kamu yang ada dibalik perubahan sikap Mas Fian. Dulu dia gak gitu! Tanpa kita minta, duitnya selalu ngalir."
"Kalau ngomong dipikir dulu pakai otak, dong! Soal Mas Fian jadi pelit, kenapa kamu gak nanya langsung sama dia? Kenapa beraninya di belakang, ngoceh bau jigong sama aku?"
Desi yang tidak terima dengan ocehanku naik pitam, ia melempar remote tivi yang tergetak di atas meja kaca. Secepat kilat aku menghindar, kalau tidak bisa-bisa ini kepala boncos dibuatnya.
"Dasar orang gila!" cacinya padaku.
Aku ingin dan bisa saja melawan mereka, tapu aku berpikir lagi, aku tidak ingin terbawa menjadi sinting seperti mereka.
Akhirnya dengan emosi yang tertahan, aku meninggalkan anak dan emak yang sama stresnya.
Pintu kamar kubanting dan sengaja aku kunci supaya si Nenek Gambreng atau anaknya, tidak bisa seenaknya masuk. Di dalam kamar yang hening ini, aku menangis dalam kesendirian.
Di rumah ini kehadiranku tiada arti, baik oleh Mas Fian, Ibu, maupun Desi. Mereka setali tiga uang, sama saja kejamnya. Hanya Bik Nani yang baik, tapi mustahil juga aku bisa menceritakan semua kepadanya.
Aku menangis hingga sesak d**a ini kurasa, hidungku sampai mampet dan terasa panas. Kalau gak ingat pesan Ayah, ingin rasanya aku minggat meninggalkan rumah mewah yang terasa bagai neraka ini.
Lelah menangis, aku baringkan tubuh memeluk guling. Melamun menatap lemari kaca, yang memantulkan sosok rapuh di sana.
???
-Bersambung-