Kudekati Mas Fian yang sedang serius menonton acara berita di televisi, dalam posisi telungkup aku naikkan kepala ke atas ujung sandaran sofabed yang diduduki olehnya. "Mas," panggilku. "Iya, Dek." Dia menjawab tanpa menoleh saking seriusnya. Ragu-ragu tapi pasti aku memberikan sebuah brosur, ia membuka dan kemudian membacanya. "B-boleh ya?" tanyaku tak patah arang. "Pasca lulus S1 nanti, memangnya Dek Amel mau kerja?" "Kalau ada pekerjaan yang bagus, kenapa enggak Mas." "Dek, Mas itu sebenarnya gak pernah ngelarang Dek Amel untuk kuliah, tapi kalau niat kuliah dengan tujuan berkarir Mas gak setuju sampai kapan pun." "Mas jangan egois, dong! Emansipasi wanita, Mas." "Mas ini kepala rumah tangga, tulang punggung keluarga, selama Mas sehat maka Mas yang akan bekerja mencukupi kebut

