"Gila, lu!" maki Ricca membanting tasnya dengan kasar. "Kesambet setan apa, lo?" tanyaku heran padanya yang bersungut kepadaku tanpa alasan yang jelas. "Elo yang kesambet setan, Mel." Dia mendekati dengan mata menyalak, aku yang bingung mengernyitkan dahi ini. "Apaan sih, lo? Gak ada angin gak ada ujan, dateng-dateng langsung marah." "Wajar gue marah, gue ini sahabat lo!" "Iya marahnya kenapa? Yang jelas dong kalau ngomong," seruku mulai kesal. "Dimas!" Mataku terbelalak tak percaya, hubungan yang kututup rapat selama enam bulan terendus juga oleh Ricca. "Kenapa dengan Pak Dimas?" "Pak Dimas? Oh, pinter ya lo ngeles. Dasar cewek murahan," makinya membuat aku geram. Aku menggebrak meja tidak terima, kutunjuk mukanya yang tidak ramah. "Elo gak pernah ngerasain apa yang gue rasain

