Bik Nani lari tergopoh menghampiri lalu memunguti pecahan mangkuk. "Maaf, Bik. Kepala aku tiba-tiba pusing lagi." Belum sempat Bik Nani menjawab, Mas Fian datang tergesa dengan wajah yang khawatir. Lalu ia merangkak ke atas ranjang, memeriksa aku yang berlagak pusing memejam mata dan menutupnya dengan telapak tangan. "Dek Amel pusing lagi?" "Iya, Mas." Aku yang tidak ingin Mas Fian kembali lagi ke ruang tamu untuk menemui Dimas, pun langsung memeluknya erat bersikap seolah-olah aku kesakitan dan butuh dia. "Pusing sekali, Mas," isakku sangat meyakinkan. Mas Fian mencium puncak kepala ini, itu suatu tanda kalau di antara dirinya dan Dimas belum ada percakapan yang menjurus ke titik yang bisa menyudutkan aku. Lega kurasa, sekarang tinggal mencari cara untuk membuat Dimas segera pulan

