Suara burung berkicau, membelai lembut pendengaran Alice yang masih terlelap di pelukan Alan.
Rasanya masih terlalu pagi burung itu bersuara membangunkannya. Karena matanya masih sangat berat dan mengantuk, di tambah tubuhnya yang terasa remuk dan sakit.
"Eungghhh," lenguhan panjang sebagai tanda dirinya akan bangun dari tidurnya.
"Kenapa burung itu terus berkicau di atas pondok ini," gumamnya dengan mata yang masih terpejam.
Alice berusaha mengumpulkan segala kesadarannya, lalu bangun dari tempat tidur. Melihat sinar matahari sudah berpose cantik di atas langit, sedangkan dirinya kira burung itu berkicau terlalu pagi.
"Astaga, kenapa bisa aku bangun sesiang ini?" batinnya.
"Alan... Alan... Bangunlah, Alan. Ini sudah sangat siang," desaknya membangunkan suaminya.
"Ada apa, Alice? Aku masih mengantuk, tubuhku rasanya sakit semua," gumamnya dengan mata terpejam.
"Ini sudah siang, Alan. Langit sudah terang benderang. Kita harus menemui kelapa suku Barbaro untuk minta penjelasan darinya," ujarnya.
Sebelum mereka keluar dari pondok untuk menemui kepala suku Barbaro. Terdengar suara wanita yang memanggil nama Alice, "Basileus Alan,, Basilissa Alice,, bangun! Kepala suku ingin bertemu dengan kalian," panggilnya.
"Iya, kami akan segera datang menemuinya," teriak Alice dari dalam pondok.
Setelah di pastikan nyawa mereka sudah terkumpul, keduanya keluar dari pondok menuju Altar persembahan.
Di sana sudah berkumpul banyak orang menunggu kehadiran Alan dan Alice.
Melihat kedatangan Alan dan Alice, mereka semua berdiri dan menunduk hormat sambil berkata, "Hormat kami Basileus."
Basilues adalah gelar yang di sematkan untuk seorang laki-laki yang dapat di sepadankan dengan pangeran atau raja di suku Barbaro. Sedangkan untuk perempuan mereka menyematkan gelar Basilissa.
Satu orang laki-laki mempersilahkan Alan dan Alice duduk berdampingan tepat di bawah patung Dewa Arsena.
"Selamat datang, Basileus. Kami ingin menyampaikan hal penting yang harus anda ketahui," sapa kepala suku Barbaro
"Hal apakah itu?" sahut Alice yang lebih penasaran.
"Mengenai kalian yang sudah kami jadikan Basileus."
"Iya, tentu. Kami sangat penasaran kenapa kalian menangkap aku dan Alice, lalu berakhir menjadi suami istri seperti ini?" ucap Alan.
"Sebelum Iblis dari langit jatuh ke bumi, ada seorang peramal masa depan bernama Ignore. Dia melihat, hal buruk terjadi di muka bumi. Banyak air mata dan nyawa melayang menjadi korban. Namun anehnya, ada banyak tangisan bayi yang baru lahir menggema di seantero jagat. Bayi itu tidak seperti bayi pada umumnya, dia terlihat menyeramkan dan bahkan ada yang memiliki tanduk di kepalanya," terang kepala suku Barbaro lalu diam sejenak.
"Lalu setelah itu?" sahut Alan menunggu kelanjutan ceritanya.
"Tuan Ignore berkata, 'Mereka adalah keturunan Iblis yang akan menguasai bumi, dan akan terus melahirkan keturunan mereka melalui rahim manusia,'" lanjutnya.
"Lalu, dimana Tuan Ignore berada sekarang?" tanya Alice.
"Tuan Ignore pergi ke sebuah tempat suci untuk bertapa, meminta kekuatan langit untuk membantu memusnahkan para Iblis yang sudah menguasai separuh dari bumi ini. Tapi sebelum dia pergi, dia mendapatkan penglihatan dua anak manusia berdarah murni yang di takdirkan akan mengalahkan Iblis sampai ke akar-akarnya."
Semua orang yang berada di sana masih terdiam, menyimak penuturan dari kepala suku Barbaro itu. Karena perbuatan Iblis itu, juga mengancam keselamatan dan kelangsungan hidup mereka.
"Dan kalian lah orang yang sesuai dengan ciri-ciri orang yang di maksud oleh Tuan Ignore. Kalian juga di takdirkan akan memiliki keturunan yang akan ikut andil dalam peperangan bersama Iblis," lanjutnya.
"Setelah ini, apa yang harus kita lakukan agar bisa segera mengalahkan Iblis itu?" tanya Alan.
"Setelah Basilissa Alice sudah di nyatakan hamil dan melahirkan di sini, kita akan pergi menyusul Tuan Ignore ke tempat suci yang sangat rahasia itu. Dia sudah memberi petunjuk di setiap jalan yang sudah di laluinya," timpal kepala suku Barbaro.
"Kita bisa mempersiapkan senjata dan memperkuat diri kita, sampai waktu itu tiba," sahut pria yang berada di samping Kepala suku Noelardo.
"Aku ingin menyampaikan sesuatu yang menjadi pertanyaanku," ujar Alice.
"Apa itu Basilissa?" tanya kepala suku Noelardo
"Semalam aku bermimpi bertemu dengan ibuku yang sudah meninggal, dia memberiku buah manggis, dan menyuruhku memakan buah ini saat aku sudah hamil nanti. Tapi, buah manggis itu sungguhan nyata ada di genggaman tanganku saat terbangun. Apa maksud dari mimpiku itu Noelardo?" tanya Alice sambil menunjukan buah manggis yang sedari tadi berada di genggamannya.
"Sepertinya, para mendiang leluhurmu ikut andil dalam kelahiran anakmu nanti. Buah manggis yang di berikan ibumu lewat mimpi itu melambangkan kejujuran, ketulusan dan kegagahan dalam menghadapi kebenaran," jelas kepala suku Noelardo.
"Basilissa? bisa kau lihat dan hitung bintik yang ada di bawah buah manggis itu?" tanya pria di samping Noelardo.
Alice pun membalik buah manggis itu, dan menghitung jumlah bintik yang ada di sana, "Satu, dua, tiga, empat, lima. Bintiknya ada lima."
"Wahh, selamat Basilissa. Kau akan melahirkan lima anak dalam kehamilanmu nanti," sorak mereka kegirangan.
"M-maksudnya?" tanya Alice kebingungan.
"Bintik lima yang berada di bagian bawah buah manggis itu, menandakan jumlah anak yang akan kau kandung nanti setelah Basilissa memakan habis buah itu," terangnya.
Alice hanya bisa melongo tak percaya pada pernyataan yang di beberkan kaum suku Barbaro. Sedangkan Alan yang berada di samping Alice ikut bersorak gembira, karena akan di karuniai lima anak sekaligus dari wanita paling cantik di desanya.
"Selamat, Alice. Aku sangat berbahagia bila itu benar terjadi, akan tumbuh lima bayi di rahimmu," ucapnya lalu mencium bibir istrinya itu bertubi-tubi.
Meski baru semalam di nyatakan sudah menikah dan menyandang status suami istri dengan Alan, Alice tidak merasakan kecanggungan dalam dirinya ketika Alan menciumnya di depan banyak orang.
Justru dia merasa senang dengan perlakuan dan perhatian yang di berikan Alan. Selama beberapa minggu hidup bersamanya di dalam hutan, menumbuhkan benih-benih cinta di hati Alice terhadap Alan.
Namun, kini saingan terberatnya adalah wanita-wanita tak tau malu dari suku Barbaro yang berani-beraninya menggoda, dan dengan suka rela melempar tubuhnya pada Alan.
Memang tidak di pungkiri lagi, perubahan tubuh Alan yang lebih altetis dan maskulin, membuat wanita mana saja tergoda dan ingin merasakan di gagahi oleh tubuh Alan.
Walau ucapan Maripo yang mengatakan hanya wanita berdarah murni lah yang akan melahirkan keturunan Alan, tetap saja ada rasa cemburu menjalar di relung hatinya.
"Apa yang kamu pikirkan, Alice?" tanya Alan setelah semua orang yang berkumpul di sana bubar meninggalkan Alan dan Alice saja.
"Tidak ada! aku hanya tidak suka melihatmu di jamah oleh wanita lain selain aku!" ketus Alice.
Tawa Alan seketika pecah, mendengar perkataan wanita yang sudah resmi menjadi istrinya.
"Kamu cemburu? Itu tandanya, sudah ada namaku di dalam sini?" goda Alan sambil menunjuk d**a sang istri.
"Mana ada! Aku hanya tidak suka berbagi milikku dengan orang lain," tandas Alice salah tingkah.
"Milikmu? Berarti aku sudah resmi di terima menjadi milikmu?" lanjut Alan menggoda istrinya.
"Bu-bukan seperti itu mak,,," elak Alice terhenti karena di bungkam oleh ciuman dari Alan.
Ciuman itu semakin dalam dan menggairahkan, membuat Alice ikut larut di dalamnya, merespon setiap lumatan yang di berikan oleh suaminya.
"Ayo kita lanjutkan di dalam pondok," ajak Alan yang di jawab dengan anggukan oleh Alice.
Kedua kakinya naik dan bertaut di pinggang Alan, berjalan dan terus melanjutkan ciumannya pada Alice yang berada dalam gendongannya.